Indonesia Kembali Mendunia Lewat Aga Khan Award - Kompas.com

Indonesia Kembali Mendunia Lewat Aga Khan Award

Kompas.com - 01/05/2013, 18:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Di balik hiruk pikuk kabar politik yang berseliweran akhir-akhir ini, Indonesia ternyata masih menyisakan orang-orang yang memiliki prestasi kelas dunia. Selain pebulu tangkis, negeri ini juga punya anak muda yang pantas dibanggakan. Dialah Yori Antar, seorang arsitek muda yang karyanya "rumah asuh Mbaru Niang", di desa Wae Rebo, Flores, terpilih sebagai kandidat pemenang Aga Khan Award 2013.

Rumah asuh ini terinspirasi oleh rumah adat Mbaru Niang suku Wae Rebo. Disebut juga rumah kerucut yang terbuat dari kayu worok dan bambu. Bahan material lokal ini kemudian disatukan, diikat dengan rotan, dan beratapkan jerami. Mbaru Niang merupakan simbol persatuan dalam keluarga dan lingkungan sekitar, serta merepresentasikan kebudayaan setempat. Penduduk desa di Wae Rebo menjaga tradisi ini secara turun-temurun melalui keterampilan membangun yang sayangnya kini mulai memudar.

Yori dan kelompok arsitek muda Indonesia mencari, dan berupaya melestarikan empat rumah adat yang masih bertahan, dua di antaranya membutuhkan renovasi. Mereka berinisiatif, dan memfasilitasi kebangkitan masyarakat yang memungkinkan rumah asli dibangun kembali. Upaya mereka ini terbuka untuk umum, termasuk partisipasi mahasiswa dalam mendokumentasikan pelestarian arsitektural tradisional sekaligus konservasi budaya secara berkelanjutan.

Adapun peserta Aga Khan Award kali ini sangat bervariasi. Mulai dari inovasi lumpur dan sekolah bambu hingga karya arsitektur berupa gedung pencakar langit berkonsep "green". Dewan juri utama Aga Khan Award 2013 telah memilih 20 nominator untuk meraih penghargaan bergengsi senilai 1 juta dollar AS (Rp 9,6 miliar). Sejak dilansir 36 tahun silam, lebih dari 100 proyek telah menerima penghargaan ini dan lebih dari 7.500 proyek telah didokumentasikan sebagai karya arsitektural yang unggul dan berdampak pada kualitas hidup manusia di lingkungannya.

Direktur Penghargaan Farrokh Derakhshani mengatakan, dewan juri yang terdiri atas para arsitek ternama telah menghasilkan pilihan yang menarik tahun ini. Selain memilih Mbaru Niang, mereka memilih sekolah di Afganistan dan Suriah, tapi di sisi lain mereka juga memilih rumah sakit di Sudan, gedung komersial di Bangkok, dan pembangunan kembali sebuah kamp pengungsi di Lebanon. Pilihan tersebut merefleksikan keunggulan penghargaan ini: dampak yang ditimbulkan dari pembangunan gedung dan ruang publik terhadap kualitas hidup.

Dua puluh karya para kandidat ini akan memasuki tahap lanjut penjurian pada Juni nanti. Dewan juri akan menekankan pada dampak terhadap kualitas lingkungan dan keunggulan arsitektur. Mereka akan memilih lima hingga 6 finalis yang diumumkan pada saat seremoni penganugerahaan di Lisbon, September 2013.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X