Kompas.com - 19/08/2013, 13:41 WIB
Bangunan gedung rentan runtuh akibat gempa bila tidak dibangun sesuai dengan standar keselamatan gedung. Tabita/C22Bangunan gedung rentan runtuh akibat gempa bila tidak dibangun sesuai dengan standar keselamatan gedung.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
KOMPAS.com - Bencana alam selalu datang secara tidak terduga. Meski ada kemungkinan melihat tanda-tanda alam, namun pengolahan data atas tanda-tanda tersebut tidak selalu akurat.

Archdaily mencatat, gempa bumi berkekuatan 6,9 skala richter yang menimpa Bay Area menelan  korban sebanyak 63 orang. Sementara itu, gempa yang hanya sedikit lebih kuat di Haiti justru menghilangkan 100.000 nyawa dari raganya. Kesimpulannya, jumlah korban tidak hanya ditentukan oleh skala bencana, namun juga kesiapan penduduk setempat mengantisipasi hal tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bryan Walsh dari TIME, seperti dikutip dalam Archdaily menekankan, "Kita cenderung berfokus pada ukuran gempa bumi, namun kematian justru lebih terkait dengan kualitas bangunan. Kemiskinan, dan bahkan pemerintahan yang buruk serta korupsi, menjadi pengganda akibat dari bencana alam. Itulah mengapa bagian selatan Asia Tengah menjadi salah satu tempat yang paling rapuh di dunia."

Salah satu bentuk kesiapan mengantisipasi bencana alam adalah dengan menciptakan bangunan-bangunan yang dapat meminimalisasi jumlah korban. Dalam artikelnya, Bryan Walsh menyetujui pendapat Roger Bilham dan Vinod Gaur dari Science. Kedua ahli tersebut menekankan, gedung yang dibangun dengan kualitas buruk bisa menggandakan risiko bencana alam. Ironisnya, hampir semua bangunan-bangunan hunian vertikal yang ada di area selatan Asia Tengah dibangun dengan kualitas buruk.

Investigasi pasca-gempa mengungkapkan bahwa keruntuhan struktural umumnya terjadi karena konstruksi buruk akibat kemiskinan dan ketidakpedulian. Atau, usaha kontraktor menghindari pemenuhan aturan pembangunan. Selain itu, aturan desain tahan gempa, umumnya diterapkan hanya untuk struktur sipil, tidak untuk tempat tinggal sebagian besar orang Asia Selatan.

Meluasnya kerapuhan bangunan terlalu sering ditandai dengan adanya keruntuhan spontan dari struktur bertingkat di kota-kota besar Asia Selatan. Selama terjadi gempa bumi yang kuat, banyaknya bangunan runtuh tidak hanya 'diharapkan' tapi juga secara statistik dapat dihitung dalam hitungan menit dari goncangan pertama dan digunakan untuk membantu pencarian dan penyelamatan.

Dengan adanya data ini, Bilham dan Gaur mengkhawatirkan rapuhnya pembangkit listrik tenaga nuklir di India. Bahkan, pembangkit listrik tenaga nuklir di Amerika Serikat juga tidak bebas dari risiko gempa bumi. Walsh menyatakan, gempa bumi adalah senjatanya. Sementara bangunan-bangunan adalah pelurunya.

Jumlah korban berjatuhan akan begitu banyak, tidak hanya dari pembangkit listrik tenaga nuklir, namun juga dari runtuhnya hunian vertikal, sekolah, dan bangunan-bangunan lain. Sama seperti yang terjadi di Haiti dan Provinsi Sichuan, China.

Bryan Walsh tidak menyertakan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah korban gempa bumi terbanyak di dunia. Lebih baik tidak gegabah menyatakan bahwa negara ini sudah aman dari risiko jatuhnya korban akibat bencana alam. Pasalnya, hal tersebut terjadi bukan karena Indonesia sudah bebas dari gempa bumi, bukan juga karena konstruksi berbagai gedung di Indonesia sudah bebas dari masalah.

Secara geografis, Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Apalagi, masyarakat Indonesia baru saja akrab dengan gaya hidup "vertikal" berupa apartemen, kantor, sekolah dan bahkan pasar. Bangunan jangkung tersebut, jelas, rentan runtuh oleh gempa bila dibangun tidak sesuai standar keselamatan bangunan gedung.

Sebenarnya, Indonesia sudah memiliki peraturan mengenai standar keselamatan gedung.  Berbagai perangkan aturan yang ada didasarkan pada Undang-undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

Namun begitu, dalam siaran radio online Majalah Science, Bilham menyatakan, tidak ada gunanya memiliki aturan bangunan jika tidak diterapkan dan hal ini tidak hanya terlalu sering tejadi. Anda mungkin masih ingat runtuhnya sebuah pabrik, Rana Plaza di Bangladesh? Tidak ada gempa bumi, angin bahkan tidak bertiup, bangunan tersebut bisa runtuh.

Hal tersebut sangat mengerikan. Harusnya tidak ada konstruksi seperti itu. Sayangnya, kita hidup di dunia di mana banyak bangunan hanya menunggu untuk digoyang sedikit oleh gempa bumi dan bangunan tersebut akan runtuh. Kita baru mengetahuinya ketika bangunan tersebut benar-benar runtuh.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.