Teliti Sebelum Membeli Properti!

Kompas.com - 27/06/2013, 19:54 WIB
Meneliti secara seksama sebuah rumah yang akan dibeli terkadang diabaikan. Beginilah hasilnya, jika transaksi properti dilakukan sebelum pengecekan. Kita tidak akan pernah tahu, apa yang terdapat di dalam rumah. www.dailymail.co.ukMeneliti secara seksama sebuah rumah yang akan dibeli terkadang diabaikan. Beginilah hasilnya, jika transaksi properti dilakukan sebelum pengecekan. Kita tidak akan pernah tahu, apa yang terdapat di dalam rumah.
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander

LONDON, KOMPAS.com —
Teliti sebelum membeli sangat relevan dilakukan sebelum Anda berinvestasi di sektor properti. Alih-alih mendapatkan keuntungan malah buntung kemudian.

Lakukan pengecekan secara terperinci sebelum membeli merupakan salah satu "aturan" tidak tertulis dalam proses jual-beli rumah. Jika hal tersebut tidak dilakukan, ada saja masalah yang muncul. Baru-baru ini, masalah dialami oleh Mehmet Koch (33) di London, Inggris.

Mehmet bersama adiknya, Abbas Koch, semula berencana menanam investasi pada sebuah rumah di utara London, tepatnya di Fonthill Road, Finsbury Park. Mereka menghabiskan 450.000 pound (sekitar Rp 6,8 miliar) lewat proses pelelangan.

Sayangnya, baik Mehmet maupun Abbas tidak pernah menginjakkan kaki ke dalam rumah yang akan mereka beli. Keduanya hanya sempat melihatnya dari luar dan tidak memeriksa dengan teliti. Bahkan, sebenarnya mereka tidak perlu melihat dengan teliti kekacauan yang terjadi di dalam rumah ini.


Pasangan lanjut usia yang tinggal di rumah tersebut tidak memperbolehkan Mehmet Koch masuk ke dalam rumah. Setelah mendapatkan kunci, Koch baru dapat melihat seisi rumah. Alangkah terkejutnya Koch karena rumah tersebut penuh dengan sampah. Tidak hanya terkumpul dalam satu bagian, seluruh rumah penuh dengan barang-barang usang. Koch, pemilik Kaya Properties, sejauh ini sudah memiliki 10 rumah. Namun, baru kali ini ia mendapati "pemandangan" yang begitu mencengangkan.

Setiap ruangan penuh dengan pakaian-pakaian usang, tas belanjaan, pembungkus makanan, mainan, dan koran edisi bertahun-tahun lalu. Selain penuh sampah, rumah empat tingkat ini juga tidak memiliki aliran air, listrik, dan gas.

"Ketika kami melihat rumah ini, kami merasa kasihan pada orang yang tinggal di tempat ini sebelumnya. Bagaimana bisa ada orang yang hidup seperti ini di abad ke-21?" ujar Koch.

Menurut para tetangga, pasangan lansia pemilik lama rumah ini sudah tinggal di sana sejak tahun 1960-an. Hal Davis mengungkapkan, pasangan lansia yang tinggal di tempat ini harus menyingkirkan berbagai barang sebelum dapat membuka dan menutup pintu depan.
 
Tentu saja, dengan keadaan seperti ini, kakak-beradik yang sebelumnya ingin berinvestasi jadi patah arang. Keduanya tidak lagi yakin akan mendapatkan keuntungan. "Kami sangat khawatir tidak akan mendapatkan keuntungan saat ini karena rumah tersebut membutuhkan banyak sekali pengerjaan," keluhnya.

Koch sudah mengirim petugas pembersih untuk mengurusi interior rumah yang kacau dan penuh sampah. Sayangnya, petugas hanya menumpuk sampah di halaman depan rumah "baru" mereka. Akhirnya, pemerintah setempat, yaitu Dewan Islington, harus turun tangan dan mengancam kakak-beradik tersebut. Jika dalam waktu singkat sampah-sampah tidak dibenahi, mereka akan mengajukan tuntutan.



Sumber Dailymail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X