Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arsitek Indonesia "Jago Kandang"

Kompas.com, 12 Oktober 2018, 11:00 WIB
Dani Prabowo,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Budaya literasi dalam dunia arsitektur Tanah Air rupanya masih rendah. Tak heran, meski banyak arsitek berbakat, namun gaung nama mereka tidak setara arsitek asing di kancah internasional.

Salah satu kelemahan yang paling menonjol adalah kurangnya kemampuan dalam menerjemahkan karya, juga tak mampu mengajak masyarakat untuk memahami arti serta rasa memiliki atas karya tersebut.

Padahal, literasi karya itu penting.

"Kita (terbiasa) jago kandang," kata Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ahmad Djuhara saat berbincang dengan Kompas.com di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (11/10/2018).

Baca juga: Ini Karya-karya Arsitektur Bintaro Design District 2018

Djuhara mengaku, kurang memahami penyebab utama para arsitek Indonesia jago kandang. Hanya, ia menilai, salah satu hal yang membuat arsitek lokal nyaman lantaran ceruk pasar dalam negeri masih sangat terbuka lebar.

"Kebutuhan semua proyek itu ada di Indonesia. Jadi sudah cukup, bahkan masih banyak yang belum tertangani. Sehingga kita tidak melihat luar," Djuhara menganalisis.

Kecenderungan itulah yang pada akhirnya membuat banyak arsitek lokal terkesan tidak terbiasa berkompetisi di kancah internasional.

Meskipun, kompetisi tersebut sebenarnya cukup bagus untuk mengasah kemampuan sekaligus membuktikan bahwa arsitek Tanah Air juga bertaji.

Baca juga: Arsitek Indonesia Masih Lemah dalam Presentasi Desain

Guna mengatasi hal tersebut, Djuhara berharap, semakin banyak arsitek asing yang datang ke Indonesia untuk berkompetisi dengan arsitek lokal.

Cara ini dinilai cukup efektif untuk mengasah kemampuan arsitek lokal dalam menghadapi kompetisi pasar, sekaligus menghilangkan kesan 'jago kandang'

"Atitude itu harus diubah perlahan-lahan atau cepat sekalian," tutup dia.

Sebelumnya, arsitek dari Firma Budi Pradono Architects, Budi Pradono mengatakan, mayoritas arsitek dalam negeri masih lemah dalam menjelaskan karya yang telah mereka ciptakan.

Padahal, kemampuan tersebut penting agar dunia internasional melirik kemampuan arsitek lokal.

"Bagaimana menjelaskan tentang desain itu ke masyarakat. Itu sangat lemah," kata dia kepada Kompas.com, Kamis (11/10/2018).

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau