Serius... Waspadalah Pelaku Pasar Properti!

Kompas.com - 27/08/2013, 10:58 WIB
Siklus properti yang tengah melambat juga terkena dampak perekonomian nasional yang melemah. Kondisi inilah yang seharusnya diwaspadai para pelaku bisnis properti saat ini. www.shutterstock.comSiklus properti yang tengah melambat juga terkena dampak perekonomian nasional yang melemah. Kondisi inilah yang seharusnya diwaspadai para pelaku bisnis properti saat ini.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Property Watch (IPW) memprediksi bahwa pasar properti akan mengalami percepatan dan pertumbuhan yang meningkat sampai 2013 dan
mulai melambat di tahun 2014. Prediksi pertumbuhan itu berlangsung sejak 2009.

Demikian disampaikan  Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Ali mengatakan, perkiraan IPW yang mengatakan BI Rate akan naik pada tahun 2013 ternyata memang benar. Menurut dia, kondisi ini terkait erat dengan analisis berdasarkan siklus pasar properti dan ekonomi yang saling berhubungan.

"Dalam dua tahun terakhir ini pasar properti memang menjadi primadona dengan pertumbuhan
pembangunan dan peningkatan harga yang signifikan, khususnya di Jabodetabek. Peningkatan ini juga kemudian mulai terjadi di kota-kota lain," ujar Ali.

Hal tersebut, lanjut dia, disadari atau tidak telah membuat pasar menjadi jenuh dan terdapat beberapa titik lokasi yang memasuki tahap over value. Kondisi ini membuat pasar properti relatif mengalami perlambatan. Seiring itu, indikator perekonomian nasional tengah diuji dengan menurunnya defisit transaksi, merosotnya nilai rupiah, dan anjloknya pasar modal.

"Meskipun hal ini terkait juga dengan kondisi ekonomi dunia, khususnya AS, namun dampak yang akan terjadi akan turut memukul sektor properti," kata Ali.

Artinya, lanjut dia, siklus properti yang tengah melambat juga terkena dampak perekonomian yang melemah. Ali menyarankan, kondisi inilah yang seharusnya diwaspadai para pelaku bisnis properti saat ini.

"Dalam jangka menengah, bila kondisi ini tidak bisa teratasi dengan baik oleh pemerintah, maka pasar properti diperkirakan akan lebih terpukul dan relatif akan terjadi perlambatan yang lebih dalam lagi," katanya.

Merosotnya rupiah

IPW memperkirakan, pelaku pasar properti segmen menengah atas seharusnya juga telah mulai berpikir untuk mengkalkulasi ulang bisnis propertinya, khususnya untuk proyek-proyek yang menggunakan material luar negeri. Hal ini akibat merosotnya nilai rupiah. Dengan demikian, kehati-hatian pelaku pasar turut dipertaruhkan agar jangan sampai terjadi proyek macet dan berimbas pada kredit macet perbankan.

"Di sisi lain, pasar properti segmen menengah pun relatif akan melambat dengan menurunnya daya beli akibat meningkatnya BI Rate. Diperkirakan Bank Indonesia pun akan kembali menaikkan BI Rate-nya pada semester kedua tahun ini dan secara langsung akan menaikan suku bunga KPR sehingga pasar pun relatif akan semakin terbatas," ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X