Mendengar Suara Alam yang Sakit - Kompas.com

Mendengar Suara Alam yang Sakit

Kompas.com - 21/11/2010, 13:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bertubi-tubi bencana alam datang ke negeri ini. Puluhan ribu korban jiwa menjadi saksi bisu betapa ganasnya alam kita saat ini. Namun, kita mungkin lupa keganasan alam ini tidak timbul serta merta. Ia bangkit karena sudah terlalu lama disakiti oleh kita, sebagai manusia itu sendiri.

Pesan inilah yang ingin disampaikan seorang pelukis dan pematung asal Bandung, Sunaryo, lewat karya instalasi yang bertajuk "Titik Bumi" yang dipamerkan dalam pameran desain interior "Design.ID", Minggu (21/11/2010) di Jakarta Convention Center.

Di dalam sebuah ruangan tertutup berwarna hitam, pengunjung Design.ID dibuat penasaran akan isi dari kotak hitam tersebut, apalagi di luarnya terdapat sebuah pohon besar berwarna coklat dengan daun-daun yang berguguran di setiap sisinya.

Seorang staf pameran karya ini, Sherly, pun menjelaskan maksud sang kreator akan kehadiran pohon mencolok mata itu. "Sekarang bumi sedang sakit, jadi banyak bencana. Konsep pohon ini awalnya hijau, sekarang coklat layu dan di atasnya ada beton-beton yang ditanam. Ini menunjukkan pohon sekarang banyak yang ditebang dan dialihfungsikan untuk bangunan-bangunan, pohon yang dulu rimbun, kini  yang ada hanya sampah dedaunan yang berserakan," ucap Sherly.

Di bagian dalam kotak hitam, Sunaryo pertama menampilkan sebuah karya yang bertemakan kebakaran hutan yang dihiasi sisa pohon yang terbengkalai, dan cat tembok warna hitam dan merah menandakan betapa parahnya bumi ini tengah disakiti. Di bagian selanjutnya, karya instalasi Sunaryo berusaha membangkitkan emosi pengunjung dengan suasana yang lebih cerah.

"Di sini juga kami pasang kipas dan es supaya hawa dingin bisa langsung dirasakan pengunjung sambil melihat video alam yang asri," ucap Sherly. Dari sini, Sunaryo ingin menyampaikan kepada pengunjung bahwa keasrian alam inilah yang harus dijaga manusia.

Di bagian lainnya, Sunaryo kembali mengajak pengunjung untuk melihat realita yang ada saat ini. Kliping-kliping berita perusakan hutan dan bencana alam mendominasi sebuah dinding. Di samping dinding tersebut terdapat karya Sunaryo lagi tentang mata air terakhir yang bisa dinikmati manusia. Terdapat sebuah keran yang meneteskan satu titik air. Keran tersebut dikeliling batang-batang pohon yang tersisa sehabis ditebang.

"Masyarkat harus sadar kalau lama-lama pohon kita habis dan hutan jadi gundul, air pun akan semakin langka," ujar Sherly.

Sunaryo merupakan seniman kelahiran Banyumas, 15 Mei 1943. Ia menempuh studi di Fine Arts Department, Institut Teknologi Bandung, tahun 1969 dan  mengambil gelar Bachelor of Arts -Marble Technology di Italia tahun 1975. Hingga tahun 2008, ia sempat menjadi dosen Fine & Arts di ITB.


EditorTri Wahono
Close Ads X