Kompas.com - 09/09/2013, 15:43 WIB
Pengembang menengah dan bawah Surabaya terancam tak dapat berproduksi. www.wikimedia.orgPengembang menengah dan bawah Surabaya terancam tak dapat berproduksi.
|
EditorLatief
SURABAYA, KOMPAS.com - Sekuat dan setinggi apapun pertumbuhan sektor properti di Surabaya, bila para pengembang dibiarkan berjalan sendiri, sektor ini akan berpotensi mengalami stagnasi. Pengembang Surabaya, terutama kelas menengah dan bawah, akan menunda pembangunan proyek-proyek terbarunya karena mengalami kesulitan dalam pembelian lahan dan material bangunan.

Demikian dikatakan Ketua DPD REI Jawa Timur, Erlangga Satriagung, kepada Kompas.com, Senin (9/9/2013). Hal tersebut diutarakan Erlangga terkait fenomena aktual yang terjadi di Surabaya akibat gejolak nilai Rupiah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Empat paket stimulus ekonomi yang dirilis pada akhir Agustus lalu belum dapat menyentuh persoalan yang kami hadapi. Karena hingga saat ini, implementasi empat paket stimulus ekonomi belum juga dikeluarkan pemerintah. Kami dibiarkan jalan sendiri, akibatnya kami tidak bisa melakukan forecasting usaha yang membutuhkan perhitungan terukur," papar Erlangga.

Menurut Erlangga, pengaruh depresiasi Rupiah terasa memberatkan pengembang kelas menengah dan bawah. Berbagai komponen material bangunan seperti besi, telah melambung harganya, mencapai 11 persen hingga 12 persen. Selain itu, harga lahan juga meroket lebih tinggi di luar perkiraan.

Sebagai informasi, di pusat kota Surabaya, harga lahan melejit menjadi Rp 25 juta/m2. Sementara Surabaya Barat telah mencapai Rp 8 juta-Rp 10 juta/m2 dari sebelumnya Rp 5 juta-Rp 7 juta/m2.  Hal ini berpotensi terjadinya penundaan proyek-proyek baru dan perlambatan progres pembangunan proyek properti yang sudah dimulai sebelumnya.

"Pengembang akan mengerem laju pembangunan karena depresiasi Rupiah yang terus berlangsung, mengganggu perhitungan forecast yang sudah dilakukan sebelumnya. Kami memang masih bisa membangun, tapi kemudian tidak bisa membeli lagi lahan. Di sisi lain,   konsumen menunda pembelian akibat kenaikan suku bunga KPR," jelas Erlangga.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia mengalami ketidakpastian dan terus bergejolak, yang dipicu oleh Depresiasi Rupiah terhadap Dollar AS. Ketidakpastian ini menyebabkan beberapa pengembang harus menghitung ulang proyeksi pencapaian penjualan dan pendapatannya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.