Investor dan Pengembang "Goreng" Harga Properti?

Kompas.com - 25/05/2013, 16:32 WIB
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Sama seperti kawasan hinterland Jakarta lainnya, Bogor juga terkena imbas gegap gempita investasi properti. Harga jual lahan dan properti berbagai jenis, mulai dari rumah, ruko, hingga apartemen, melambung tak terkendali.

Betapa tidak, jika dua tahun silam, harga lahan di Jl Raya Padjadjaran masih berada pada kisaran Rp 7 juta per meter persegi (achievable price), tahun 2013 ini transaksi yang tercetak mencapai Rp 15 juta per meter persegi. Sementara di Jl Soleh Iskandardinata atau lebih dikenal dengan sebutan Jl Baru, merangkak di angka Rp 8 juta per meter persegi.

Lonjakan serupa juga terjadi di kawasan-kawasan perumahan formal. Sentul City misalnya, menawarkan kavling seharga mulai dari Rp 3,5 juta per meter persegi. Diikuti Bogor Raya yang mematok harga senilai Rp 2,5 juta-Rp 2,75 juta per meter persegi. Demikian halnya dengan Bogor Nirwana Residence, sekitar Rp 2,5 juta-Rp 4 juta per meter persegi.

Menurut praktisi pemasar ABC Property, Gunawan Thomas, meroketnya harga pasar lahan itu didorong oleh tingginya permintaan yang berasal dari pembeli yang bermotif investasi. Mereka, para investor tersebut kemudian menjualnya kembali kepada investor-investor yang berminat membelinya dengan harapan dapat "kecipratan" keuntungan lebih tinggi.

"Jadi, transaksi lahan dan properti yang terjadi tidak tercipta secara natural yang melibatkan pembeli atau pengguna akhir dan pemilik lahan. Melainkan antara sesama investor dan pengembang. Merekalah yang sebetulnya berkontribusi besar terhadap lonjakan harga "gila-gilaan" ini," ujar Gunawan kepada Kompas.com, di Jakarta, Sabtu (25/5/2013).

Terbukti, lanjut Gunawan, lahan-lahan kosong di dua ruas bisnis utama Bogor, Jl Raya Padjadjaran dan Jl Baru, sudah dikuasai investor. Tak mudah untuk melakukan transaksi dengan harga jual yang kita harapkan. Karena harga yang mereka patok sudah sedemikian tinggi. Bahkan untuk segmen koridor Padjadjaran yang diperuntukan sebagai klaster bisnis sudah menyentuh level Rp 20 juta per meter persegi.

Untuk harga propertinya pun, Bogor mencetak angka termasuk tinggi. Hampir menyamai Cibubur, Serpong dan Bekasi. Bogor Nirwana Residence yang dikembangkan Graha Andrasentra Propertindo (anak usaha Bakrieland Development) memasarkan klaster Indigo seharga mulai dari Rp 1 miliar untuk ukuran rumah seluas 110/120, dan klaster Olive seharga Rp 2,5 miliar dengan dimensi 264/300.

Bagaimana dengan harga di bawah itu?

Anda hanya bisa menemuinya di kawasan pinggiran kota Bogor, di sekitar Cimahpar, Dramaga, Babakan Madang, Ciomas dan sekitar Bojong Gede. Di kawasan-kawasan dengan aksesibilitas tak semudah Jl Padjadjaran dan Jl Baru, harga propertinya sekitar Rp 300 juta per unit untuk rumah dengan luas bangunan 36 persegi dan luas tanah 72 meter persegi.

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X