Kompas.com - 07/10/2013, 14:07 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com — Ciputra, Eka Tjipta Widjaja, dan Mochtar Riady merupakan tiga klan keluarga yang menguasai sektor properti sekaligus berkontribusi mengubah wajah Indonesia. Mereka, khususnya Ciputra, berkiprah sejak lebih dari tiga dekade silam.

Portofolio kelompok usaha yang mewujud dalam imperium Ciputra Group, Sinarmas Land Group, dan Lippo Group, tersebar di seluruh Indonesia, tidak hanya di kota-kota besar atau ibu kota provinsi, tetapi juga kota kedua dan kabupaten. Mereka membangun perumahan, pusat belanja, ruko, rukan, rumah sakit, apartemen, hotel, dan kawasan industri.

Menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, ketiga dinasti tersebut merupakan pemasok properti terbesar yang aktif sejak tiga puluh tahun lalu hingga sekarang. Karya mereka memenuhi kebutuhan kelas bawah, menengah, dan menengah atas.

"Boleh disebut, mereka adalah supply driven yang menentukan perkembangan dan pertumbuhan sektor properti Indonesia di masa lalu, sekarang maupun akan datang," ujar Hendra kepada Kompas.com, Sabtu (5/10/2013).

Mengapa tiga klan tersebut pantas didapuk sebagai penentu wajah properti Indonesia? Karena, ketiganya telah menghasilkan generasi muda yang juga memiliki kiprah serupa. Tongkat estafet Ciputra diteruskan oleh generasi keduanya, yakni Candra dan Cakra Ciputra, Rina Sastrawinata, dan Junita Ciputra. Bahkan, generasi ketiga telah dilibatkan sejak dini untuk mengelola properti-properti mereka, baik di Jakarta maupun di daerah.

Sementara kepemimpinan Eka Tjipta Widjaja beralih kepada Michael Widjaja. Setelah melalui peralihan suksesi dari Muktar Widjaja. Hal serupa terjadi pada klan Riady. Setelah era Mochtar Riady, tampuk "kekuasaan" di sektor properti kini berada di tangah Michael Riady.

Selain itu, mereka juga mampu mempertahankan kinerja keuangannya karena tak pernah henti berproduksi. Terlebih lagi, dalam tiga tahun terakhir, saat sektor properti booming, melalui tentakel-tentakelnya, ekspansi bisnis mereka lebih agresif.

Berdasarkan kinerja pendapatan dan laba bersih selama semester I 2013, Sinarmas Land mencuat sebagai yang terbesar. Mereka berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 1,818 triliun yang berasal dari PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp 1,53 triliun dan PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) Rp 288, 7 miliar.

Laba tersebut diperoleh berkat performa pendapatan yang bertumbuh menjadi Rp 3,66 triliun. Angka ini dipasok oleh BSDE sebesar Rp 2,9 triliun dan DUTI Rp 760 miliar.

Ciputra Group menempati peringkat kedua dengan laba bersih sebesar Rp 884 miliar dari ketiga anak usahanya, yakni PT Ciputra Surya Tbk (CTRA) Rp 205 miliar, PT Ciputra Development Tbk Rp 428,4 miliar, dan PT Ciputra Property Tbk (CTRP) Rp 251,2 miliar. Mereka juga berkontribusi terhadap total pendapatan menjadi Rp 3,8 triliun, masing-masing CTRA menyumbang Rp 2,48 triliun, CTRP Rp 844,6 miliar, dan CTRS Rp 544,4 miliar.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.