Bisnis Perkantoran di Medan dan Surabaya? Terlalu Prematur!

Kompas.com - 12/09/2013, 18:12 WIB
Pengembangan properti di Surabaya bergeser ke wilayah Selatan dan Timur. www.skyscrapercity.comPengembangan properti di Surabaya bergeser ke wilayah Selatan dan Timur.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini, pasar perkantoran di Medan dan Surabaya masih dinilai prematur bila harus disejajarkan dengan Jakarta. Sebaliknya, bila dibandingkan dengan kota besar lainnya, Surabaya dan Medan sudah memiliki beberapa gedung perkantoran dan pantas menjadi pilihan.

Salah satu pendapat muncul dari CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono. Hendra mengatakan, ada perbedaan fundamental antara kebutuhan ruang perkantoran di Jakarta dengan Medan dan Surabaya. Sebagai ibukota Negara, Jakarta memudahkan konektivitas ke kota lain maupun luar negeri.

"Semua kantor pusat perusahaan baik Nasional maupun asing berkumpul di Jakarta, Sementara di daerah, ruang perkantoran diisi oleh pemilik. Kalaupun oleh perusahaan, biasanya di ruko dan rukan," papar Hendra ihwal potensi Medan dan Surabaya untuk sektor properti perkantoran komersial kepada Kompas.com, Kamis (12/9/2013).

Menurut dia, luas ruang perkantoran di Medan dan Surabaya berada pada kisaran 50 meter persegi sampai 200 meter persegi. Area itu tidak terlalu luas, karena pada umumnya adalah representative office karena kantor pusatnya selalu beralamat di Jakarta.

Memilih ruko

Seperti pada awal-awal pertumbuhan kantor strata di Jakarta, kebutuhan perkantoran bermula dari kenaikan harga ruko dan lokasinya semakin bergeser ke pinggiran. Saat itu, luas ruang ruko tidak kurang dari 300 meter persegi. Sementara itu, ruang kantor strata di kedua kota tersebut terletak di pusat kota dan bisa dibeli dengan unit yang lebih kecil daripada satu unit ruko.

Pascakrisis multidimensi yang melanda Asia kurun 1997/1998, terhitung tidak ada pasokan kantor baru di Medan dan Surabaya. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas. Defisit pasokan terus terjadi hingga sekarang. Akibatnya, yang tumbuh pesat adalah ruko dan rukan.

Kondisi tersebut, lanjut Hendra, menciptakan sebuah potensi dan prospek cukup menjanjikan. Pasalnya, banyak penyewa merasa sudah waktunya melakukan ekspansi atau pindah ke gedung yang lebih representatif.

Adapun profil calon penyewa atau perusahaan yang membutuhkan ruang kantor sebagai kantor cabang atau perwakilan, adalah perusahaan perdagangan (trading), konsultan manajemen, akuntan dan biro hukum.

Hal senada juga dikemukakan Direktur Ciputra Property (CTRP), Artadinata Djangkar. Menurutnya, kebutuhan perkantoran di Medan dan Surabaya memang sudah ada, namun masih sangat tipis. Pengusaha masih suka berkantor di ruko atau rukan.

"Dengan demikian aktifitas sewa perkantoran masih rendah, akibatnya hasil pengembalian investasi tidak sebaik di Jakarta," kata Artadinata.

Untuk sementara, lanjut Artadinata, CTRP belum berminat merambah pasar perkantoran di kedua kota tersebut. Selain karena biaya konstruksi lebih kurang sama dengan biaya konstruksi di Jakarta, sekitar Rp 8 juta per meter persegi, juga karena kebutuhan belum signifikan.

"Lagipula harga sewa masih sangat rendah, tidak sebanding dengan ongkos konstruksi," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X