JEO - Properti

Stadion Bung Karno,
Mahakarya
yang Diakui Dunia

Minggu, 2 September 2018 | 20:13 WIB

"Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) merupakan masterpiece bangsa, yang digunakan sebagai character building bangsa saat itu."

~Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ahmad Djuhara~

 

TAHUN 1958 menjadi momen bersejarah bagi Indonesia. Negara yang saat itu baru berusia 13 tahun, dipilih Federasi Asian Games (FAG) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games ke-4 pada 1962.

Keputusan tersebut tidak jatuh dari langit. Upaya ekstra keras, lobi, diplomasi, dan perjuangan tak kenal lelah dikerahkan guna memenangi penghitungan suara yang menegangkan.

Detik-detik pertaruhan bak di ujung tanduk itu terjadi saat penghitungan suara dalam sidang FAG di Wasankei Kaikan, Tokyo, Jepang.

Jakarta harus bersaing dengan kota lain seperti Karachi (Pakistan) dan Taipei (Taiwan), yang juga mengincar kesempatan tersebut. Perwakilan Indonesia yang terdiri dari Sri Paku Alam VIII, Maladi dan dr. A Halim harus melihat kondisi riil, betapa superiornya kedua kota itu karena lebih diunggulkan.

Bisa dibayangkan, Jakarta diragukan dapat menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertandingan antar negara saat itu. Selain belum memiliki stadion besar, Jakarta juga belum punya fasilitas pendukung kegiatan olahraga lain yang dapat menampung beragam jenis pertandingan.

"Saat itu cuma ada kolam renang di Manggarai, Lapangan Ikada. Kurang banget," ungkap dosen Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, M Nanda Widyarta.

Ini catatan sejarah di balik kehadiran Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), yang hingga penyelenggaraan Asian Games 2018 terbukti layak menyandang sebutan mahakarya arsitektur kelas dunia.

Sebagai navigasi, JEO ini dirangkai menggunakan urutan:

 BUNG KARNO
 BERGELORA 

 

JULIUS Pour dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, menulis, Jakarta akhirnya unggul tipis dari Karachi saat proses penghitungan suara. Ibu Kota Pakistan itu hanya memperoleh 20 suara, sementara Jakarta 22 suara.

Repro Buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno - (Dok Kompas)

Selain menetapkan Jakarta sebagai tuan rumah, FAG juga memutuskan tiga cabang olahraga baru turut dipertandingkan pada Asian Games ke-4, yaitu bulutangkis, perahu layar, dan panahan.

Setelah memenangi undian, pertanyaan berikutnya pun muncul. Siapkah Indonesia mendapat mandat besar tersebut? Dari mana anggaran harus dicari untuk membangun sebuah kompleks besar olahraga?

FAG mensyaratkan dibangunnya sebuah kompleks multifungsi (multisports complex), sesuatu yang dapat dikatakan langka bahkan mungkin belum terpikirkan di benak perwakilan Indonesia kala itu.

Pertanyaannya, uangnya dari mana? Untuk bangun perumahan saja harus pakai bantuan PBB.

Meskipun, gagasan penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia sendiri sudah muncul di kalangan olahraga Indonesia jauh sebelum Asian Games diselenggarakan untuk pertama kali di New Delhi, India pada 1951.

Saat itu, pada 2-3 Mei 1948 pada hasil Konferensi Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) di Solo, Jawa Tengah, tertuang sebuah kalimat, "Menganjurkan diadakannya Inter Asiatic Sport Meeting."

Namun, bukan Soekarno namanya, bila harus bertekuk lutut dan menyerah atas tantangan yang diberikan. Ia menyadari, Asian Games tak hanya soal ajang pertaruhan dan pembuktian prestasi olahraga, tetapi juga infrastruktur dan arsitektur.

"Pertanyaannya, uangnya dari mana? Untuk bangun perumahan saja harus pakai bantuan PBB, misalnya di Grogol, Slipi, juga Pulomas yang barengan dengan Asian Games dan lain-lain," kata Nanda.

Kedekatan Soekarno dengan Uni Soviet memutus kebuntuan tersebut. Saat mengunjungi Stadion Luzhniki di Moskwa pada 1956, Sang Proklamator terkesima dengan kehebatan struktur dan arsitektur stadion berkapasitas 81.000 penonton itu.

Patung Vladimir Lenin berdiri di depan Stadion Luzhniki, arena pembukaan dan final Piala Dunia Rusia. Arena di Moskwa yang dahulu dinamai Stadion Lenin itu merupakan kembaran dan sumber inspirasi pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
KOMPAS/YULVIANUS HARJONO
Patung Vladimir Lenin berdiri di depan Stadion Luzhniki, arena pembukaan dan final Piala Dunia Rusia. Arena di Moskwa yang dahulu dinamai Stadion Lenin itu merupakan kembaran dan sumber inspirasi pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Ia berharap suatu saat Indonesia dapat memiliki stadion serupa. Soekarno lantas mengajukan pinjaman lunak (soft loan) kepada Pemerintah Uni Soviet.

"Dia bilang ini harus dibuat kembarannya. Tetapi ada modifikasi-modifikasi oleh arsitek Indonesia karena unsur tropikalitas," kata Ketua Umum IAI Ahmad Djuhara.

Pada 1959, pinjaman itu akhirnya diberikan. Tidak tanggung-tanggung, besaran pinjaman mencapai 12,5 juta dollar AS, dengan kurs 1 dollar AS saat itu Rp 250 maka nilainya setara sekitar Rp 3,1 miliar.

 GAMANG LOKASI
 DAN PERAN
 FRIEDRICH SILABAN 


PENDANAAN
 tak hanya menjadi satu-satunya kegamangan Soekarno. Penentuan lokasi tak luput menjadi hal yang cukup memusingkan.

Secara pribadi, Soekarno cenderung memilih kawasan pusat kota seperti Thamrin dan Menteng sebagai tempat pembangunan.

Gagasan lain yang muncul yaitu menjadikan area Bendungan Hilir (Benhil) sebagai lokasinya. Namun, gagasan ini tidak disetujui Gubernur DKI Soemarno Sostroatmodjo, lantaran Benhil saat itu sudah cukup padat penduduknya.

Di tengah kegamangan itu, Soekarno kemudian mengajak Friedrich Silaban, arsitek yang merancang Masjid Istiqlal, berkeliling Jakarta menggunakan helikopter kepresidenan.

Setiba di kawasan Dukuh Atas, argumentasi terjadi di antara keduanya. Silaban tak setuju dengan usulan Soekarno yang ingin menyulap kawasan itu sebagai lokasi stadion.

Foto udara Kompleks Gelora Bung Karno yang diambil pada 1975
KOMPAS/KARTONO RYADI
Foto udara Kompleks Gelora Bung Karno yang diambil pada 1975

Ada beberapa alasan yang diungkapkan. Pertama, kekhawatiran pembangunan kompleks olahraga raksasa akan menimbulkan kemacetan luar biasa di sekitar kawasan.

Kedua, sebagai daerah yang dibelah aliran Sungai Grogol, potensi banjir bisa saja terjadi yang dikhawatirkan dapat menggenangi stadion.

"Di sana kita kan bisa membikin sebuah terowongan," ungkap Soekarno dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno karya Julius Pour.

Belum lagi kegemaran Soekarno memboyong para pejabat negara serta anggota korps diplomatik dalam setiap kunjungannya.

Silaban kemudian meminta pilot helikopter berputar ke arah Senayan. Setelah berkeliling beberapa kali, Soekarno memiliki gagasan untuk menjadikan kawasan ini sebagai kompleks olahraga.

Sebuah kompleks yang dilengkapi dengan stadion raksasa serta aneka kegiatan berbagai cabang olahraga serta fasilitas pendukung lainnya. Sebuah kompleks yang kelak dapat disatukan dengan sebuah jalan besar lurus menghubungkan kawasan Monumen Nasional serta pusat pemerintahan.

Presiden Soekarno memperlihatkan desain kawasan Gelora Bung Karno di Senayan pada sejumlah delegasi asing
Dok KOMPAS
Presiden Soekarno memperlihatkan desain kawasan Gelora Bung Karno di Senayan pada sejumlah delegasi asing

Hal ini masih sejalan dengan pemikiran Soekarno yang ingin membangun kompleks pemerintahan yang berpusat di sekitar lapangan Merdeka depan Istana Kepresidenan.

"Senayan cukup strategis karena (berada) di simpul perkembangan daerah baru itu, termasuk Jalan Sudirman-Thamrin. Akhirnya dibangun lah stadion di Senayan, serta perumahan atlet dan tempat belanja juga. Plus Velodrome Rawamangun, semuanya itu satu paket," tutur Nanda.

 PEWUJUDAN 

 

SETELAH Jakarta terpilih sebagai tuan rumah, Pemerintah kemudian menerbitkan Surat Keputusan Presiden Nomor 113 Tahun 1959 tentang pembentuka Dewan Asian Games Indonesia (DAGI).

DAGI bertugas memenuhi seluruh ketentuan yang ditetapkan FAG. Mulai dari penyelenggaraan perlombaan, penyediaan perkampungan internasional khusus atlet, persiapan upacara pembukaan dan penutupan, hingga memenuhi segala kebutuhan ofisial dari seluruh negara.

Presiden Soekarno dan rombongan meninjau proyek Asian Games di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (18/7/1961).
IPPHOS/A 34 T 1961 H 03
Presiden Soekarno dan rombongan meninjau proyek Asian Games di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (18/7/1961).

Tugas tersebut diberikan kepada Maladi yang saat itu menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan. Belakangan, sebelum Asian Games digelar pada Agustus 1962, Maladi dilantik sebagai Menteri Olahraga pada bulan April.

Tugas yang diterima Maladi menuai pro dan kontra, karena dinilai berat dan banyak. Terlebih ada sejumlah menteri senior pada bidang terkait, seperti Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Pekerjaan Umum.

DAGI merupakan badan non-pemerintah yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia

Perdebatan berakhir setelah Soekarno dalam sidang kabinet menjelaskan, bahwa DAGI merupakan badan non-pemerintah yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia.

DAGI kemudian mulai membebaskan tanah di Senayan setelah sebelumnya pinjaman lunak yang diajukan Indonesia dicairkan Uni Soviet. Pekerjaan tersebut dilakukan seiring dengan pembongkaran, pemindahan dan penampungan penduduk.

Warga Kampung Senayan kemudian direlokasi ke Tebet. Mereka mendapat lahan pengganti seluas 500 hektar, atau lebih luas dari area kampung awal yang mereka tinggali yakni 300 hektar.

Setiap keluarga menerima kavling dengan luas minimal 100 meter persegi, dengan membayar harga maksimal 60 persen dari ganti rugi atas tanah hak milik mereka di Senayan.

Selain itu, pemerintah juga membangun sejumlah fasilitas umum mulai dari sekolah, perkantoran, pasar, masjih, hingga gereja.

Relokasi tersebut juga diikuti dengan pelebaran Jalan Sudirman, sebagai jalan utama yang menghubungkan Senayan dengan pusat kota.

Hal ini agar memperlancar arus kendaraan serta menjadi jalur utama yang menghubungkan wilayah Senayan ke pusat pemerintahan. Upaya memperlancar arus ini turut didukung dengan pembangunan Jembatan Semanggi.

 

 

 TEMU GELANG
 YANG MELEGENDA 

 

SEBELUM Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev datang ke Jakarta untuk menyaksikan pemancangan tiang pertama pembangunan Stadion Utama pada 8 Februari 1960, perdebatan tentang desain stadion terjadi sangat alot.

Bagaimana pun, Soekarno yang merupakan lulusan teknik sipil dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB) yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), memiliki ide sendiri tentang desai Stadion Utama.

Gagasan tersebut disampikan kepada R Semerdjiev, arsitek sekaligus insinyur yang dikirim Uni Soviet untuk membangun Stadion Utama. Soekarno meminta agar atap Stadion Utama berbentuk temu gelang.

Desain ini terinspirasi dari sebuah air mancur yang terdapat di Museo Antropologia de Mexico di Mexico City, yang dikunjunginya beberapa waktu sebelumnya.

Dari arah tempat duduknya, Soekarno melihat bentuk atap bundar dari sumber air muncrat berasal. Selain itu, di bagian depan, dilengkapi dengan tempat duduk dari beton berbentuk bundar, mengelilingi air muncrat dalam radius tidak lebih dari sepuluh meter.

Seluruh bagian atap Stadion Utama Senayan ini sama sekali tidak memakai tiang penyangga di tengahnya, melainkan berada di tepi mengelilingi bangunan stadion.

Atap bundar dari mana air muncrat tersebut berasal, hanya disangga oleh tiang beton. Bentuk itulah yang kemudian menginspirasi lahirnya desain yang lebih spektakuler, yaitu sistem temu gelang.

Seluruh bagian atap Stadion Utama Senayan ini sama sekali tidak memakai tiang penyangga di tengahnya, melainkan berada di tepi mengelilingi bangunan stadion. Atap oval yang mengelilingi stadion akan bertepi serta menyaut pada sebuah gelang raksasa, yang secara kokoh dicengkeram bagian sebelah atasnya.

Pada masa itu, belum pernah ada sistem rancangan semacam ini.

"Saya memerintahkan kepada arsitek Uni Soviet, bikinkan atap temu gelang dari pada main stadium yang tidak ada di lain tempat di seluruh dunia. Bikin seperti itu. Meski pun mereka tetap berkata, yah tidak mungkin Pak. Tidak biasa, tidak lazim, tidak galib, kok ada stadion atapnya temu gelang, di mana-mana atapnya ya hanya sebagian saja. Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kita harus temu gelang," tegas Soekarno saat menyampaikan pidato di depan para atlet yang mengikuti pelatihan pemusatan untuk Asian Games ke-4.

Desain dan Proses Pembangunan GBK

"Tidak lain dan tidak bukan oleh karena saya ingin Indonesia kita ini bisa tampil secara luar biasa. Kecuali praktis juga ada gunanya, supaya para penonton terhindar dari teriknya matahari. Sehingga ikut mengangkat nama Indonesia. Dan sekarang ini terbukti benar saudara-saudara, dimana-mana model atap stadion temu gelang dikagumi oleh seluruh dunia. Bahwa Indonesia mempunyai satu-satunya main stadium yang atapnya temu gelang. Sehingga benar-benar memukau kepada siapa saja yang melihatnya..." terang Soekarno.

Djuhara menilai, kebanggaan nasional (national pride) menjadi alasan utama di balik ngototnya Soekarno menggunakan desain atap temu gelang. Sebab, sejak awal Soekarno tak ingin menonjolkan persoalan prestasi olahraga semata.

"Temu Gelang ini bukan hanya istilah teknis, tetapi juga istilah politis, karena memang sangat sulit. Bahkan orang teknis yang belajar arsitektur (akan menganggap) ini luar biasa," kata Djuhara.

Pada masa Perang Dingin, arsitektur merupakan representasi atas situasi dan kondisi politik dalam negeri. Sebelumnya, Indonesia telah menahbiskan diri sebagai negara yang menganut politik bebas aktif dalam pergaulan internasional.

Karena itu, lewat pembangunan stadion utama, Soekarno ingin membangun sebuah citra bahwa Indonesia dapat menjadi negara maju dan modern.

"Dan Soekarno memberikan fundamental arsitektur kota Jakarta. Dia ngobrol-nya bahkan level presiden-presiden yang lain. Kalau kita lihat Soekarno, lihatlah dengan siapa dia bergaul dan teman-temannya itu punya mainan arsitektur juga yang setara," ungkap Djuhara.

Sebut saja, Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru, yang mengembangkan Chandigarh dengan bantuan arsitek asal Swiss-Prancis, Le Corbusier. Atau, Presiden Brasil Juscelino Kubitschek yang mengembangkan Kota Brazilia dengan bantuan arsitek, Lucio Costa.

Selain Silaban, Soekarno juga dikenal dekat dengan sejumlah arsitek Tanah Air lainnya. Antara lain, Soejoedi Wirjoatmodjo yang merancang Kompleks Parlemen, dan Soedarsono yang merancang Monumen Nasional (Monas).

Oleh karena itu, tak heran bila Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang dirancang saat itu pantas disebut sebagai salah satu mahakarya arsitektur yang dimiliki Indonesia. Sebab, hingga kini ia tetap berdiri kokoh dan bahkan menjadi dasar simbol Asian Games 2018.

"Saya bisa menyatakan sebagai Ketua IAI bahwa (stadion ini) seluruhnya (merupakan) masterpiece bangsa, yang digunakan sebagai character building bangsa saat itu," ujar Djuhara.

 

 

 MOMEN PERESMIAN 

 

WAKTU menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika Soekarno memboyong rombongan kenegaraan memasuki Stadion Utama. Riuh rendah tepuk tangan ratusan ribu orang menyambut kedatangannya.

Ya, Stadion Utama sudah selesai dibangun. Pada 21 Juli 1962 adalah waktu bersejarah bagi stadion yang kala itu berkapasitas 110.000 penonton. Mahakarya itu diresmikan, bersamaan dengan Gladi Resik Pembukaan Asian Games 1962. 

Soekarno membanggakan, stadion yang penyelesaiannya melibatkan lebih dari 40 sarjana teknik dari seluruh Indonesia, serta 12.000 tenaga kerja sipil dan militer, dan bantuan teknisi dari berbagai belahan dunia seperti Uni Soviet, Hongaria, Swiss, Jepang, Perancis, dan Jerman itu, merupakan stadion terhebat di dunia.

Dalam pidatonya, ia mengatakan, "Tidak ada satu stadion di dunia ini yang atapnya temu gelang, tidak ada. Stadion Rio de Janeiro di Brasil yang lebih besar sedikit dari pada stadion ini, tetapi atapnya tidak temu gelang dan konstruksinya kalah jauh dengan konstruksi stadion kita".

Stadion Utama ini memang tampak megah sore itu. Dirancang lima lantai, mencakup lantai 1-3 Tribun Bawah. Sementara lantai 4-5 disebut Tribun Atas.

Sumbu bangunan membujur dari arah utara ke selatan sepanjang 354 meter. Sumbu pendeknya melintang dari arah timur ke barat sepanjang 325 meter.

Stadion Utama dikelilingi sebuah jalan melingkar sepanjang 920 meter pada ring dalam dan 1.100 meter untuk ring luar. Sementara, di bagian dalam stadion terdapat lapangan olahraga termasuk track berbentuk elips seluas 1,75 hektar dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,32 meter.

Adapun lapangan sepak bola berukuran 105x70 meter turut melengkapi lapangan itu.

Lalu, kebanggaan atas stadion ini berlanjut pada pembukaan Asian Games 1962, yang dilaksanakan pada 24 Agustus 1962. Video yang diunggah akun milik Revi Kuswara ini memperlihatkan suasana pembukaan Asian Games 1962 itu, sekaligus sebagai siaran perdana TVRI:

 

 STADION BINTANG LIMA 

 

TAMPILAN Stadion Utama GBK saat ini telah berubah dibandingkan kondisi saat Asian Games ke-4 diselenggarakan.

Sesudah Jakarta ditetapkan sebagai tuan rumah penyelenggaran Asian Games ke-18 pada 2018, pemerintah kembali berupaya melakukan modernisasi.

Ada pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk perubahan tersebut.

"Pertama, Presiden bilang Stadion Utama GBK itu dibangun 1962, kita (memodernisasinya pada) 2018. Kita tidak boleh kembali ke 1962. Harus menunjukkan zaman kita," ungkap Djuhara.

"Kedua, menjadikan Stadion Utama GBK terbuka kepada masyarakat," imbuh dia.

Gagasan Presiden ini sempat menuai perdebatan alot pada saat rencana pemugaran mulai dibahas. Pasalnya, Stadion Utama GBK termasuk dalam cagar budaya yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor 475 Tahun 1993.

Gelora Bung Karno - (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Dengan demikian, ada batasan-batasan tertentu yang tidak boleh diubah atau diganti, dan ada bagian-bagian lainnya yang boleh dimodifikasi.

Namun, Tim Sidang Pemugaran (TSP), beserta Kementerian PUPR, IAI, dan berbagai pihak, akhirnya sepakat bahwa renovasi dilakukan dengan tetap mempertahankan struktur utama sesuai desain awal meski lebih modern.

Modernisasi itu dilakukan dengan meningkatkan standar mutu agar dapat menjadi stadion bintang lima. Namun, peningkatan itu harus memangkas jumlah kursi penonton, dari sebelumnya berkapasitas 110.000 kursi menjadi 76.127 kursi.

Keistimewaan Stadion GBK terlihat dari penggunaan rumput jenis zoysia matrella, sistem pencahayaan 3.500 lux atau tiga kali lipat lebih terang dari sebelumnya.

Sistem pencahayaan tersebut terintegrasi dengan sistem LED lighting system, sehingga membuat konsumsi listrik lebih hemat 50 persen dibandingkan lampu konvensional. Tak hanya itu, sistem pencahayaan juga terintegrasi dengan sistem suara berkekuatan 80.000 Watt PMPO.

Sebagai green stadium, Stadion Utama GBK juga dilengkapi sistem drainase yang lebih baik serta rain gun yang berfungsi menjaga rumput tetap dalam kondisi prima.

"Kamera CCTV juga sudah memakai face recognation (sistem pengenal wajah) karena pengamanan untuk Presiden dan VVIP," kata Nanda.

Baca juga: JEO - Serba-serbi Asian Games 2018 yang Perlu Kita Tahu

Selain itu, kamera tersebut mampu menganalisa tingkah laku seseorang, sehingga dapat mengantisipasi kejahatan.

Untuk area VVIP, terdapat kaca antipeluru yang mampu menahan tembakan sniper dengan peluru kaliber 7,62. Dalam kondisi darurat, stadion ini dapat dikosongkan dalam kurun waktu 15 menit sesuai standar FIFA.

Secara keseluruhan, revitalisasi dan renovasi Stadion Utama GBK Senayan ini menelan dana senilai Rp 770 miliar.

Dengan berbagai kecanggihan dan keistimewaannya, tak heran  bila UEFA mengganjar Stadion Utama GBK Senayan dengan sertifikat bintang lima.

Kini, Stadion Utama GBK Senayan telah menjelma menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia, karena sukses menggelar Asian Games ke-18 Tahun 2018 yang diselenggarakan pada 18 Agustus hingga 2 September 2018.

Asian Games 1962 dan Asian Games 2018 menjadi saksi atas Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai mahakarya arsitektur yang diakui dunia.

FAKTA