Harga Apartemen Mewah Capai Rp 10 Miliar Per Unit

Kompas.com - 03/10/2013, 12:35 WIB
Ritz-Carlton di Pacific Place Jakarta. www.ritzcarltonclub.comRitz-Carlton di Pacific Place Jakarta.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati pasoknya terbatas namun permintaan tinggi, harga apartemen atau hunian mewah melesat ke angka Rp 10 miliar per unit atau di atas 5.000 dollar AS per meter persegi. Angka ini merupakan terendah, karena ada beberapa pasok yang dibanderol seharga Rp 15 miliar atau 6.000 dollar AS per meter persegi.

CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, mengatakan, harga properti mewah bisa tinggi karena pasoknya terbatas. Ceruk pasarnya pun eksklusif (niche market). Di Jakarta saja, pasok baru bisa dihitung dengan jari, antara lain Raffles Residence at Ciputra World Jakarta, Langham Serviced Apartment, dan Dharmawangsa Residence.

"Mencermati tren dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan harganya pun secara umum hanya mencapai 50 persen. Besaran pertumbuhan tersebut, dihitung sejak rilis perdana hingga properti tersebut terbangun dan beroperasi. Memang ada beberapa properti yang mengalami pertumbuhan lebih dari 50 persen seperti apartemen Pacific Place yang dikelola Ritz-Carlton. Pertumbuhan harga mencapai 100 persen," papar Hendra kepada Kompas.com, Kamis (3/10/2013).

Pertumbuhan harga hunian kelas atas ini memang tidak sepesat kelas menengah yang bisa mencapai lebih dari 100 persen. Hal ini terkait dengan perilaku kalangan atas atau yang biasa disebut high net worth individuals yang tidak menjadikan properti mewah tersebut sebagai instrumen investasi satu-satunya. Mereka justru berinvestasi secara global, dan bermain di sektor berprofil tinggi.

"Kalau pun kalangan the haves ini memborong properti, kebanyakan yang dibeli adalah properti di Australia, Singapura atau Hongkong. Berbeda dengan kalangan menengah yang memburu gain serta yield tinggi. Sehingga pertumbuhan harga properti menengah melejit di atas 100 persen, bahkan sebelum propertinya terbangun," jelas Hendra.

Perilaku investasi kalangan atas, lanjutnya, sangat selektif. Mereka tidak sembarang mau membeli properti-properti, yang digadang-gadang sebagai eksklusif dan mewah. Mereka akan melihat, siapa pengembangnya, bagaimana lingkungan sekitarnya (neighborhood) dan bahkan siapa tetangganya (who's who).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X