Mendulang Untung Lewat Investasi Vila di Bali

Kompas.com - 06/06/2009, 10:40 WIB
Editor

KOMPAS.com - BINGUNG pilih-pilih investasi yang aman? Enggak ada salahnya melirik vila di Bali. Banyak tawaran datang dari Pulau Dewata tersebut. Tahun ini, sejumlah pengembang berencana membangun kawasan vila di Bali, mulai dari Ubud sampai Nusa Dua.

Menurut Muhammad Nawir, Direktur Utama Wika Realty, pengembang yang berencana membangun vila di Ubud dan Nusa Dua, investasi vila di Bali sangat menguntungkan. Soalnya, Bali merupakan daerah wisata yang namanya sudah mendunia.

Pemilik bisa menyewakan vilanya kepada para turis asing maupun lokal yang sedang berlibur ke Bali. Kalau tak mau pusing dengan urusan sewa menyewa, tinggal berkongsi saja dengan jaringan hotel. "Nanti mereka yang akan berperan sebagai operator," kata Nawir. 

Selain mendulang untung, Senior Associate Director Knight Frank Indonesia Fakky Ismail Hidayat mengatakan, langkah pemilik vila yang menyerahkan urusan sewa menyewa kepada pihak ketiga juga menghemat anggaran perawatan. "Pemilik tidak lagi dipusingkan oleh biaya perawatan," ujar dia.

Memang, pola semacam ini juga bisa dilakukan oleh pemilik kondominium hotel (kondotel).  Tapi, vila memiliki keunggulan. Contoh, vila memiliki fasilitas pelengkap sendiri yang menyatu dengan bangunan vila seperti kolam renang. Sehingga, tidak perlu berbagi dengan penghuni atau tamu lainnya. 

Investasi vila makin menggiurkan lantaran pariwisata di Bali mulai pulih setelah sempat ambruk dihantam bom laknat teroris sebanyak dua kali. Tengok saja data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut wisatawan asing yang plesir ke Bali pada April 2009 lalu melonjak 21,86% dibanding Maret, dari sebelumnya 168.205 orang menjadi 188.776 orang.

Apalagi, masih menurut BPS, para pelancong asing, yang sebagian berasal dari Australia, Jepang, China, Malaysia, dan Korea Selatan, menginap di Bali rata-rata selama 3,65 hari. Cuma kekurangannya, investasi vila di Bali mesti merogoh kocek lebih dalam. Harga satu unit vila antara US$ 100.000 hingga di atas US$ 1 juta. Karena itu, pengembang lebih membidik ekspatriat yang bekerja di Bali sebagai pasar utama mereka.

"Kebanyakan dari mereka adalah para pebisnis yang rela mengucurkan uang hingga US$ 1 juta untuk membeli vila," kata Nawir.

Hanya, krisis keuangan global sudah memukul gairah konsumen memburu vila di Bali. Menurut Fakky, hingga
akhir tahun ini permintaan properti mewah di seluruh dunia termasuk Indonesia akan mencapai titik terendah. "Pasar mulai kembali pulih secara bertahap pada 2010 nanti," kata dia. (KONTAN/Hans HB, S.S. Kurniawan)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X