Betulkah Jepang “Silau” atas Pesona Jalur Sutra China? Halaman 2 - Kompas.com

Betulkah Jepang “Silau” atas Pesona Jalur Sutra China?

Haris Prahara
Kompas.com - 14/07/2017, 10:40 WIB
Penyelesaian pekerjaan konstruksi MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 (Lebak Bulus - Bundaran HI), untuk pekerjaan proyek pada struktur layang telah menyelesaikan 30,35% dan struktur bawah tanah sebesar 63,25% (data per 30 April 2016). ABC Penyelesaian pekerjaan konstruksi MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 (Lebak Bulus - Bundaran HI), untuk pekerjaan proyek pada struktur layang telah menyelesaikan 30,35% dan struktur bawah tanah sebesar 63,25% (data per 30 April 2016).

Sesungguhnya, jauh sebelum China berambisi dengan Jalur Sutra, Jepang telah mengambil inisiatif pembangunan infrastruktur dalam beberapa dekade lalu. Meskipun, Jepang tak pernah mengonsolidasikan aksi tersebut ke dalam inisiatif tunggal atau mencitrakan dengan nama yang menggugah.

Pemerintah Jepang aktif menyuntikkan dana dalam jumlah besar ke sejumlah negara melalui sarana pembiayaan Asian Development Bank (ADB) dan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Tujuan dari pembiayaan itu adalah membantu negara-negara berkembang untuk membangun infrastruktur jalan, jalur kereta api, pelabuhan, dan lain sebagainya. JICA juga dikenal sebagai penyuntik dana untuk infrastruktur mass rapid transit (MRT) pertama di Indonesia. 

(Baca: Basuki: Pinjaman JICA untuk MRT Untungkan Jakarta)

Baru-baru ini, Jepang juga mengumbar janji prestisius untuk mengucurkan kembali dana segar 200 miliar dollar AS.

Tujuannya adalah mengembangkan infrastruktur di pasar Asia dan Afrika. Selain itu, mereka juga telah meluncurkan program Prakarsa Infrastruktur Jepang. 

Adu gengsi

Pemerintahan Abe tampaknya tak ingin hilang pamor dengan proyek Jalur Sutra China.

Beberapa pembangunan infrastruktur oleh Jepang yang tengah berlangsung adalah pemurnian gas alam di Turkmenistan, sebuah pabrik pupuk berskala besar di Uzbekistan, dan sebuah kemitraan dengan India untuk membangun Koridor Industri Mumbai.

Lebih dari itu, masih ada lagi dua sistem metro tambahan di India, tiga proyek rel kereta api besar di Filipina, dan sejumlah proyek lainnya.

Proyek-proyek infrastruktur itu sebetulnya hampir serupa dengan investasi China melalui Jalur Sutra. Ketika melihat peta Jalur Sutra lebih mendalam, dapat ditemukan adanya tumpang tindih antara proyek Jepang dan China.

Pada hakikatnya, proyek-proyek yang telah diprakarsai oleh kekuatan global memang sering kali padam dengan kekuatan global lainnya. Pada akhirnya, seluruh proyek tersebut akan saling terhubung sebagai jaringan perdagangan, energi, dan sistem transportasi terpadu.

Jika sudah begitu, seolah tak ada lagi istilah kawan atau lawan di antara kedua negara. Upaya China untuk membangun infrastruktur baru dan interkonektivitas ekonomi di seluruh Eurasia akan membantu Jepang, begitu juga sebaliknya.

Mungkin sampai sejauh itu pula kita dapat memaknai ucapan Abe untuk mendukung Jalur Sutra China.

(Baca juga: Pilih Jepang atau Tiongkok, Wapres Tekankan Kualitas Infrastruktur)

Page:
PenulisHaris Prahara
EditorHilda B Alexander
SumberForbes
Komentar
Close Ads X