Tokyo Bangun Perkampungan Atlet Terbesar untuk Olimpiade 2020

Kompas.com - 24/07/2013, 17:35 WIB
Kandidat tuan rumah Olimpiade 2020, Tokyo, berencana membangun stadion berkapasitas 80.000 tempat duduk. BloombergKandidat tuan rumah Olimpiade 2020, Tokyo, berencana membangun stadion berkapasitas 80.000 tempat duduk.
|
EditorHilda B Alexander

Bloomberg Selain stadion, Tokyo juga akan membangun perkampungan atlet sebanyak 2 lusin bangunan apartemen mewah.

Bloomberg Perkampungan atlet untuk perhelatan Olimpiade 2020 menelan biaya sekitar Rp 10 triliun.
TOKYO, KOMPAS.com — Kandidat terkuat tuan rumah Olimpiade 2020, Tokyo, berencana membangun perkampungan atlet terbesar sepanjang 42 tahun terakhir. Ini merupakan sebuah langkah strategis yang mungkin dapat menguntungkan pengembang raksasa sekelas Shimizu Corp dan Mitsubishi Estate Co.

Kompleks hunian untuk olahragawan sejagat raya tersebut akan menelan dana sekitar 985 juta dollar AS (Rp 10 triliun) dan menempati area seluas 44 hektar, persis di sebelah Tokyo Bay. Kenichi Kimura, pejabat keuangan Pemerintah Metropolitan Tokyo yang menginisiasi pencalonan ini mengatakan, secara terpisah berencana mengalokasikan 153,9 miliar yen (Rp 15,6 triliun) untuk konstruksi baru dan renovasi di 11 lokasi.

Luas lahan perkampungan atlet
ini 28 persen lebih besar dari Disneyland Park di California dan akan menjadi yang terbesar di Tokyo sejak tahun 1971 ketika sebuah proyek perumahan skala kota, Tama New Town, dibangun di pinggiran barat ibu kota.

Menurut Biro Pembangunan Perkotaan Tokyo, Tama New Town, yang berlokasi sekitar 25 kilometer (16 mil) dari pusat kota Tokyo dan mencakup 2.853 hektar, merupakan pembangunan perumahan skala kota terbesar di Negeri Sakura. Kota baru ini direncanakan pada pertengahan 1960-an untuk mengatasi migrasi kaum urban ke ibu kota. Para penghuni tiba pada awal tahun 1971.

"Dampak pembangunan perkampungan atlet ini akan luar biasa signifikan dan sangat positif bagi pasar properti. Perusahaan konstruksi juga diharapkan mampu merealisasikan investasi pemerintah dan pada gilirannya berdampak pada pertumbuhan nilai tanah," ujar analis Deutsche Securities Inc, Yoji Otani.

Komite pencalonan Olimpiade Tokyo berencana menyeleksi pengembang untuk membangun perkampungan atlet pada pertengahan 2014, dengan desain dan pekerjaan konstruksi yang dimulai akhir tahun itu.

Pasca-pemulihan gempa

Luar biasanya pengaruh perhelatan olahraga akbar terhadap denyut perekonomian juga diakui International Olympiade Committee (IOC). Mereka memproyeksi, pengaruh ekonomi terbesar akan terjadi pada industri jasa yakni sekitar 651 miliar yen (Rp 66,3 triliun), disusul kemudian industri konstruksi senilai 475 miliar yen (Rp 48,3 triliun), dan sektor properti 152 miliar yen (Rp 15,4 triliun).

IOC mencatat, Olimpiade London yang diadakan pada tahun 2012 mencetak peningkatan bisnis dan investasi senilai 9,9 miliar poundsterling (Rp 154,3 triliun).

"Pengaruh ekonomi akan sangat kuat terjadi pada sektor konstruksi dan properti. Proyek sebesar perkampungan atlet pasti membutuhkan lebih dari satu pengembang," kata Kimura.

Menurut Federasi Kontraktor Konstruksi Jepang, tawaran Olimpiade ini bertepatan dengan pemulihan industri konstruksi nasional pascagempa dan tsunami pada Maret 2011. Perjanjian kontrak meningkat pada tahun kedua berturut-turut selama 12 bulan hingga 31 Maret 2013.

Ekspektasi bahwa kebijakan Perdana Menteri Shinzo Abe (Abenomics) dan perbankan Jepang akan mengakhiri 15 tahun deflasi juga telah memacu optimisme bahwa pasar properti nasional akan pulih.

Indeks properti yang melacak 43 perusahaan pengembang, menunjukkan terjadi lonjakan sebesar 50 persen tahun ini, sementara pelacakan selama berlakunya kebijakan Abenomics terhadap 94 proyek naik 27 persen. Secara umum, indeks keuntungan properti naik 42 persen pada 2013.

"Kami berpikir jika Tokyo terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, sektor ekonomi dan pasar investasi akan melonjak tajam selama tiga bulan ke depan," kata Kimura.

Berdasarkan rencana, perkampungan atlet akan terdiri atas 10.860 unit dalam 24 bangunan apartemen mewah dengan pemandangan Rainbow Bridge. Jembatan ini menghubungkan pusat kota Tokyo dengan wilayah Odaiba, yang berada di atas lahan reklamasi. Hunian tersebut dilengkapi dengan arena olahraga seperti gym, ruang makan, restoran, dan taman.

Stadion olimpiade

Selain membangun perkampungan atlet, Tokyo juga akan menggarap stadion modern berkapasitas 80.000 tempat duduk dengan atap yang bisa dibuka-tutup secara otomatis. Sebagai perancang, dipilih Zaha Hadid yang merupakan arsitek kenamaan peraih Pritzker Architecture Prize.

Stadion olimpiade ini dikerjakan di atas situs stadion Olimpiade Nasional 1964 yang akan dibongkar segera setelah Tokyo terpilih menjadi tuan rumah. Sehingga pada saatnya nanti, ketika pekerjaan konstruksi stadion ini rampung, dapat digunakan sebagai venue Piala Dunia Rugby 2019, sebelum Olimpiade 2020 digelar.

Tokyo berencana memilih pengembang untuk membangun stadion pada bulan Oktober 2014 dengan konstruksi awal satu tahun kemudian.

Pemerintah belum memutuskan apa yang harus dilakukan jika Tokyo gagal terpilih.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Bloomberg
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X