Kompas.com - 29/05/2013, 11:54 WIB
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com — Ciputra, salah satu tokoh yang kiprahnya diakui dunia Internasional, mengatakan, masa-masa booming properti di Indonesia masih akan berlangsung hingga tiga tahun ke depan. Peraih Luminary Award ini optimistis iklim investasi dengan dukungan perekonomian kian kondusif dapat menggerakkan pertumbuhan bisnis dan industri properti yang positif.

Menurut Ciputra, segala indikator aktual yang terjadi tak akan memberikan peluang bisnis properti akan crash dalam waktu dekat. Suku bunga perbankan masih di bawah 10 persen, pertumbuhan ekonomi berada di angka positif yakni 6 persen, dan kebutuhan properti terutama perumahan masih sangat tinggi. Selain itu, harga properti Indonesia masih sangat rendah dibanding negara lain sehingga menarik minat investor untuk menanamkan uangnya ke properti.

"Ketimpangan 14 juta unit rumah yang belum terpenuhi akan mendorong pengembang untuk terus melakukan pembangunan. Ini secara langsung berdampak pada laju pertumbuhan bisnis dan industri properti," ujar Ciputra kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (28/5/2013).

Menghadapi peluang dan tantangan demikian, Ciputra Group sendiri mengakomodasi perubahan pasar yang dinamis tersebut dengan mengubah strategi bisnis. Menurut pria 83 tahun yang masih kuat mengingat detail sejarah panjang imperium bisnisnya ini, strategi yang diimplementasikan adalah menjalin kerja sama strategis dengan pemilik lahan.

Opsi kerja sama dengan pemilik lahan memungkinkan Ciputra Group dapat meminimalisasi ongkos produksi (dalam hal ini modal kerja) serta mengurangi ketergantungan akan utang pada perbankan. Utang Ciputra Group saat ini hanya 10 persen dari total nilai ekuitas.

Defisit lahan kosong di Jakarta dan umumnya di Pulau Jawa dianggap Ciputra sebagai tantangan sekaligus peluang. Harga tanah di kota dengan infrastruktur memadai sudah sangat tinggi dan pasokannya pun minim. Itu yang menjadi pemikiran Ciputra setiap hari. Karena itulah, pihaknya saat ini aktif melakukan ekspansi ke luar Jawa.

"Kami tidak menjual saham, kami tidak obral, kami tidak menjual sekadar properti. Tapi kami optimistis, karena kami menjual brand yang dipercaya pembeli, kami menjual komitmen," tandas Ciputra.

Ciputra belajar dari krisis 1997-1998. Menurutnya, mengembangkan properti tidak bisa dilakukan sendiri. Selain urusan filosofi bisnis yang mereka pegang teguh, yakni integritas, profesional, dan berkomitmen, juga entrepreneur. Hal terakhir inilah yang membuat Ciputra punya mimpi melahirkan generasi baru "Ciputra-Ciputra" muda.

 

Kiat bertahan

Diakui atau tidak, Ciputra merupakan begawan properti tak tergantikan hingga saat ini. Terobosan ide, gagasan kreatif, dan komitmennya terhadap sektor properti Indonesia tak diragukan. Ia pun tak segan berbagi tentang kiat-kiatnya dapat bertahan dari krisis properti dan mampu mengembalikan hegemoninya di tengah-tengah persaingan yang demikian sengit.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.