Peta Risiko Banjir dan Potensi Pemanfaatannya

Kompas.com - 17/05/2013, 15:49 WIB
EditorLatief

BANDUNG, KOMPAS.com - Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir merupakan jenis musibah paling sering terjadi di Indonesia. Pada April 2013 lalu, banjir terjadi sebanyak 45 kali dengan jumlah korban jiwa mencapai 14 orang dan 107.398 penduduk terpaksa mengungsi.

BNPB juga menyebutkan, kewaspadaan masyarakat di daerah-daerah rawan bencana banjir perlu ditingkatkan. Banjir di Sungai Bengawan Solo awal April lalu misalnya, menjadi sorotan lembaga ini. Pasalnya, lebih dari enam kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur terendam, antara lain Kabupaten Blora, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.

Sarwono, peneliti dari Litbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, mengungkapkan, meski terjadi secara teratur dan telah merenggut korban jiwa, sarana pencegahan dan penanggulangannya belum tersedia, khususnya di daerah banjir Bengawan Solo.

Praktik di lapangan, masyarakat pun tidak berusaha membuat sistem amaran sebelum banjir terjadi. Mereka baru bergerak jika banjir sudah mencapai rumah mereka. Masyarakat seolah tidak memiliki prioritas atas hal-hal yang harus dilakukan dan diselamatkan terlebih dahulu.

Di sinilah peneliti berperan. Dengan mengetahui potensi banjir, titik-titik tertentu dapat diawasi untuk mengetahui kemungkinan terjadinya banjir, bahkan sebelum musibah tersebut terjadi. Hal ini tentunya mampu berperan mengurangi jumlah korban.

Pada Sidang Kolokium Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum 2013 di Bandung, Kamis (16/05/2013) kemarin, calon peneliti Indah Sri Amini, peneliti madya Sarwono, dan Staf Litbang Balai Sungai Puslitbang Sumber Daya Air Harianto mempublikasikan makalah berjudul "Penyiapan Peta Risiko Banjir Sebagai Sarana Mitigasi Daerah-Daerah yang Rawan Banjir". Peta risiko banjir menjadi penting untuk mengetahui potensi dan mencegah jumlah korban, baik jiwa maupun harta di daerah rawan banjir.

Ditemui Kompas.com sebelum menyampaikan makalahnya, Sarwono mengatakan penelitian yang berlokus di Bengawan Solo ini bertujuan untuk menyiapkan strategi evakuasi warga. Hal ini mengingat minimnya sarana penanggulangan banjir di lokasi tersebut.

"Itu pun, prosedur tetap untuk evakuasi saat ini belum tersedia. Secara insting, kelompok warga bersiap sendiri. Cuma secara teknis, prosedur tetapnya belum ada," ujar Sarwono.

Ia mengharapkan, hasil penelitiannya tidak hanya dapat diterapkan di daerah Bengawan Solo, namun di tempat-tempat lain yang mengalami bencana dan memiliki karakter lokasi serupa. Produk yang dihasilkan oleh Indah, Sarwono, dan Harianto merupakan peta risiko banjir di aliran Sungai Bengawan Solo.

Tampak dalam peta tersebut, Kabupaten Bojonegoro merupakan daerah di wilayah hilir dan dilewati Sungai Bengawan Solo terpanjang dibandingkan kabupaten lain. Untuk mencegah dan menghindari dampak bencara banjir, pihak yang berwenang perlu memiliki peta risiko banjir.

Peta tersebut merupakan peta tematik yang memberikan informasi mengenai daerah-daerah terancam bahaya genangan air. Peta ini mampu memberikan kemudahan dalam penanggulangan bencana banjir dan kemudahan dalam tindakan pengelolaan sebelum maupun sesudah banjir.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X