Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Menerawang Masa Depan Kota Indonesia untuk Para Milenial

Kompas.com, 1 Januari 2018, 07:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorHilda B Alexander
Pikiran saya menerawang jauh ke depan, melihat tegalan sawah berubah menjadi jalur-jalur beton hasil pembiayaan dana desa. Terlihat para ibu bercengkerama di bayang-bayang posyandu, seru membahas kelangkaan gas pada gawai masing-masing.
 
Di ujung desa, anak-anak remaja nongkrong di pelataran toko kelontong modern berbagi wefie ke kelompok bincang-bincangnya.
 
Di kota-kota, para ibu, remaja, dan penduduk lainnya,  berperangai sama, berselancar saling berhubungan dengan teman baik maya maupun riil. Sebuah gambar generik dari kehidupan urban kita.
 
Itulah terawangan saya atas kehidupan negara kita pada masa depan. Ketika urbanisasi menjadi figur utama dengan perkiraan hampir 70 persen orang akan tinggal di perkotaan pada tahun 2050.
 
Apa arti urbanisasi dan kehidupan yang "meng-kota-kan" di Indonesia ini? Angkanya mencengangkan.
 
Menuju 2050, akan ada 60 juta orang Indonesia bertransformasi menjadi penduduk urban, atau hampir 2,5 kali jumlah penduduk negara Australia akan jadi orang kota.
 
Pada saat bersamaan,  tak kurang dari 70 juta orang menjadi kelas menengah baru di negara ekonomi keempat terbesar di dunia ini. Atau sama dengan sebuah negara Perancis baru! 
 
Aktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Stasiun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018.KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUTONG Aktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Stasiun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018.
Transformasi akan ditandai dengan fenomena keniscayaan seperti kota Jakarta dengan jumlah commuter ke pusat kota dari 3 juta saat ini, bisa jadi 7 juta. Kita pun memasuki era gerai ATM menjadi usang karena semua pembayaran tinggal sentuhkan kartu.
 
Jumlah kaum lansia mencapai 100 juta lebih, dengan ekspektasi hidup lebih panjang. Menciptakan generasi baru lansia yang menjadi bagian dari connected community. Penyediaan kebutuhan mereka dan pembiayaannya akan menjadi beban para milenial kita.
 
Kota-kota Indonesia pun tak akan luput dari fenomena main stream angkutan sepeda. Semakin dominannya sharing community disertai pertumbuhan pesat teknologi disruptif, co-working spaces dan budaya kerja flexi-time.
 
Isu besar kota-kota Indonesia bukan hanya penyediaan infrastruktur, namun juga perubahan budaya menjadi masyarakat yang meng-kota (urbanizing society).
 
Coworking space EV Hive @Plaza Kuningan, Jakarta. Arimbi Ramadhiani Coworking space EV Hive @Plaza Kuningan, Jakarta.
Bagi para pemikir,  timbul pertanyaan: lalu apa gap (perbedaan) yang jadi tantangan ke depan?
 
Transformasi budaya menjadi kaum komuter akan mendominasi kehidupan warga kota. Efisiensi dan pengaturan biaya menjadi penting dan ini akan menentukan transformasi dari pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
 
Pun gaya hidup warga akan berubah. Budaya minum kopi berubah menjadi meyeruput sambil berjalan,  tidak lagi santai mengangkat kaki di warung kopi pojok sambil membicarakan mobil baru tetangga.
 
Ada kecenderungan fisik kota menjadi seragam di sana-sini, karena para wali kota hanya mementingkan aspek bersolek. Taman itu, taman ini, patung ini patung itu.
 
Pada saat bersamaan, kota pun akan terus menjadi pusat ekspresi demokrasi warga, dan internet akan menghubungkan setiap kejadian penting di kota kita dengan kota-kota di belahan dunia lainnya.
 
Tengok bagaimana 2017 kita melihat pilkada Jakarta, dapat menciptakan demo di lokasi Sydney,  Paris, Atlanta. Kota di Indonesia merupakan bagian dari sistem kota dunia.
Kereta rel listrik (KRL) meniggalkan Stasiun Jakarta Kota di Jakarta Barat, Kamis (7/9/2017). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Kereta rel listrik (KRL) meniggalkan Stasiun Jakarta Kota di Jakarta Barat, Kamis (7/9/2017).
Per-hari ini, untuk memenuhi kebutuhan commuter lines, diperlukan investasi transportasi massal. Jakarta akan membangun 100 kilometer transportasi berbasis rel dan pengelolaan 3.000 bus TransJakarta.
 
Demikian pula Medan, Bandung,  Surabaya,  Makassar,  Semarang,  Denpasar. Jika masing-masing mulai membangun minimal 50 kilometer, maka total perlu dibangun 300 kilometer.
 
Dengan asumsi Rp 2 triliun per kilometer untuk Mass Rapid Transit (MRT) bawah tanah (termasuk sistem dan terminal), Rp 1 triliun Light Rail Transit (LRT) dan  Rp 3 miliar per bus, diperlukan biaya sekitar Rp 509 triliun.
 
Kids zaman now, akan mendapat warisan berupa tugas untuk membayar semua Quick Wins yang coba dicapai saat ini. Alternatif pembiayaan infrastruktur perkotaan menuntut inovasi untuk menyiasati keterbatasan keuangan kota.
 
Untuk itu para milenial juga harus menjadi partisipan aktif dalam proses demokrasi. Masa depan demokrasi perkotaan, sejalan dengan urbanisasi dan kewajiban membayar investasi pembangunan saat ini. Jangan biarkan politik transaksional merusak rajutan sosial masyarakat masa depan.
 
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau