Kompas.com - 15/05/2013, 14:24 WIB
EditorHilda B Alexander

BANDUNG, KOMPAS.com - Sudah saatnya generasi muda Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata. Bertubi-tubi prestasi di bidang olahraga, seni, budaya, dan teknologi telah mereka raih. Kali ini, giliran anak-anak Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang menunjukkan kemampuannya dalam bidang teknologi.

Adalah para siswa SMK 2 Kudus, Jawa Tengah yang berprestasi itu. Mereka menjuarai Lomba Karya Ilmiah Siswa SLTA Tingkat Nasional 2013 yang digelar Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Rabu (15/5/2013) di Puslitbang Sumberdaya Air, Bandung. Karya mereka yang membuat juri jatuh hati berjudul  "Simpel Digital Interface untuk Informasi Banjir Dini Berbasis Penginderaan Cuaca di Pegunungan".

Selain mereka, siswa-siswi SMA 2 Rembang dan SMA Negeri 3 Unggulan Pinra juga memperoleh penghargaan, masing-masing untuk karya penelitian "Pemanfaatan Air Limbah Ikan Menjadi Morga Sebagai Pengganti Pupuk EM-4" dan "Moving Toilet".

Yuli Muhammad Rif'an, Siti Noor Faizah, dan Milla Setiyowati yang mewakili SMK 2 Kudus, merasa bangga menjadi yang terbaik. Pasalnya penelitian yang mereka hasilkan berbasis disiplin ilmu elektronika yang justru kurang diminati di sekolahnya.

"Di SMK 2, elektronika bukan jurusan  jurusan favorit. Ini jurusan paling bawah. Namun begitu, itu memicu kami untuk berprestasi. Jadi yang paling bawah saja bisa berprestasi, sudah seharusnya anak-anak jurusan favorit juga bisa menunjukkan kemampuan serupa," ujar Budi Susanto, guru pendamping SMK 2 Kudus. Baik Budi maupun para siswanya yakin, dengan semakin bertambahnya jumlah inovator muda, potensi generasi muda Indonesia tersebut mampu memajukan Indonesia.

Selain anak-anak SLTA tersebut, penghargaan juga diberikan kepada peneliti muda terbaik dalam lingkungan Puslitbang Sumberdaya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Penghargaan khusus dinamakan Sumaryanto Widayatin Award. Salah satu pemenang tahun ini adalah Susi Hidayah.

Susi sangat mengapresiasi anak-anak muda yang berprestasi ini. Menurutnya, mereka sangat beruntung dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan memiliki akses penelitian yang terbuka lebar. Sementara ia mengaku justru tidak pernah mendapat pengarahan dari sekolahnya dulu.

"Kendala peneliti muda seperti saya adalah bimbingan dan dukungan. Terutama masalah dana. Dengan dukungan dana terbatas alias seadanya tapi bisa menghasilkan penelitian yang tepat guna, itu sangat luar biasa. Makanya saya salut dan angkat topi untuk anak-anak muda SMK tersebut. Pesan saya, teruslah meneliti dan melakukan riset agar hasilnya bagus," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.