Kompas.com - 09/06/2013, 14:50 WIB
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna". Demikian pepatah yang sangat relevan diterapkan dalam kehidupan berbisnis. Apalagi bisnis properti yang mengenal siklus. Naik turunnya bisnis properti, disebabkan inflasi, suku bunga BI dan suku bunga KPR/KPA.

Ketika suku bunga rendah, pasar akan menyerap properti. Di sisi lain, guna memenuhi permintaan pasar, pengembang akan terus membangun properti. Sebaliknya, jika suku bunga tinggi, properti yang terserap tidak maksimal. Akibatnya, pengembang pun mulai mengurangi pasokan. Bahkan menghentikan sama sekali pembangunan, bila pasar sama sekali tak bereaksi. Sehingga terjadi koreksi atas bisnis properti. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meskipun menurut CEO dan Founder Ciputra Group, Ciputra, masa-masa booming properti di Indonesia masih akan berlangsung hingga tiga tahun ke depan, tak ada salahnya, jika pebisnis properti (terutama pengembang) melakukan langkah-langkah antisipatif. Ketimbang telanjur terpuruk, lebih baik mempersiapkan antisipasi terbaik sejak dini menghadapi siklus properti. Karena lonceng "kematian" bisnis properti tak akan pernah telat menyapa.

Principal Management Consulting Booz & Company, Ramy Sfeir, mengatakan pengembang harus rajin mencari lokasi prospektif dan memanfaatkannya sebagai lahan pengembangan masa depan. Hindari lokas-lokasi yang menjadi incaran kompetitor, karena lokasi ini berpotensi melonjak harganya. Akibatnya, ongkos pengelolaan menjadi tidak ramah anggaran.

Pembangunan skala besar memang berpotensi mendatangkan keuntungan sama besarnya. Namun, itu bukanlah yang utama. Menurut Ramy, pembangunan skala besar akan memunculkan spekulasi. Jika praktek spekulasi lebih kuat, ketimbang pertumbuhan riil, maka pasar akan melemah dan arus pendapatan mudah menguap. Di sinilah dibutuhkan perkuatan "struktur" fundamental, baik permodalan, sumber daya manusia, kemampuan manajerial, kemampuan menciptakan konsep dan tren baru serta  pembacaan terhadap tren pasar.

"Konstruksi pengembang yang fundamental seringkali diabaikan. Padahal dapat menjadi penyebab keterpurukan paling fatal.  Jangan membabi buta memaksakan keinginan meniru bisnis properti skala besar bila tidak didukung kemampuan yang besar pula," imbuh Ramy.

Persempitlah segmen dan cakupan pasar dengan berkonsentrasi pada hal-hal yang diketahui dan kuasai. Kemudian, bangunlah kemampuan "komersial" dan konfigurasi ulang dalam melakukan pendekatan pasar. Jika perusahaan Anda merupakan pengembang spesialis perumahan, atau komersial, tentukan salah satunya. Elaborasi secara maksimal segmen dan potensi pasar yang dipilih. Berikutnya adalah mengelola eksposur terhadap risiko pasar.

"Mengembangkan seperangkat kemampuan inti dan menentukan identitas yang unik, merupakan strategi mendasar yang membuat pengembang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama," tandas Ramy. 

Dengan strategi penciptaan nilai-nilai tersebut, pengembang akan sangat diuntungkan dari kondisi "booming" properti seperti saat ini. Di tengah ketidakpastian sektor lain seperti emas dan minyak, properti sekali lagi tampil sebagai kendaraan investasi menjanjikan bagi investor.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.