Makin Akut, Tanah di Jakarta Utara Lebih Rendah dari Permukaan Laut!

Kompas.com - 17/06/2013, 11:58 WIB
Jembatan Batu Manggadua banjir, Kamis (17/1/2013). Megandika WilbordusJembatan Batu Manggadua banjir, Kamis (17/1/2013).
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir pasang luapan air laut (rob) yang sempat menggenangi Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara, sejak Kamis (13/6/2013) sempat surut sepenuhnya pada Minggu (16/6/2013) siang. Sementara itu, hujan lebat yang sempat mengguyur Jakarta, Senin (17/6/2013) pagi, tadi tidak banyak membantu.

Hingga berita ini diturunkan, banjir kembali menggenangi kawasan perumahan di Pademangan, Jakarta Utara (Baca: BMKG: Hujan Berlangsung Hingga Sore, Ada Jeda). Menanggapi hal itu, pengamat perkotaan Yayat Supriatna mengatakan bahwa saat ini permukaan tanah Kota Jakarta, khususnya kawasan Jakarta Utara, sudah lebih rendah dari permukaan laut. Banjir rob merupakan salah satu efek tidak terelakkan.

"Gunung Sahari itu sudah sangat rentan terhadap penurunan," ujarnya.

Yayat menganjurkan, kawasan Gunung Sahari sebaiknya dijadikan zona dengan persyaratan untuk dibangun. Dengan kata lain, sebaiknya pemerintah menghentikan pembangunan di kawasan tersebut.

"Hentikan, buat moratorium. Tidak dikeluarkan izin baru sebelum penanganan rob itu diselesaikan," tegas Yayat.

"Tapi, kalau tetap dikeluarkan izin, berarti yang minta izin dan mengeluarkan izin tidak peduli dengan persoalan lingkungan," lanjutnya.

Banjir rob sebenarnya dapat diantisipasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah merencanakan pembangunan dinding laut raksasa atau giant seawall dalam perencanaan tata ruang.

Namun demikian, lanjut Yayat, berdasarkan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) DKI Jakarta, rencana tersebut belum memiliki anggaran.

"Penanganan rob itu dengan giant seawall katanya. Giant seawall itu perencanaannya ada di tata ruang. Tapi, dalam tahun ini belum. Rencana itu sudah diindikasikan, masterplan-nya ada, tapi anggarannya belum ada," terangnya.

Yayat mengatakan, banjir rob terjadi tidak semata-mata karena fenomena alam. Penurunan permukaan tanah terjadi akibat polah penduduk Jakarta sendiri.

"Penyakit utamanya karena pengambilan air tanah. Permukaannya jadi semakin rendah," tandas Yayat.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X