Seperti Anggur, Perencanaan Pariwisata Itu Perlu Konsistensi - Kompas.com

Seperti Anggur, Perencanaan Pariwisata Itu Perlu Konsistensi

Bernardus Djonoputro
Kompas.com - 01/07/2017, 15:16 WIB
Teresia Prahesti Senja di Kampung Nelayan Bajo Mantigola, Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Mencerna tantangan pengembangan pariwisata itu seperti mencoba menelusuri kompleksitas anggur merah. Perlu cita rasa, pengetahuan yang senantiasa terasah, dan "nose" atau insting kepekaan yang digunakan mencocokkan dengan konsumen sesuai karakternya.

Saya teringat tiga dekade lalu, bekerja di bawah komando almarhum Joop Ave, saat itu Dirjen Pariwisata yang begitu menjiwai industrinya.

Sebagai pekerja di level terdepan sekaligus terbawah, Australia, itu sangat membanggakan. Kami anak muda begitu mengagumi pengetahuan dan penghayatan Joop Ave akan pariwisata, kebudayaan, dan diplomasinya.

Kebanggaan pun menular ke kami sebagai bangsa Indonesia, dipicu oleh pengetahuan mendalam akan produk destinasi, atraksi, dan latar belakang filosofis setiap produk wisata. Walaupun saat itu hanya mengusung "Beyond Bali", program menggalang wisata ke Bali, Yogyakarta, Toraja, dan Lombok.

Nah, ketika hari ini saya duduk di pesawat Garuda menuju pulang, sambil menyeka muka dengan handuk basah beraroma L'ocitane Green tea, pelajaran-pelajaran ilmu perencanaan pariwisata dulu sewaktu menyiapkan tugas akhir S1 pun, kembali singgah di memori saya.

KOMPAS.com/Fidel Ali Pemandangan dari atas Bukit Raja di Teluk Kabui, Raja Ampat, Papua Barat.
Dulu kita begitu kritis dan marah mencerna ketika sebuah biro iklan Malaysia yang dikomandoi pimpinan berdarah Indonesia, menciptakan kampanye "Malaysia Truly Asia" yang begitu menohok. Indonesia terkapar, diawaki Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) tidak mampu mengatasi perang media buy Malaysia kala itu karena keterbatasan anggaran.

Sekarang setelah tertinggal 20 tahun, tampaknya keadaan sudah berbeda. Bahkan pengusung produk wisata dan brand Indonesia yaitu Garuda sudah bisa melampaui maskapai Malaysia Arlines (MAS) yang terus terpuruk. Belanja iklan kita pun kelihatannya menjadi andalan pemerintah.

Namun, lain lagi di bidang perencanaan pariwisata, kekurangsigapan kita terus berlanjut. Saat ini dengan belanja iklan global luar biasa (dalam standar pengalaman republik ini) dan kualitas kreatif iklan yang bagus, kita masih punya gap sangat besar di sisi pengembangan destinasi dan perencanaan kawasan pariwisata.

Perencanaan kawasan-kawasan wisata dan atraksi nampaknya masih sangat terbatas. Banyak sekali destinasi baik di perkotaan maupun wisata adventure dan minat khusus, yang terlihat tidak mendapatkan sentuhan perencanaan.

Garut, Larantuka, Pantai Bira, Cirebon, Bandaneira, Tanjung Puting, Puncak Cartenz Piramyd dan begitu banyak destinasi lainnya, yang kurang sentuhan. Padahal, begitu kayanya negeri ini. Sepanjang usia hidup rata-rata manusia, tidak akan sempat menikmati keindahan Tuhan di zamrud khatulistiwa ini.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Foto dari kamera smartphone menunjukkan pemandangan persawahan di kaki Pergasingan, di Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur. Aktivitas Gunung Barujari di Kaldera Gunung Rinjani, tidak banyak mempengaruhi kehidupan warga Desa Sembalun Lawang yang letaknya di sebelah timur gunung, karena abu vulkanik terlihat mengarah ke barat.
Saya membayangkan, usaha perencanaan destinasi kita harusnya dikedepankan. Seperti Garuda, kini interaksi personifikasi maskapai dengan profil penumpang pun semakin baik dan mulai menampakkan hasil. Walau masih didera keterlambatan, dan ketidakkonsistenan di sana sini, namun amenitasnya semakin baik.

Yang segera diperlukan adalah perencanaan destinasi yang terintegrasi dengan penyiapan amenitas dan ketersediaan infrastruktur konektivitas dan daya dukung daerah. Selain itu, segmentasi pasar menjadi penting, karena pemerataan ekonomi pariwisata tidak bisa serta merta menjadi alasan untuk membuka jor-joran semua daerah.

Ada daerah wisata yang perlu dijaga daya dukungnya, ada untuk segmen mahal, minat khusus, dan tentunya ada pula untuk segmen massal.

Memang konsistensi itu perlu kerja keras. Ibaratnya, belajar dari negara-negara penghasil anggur new world seperti Australia, Amerika, Chile dan lain lain. Tak heran persaingan wine classic dan new world untuk menghasilkan produk terbaik, sangat menguntungkan konsumen karena memiliki begitu banyak pilihan dan rentang cita rasa yang terus berkembang.

KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI Aktivitas pramugari maskapai Garuda Indonesia saat penerbangan bertajuk Kartini Flight di perjalanan menuju Bandara Minangkabau Padang, Sumatera Barat, Jumat (21/4/2017). Garuda Indonesia gelar Kartini Flight dalam rangka menyambut Hari Kartini, seluruh petugas penerbangan dari pilot, pramugari hingga teknisi adalah perempuan.
Hari ini saya sebagai salah pengagum perkebunan Vasse Velix di kawasan Margaret River di Western Australia, harus mengakui konsistensi classic wine L'Andrea dari kawasan Umbria di Itali. Wine ini dibuat oleh Castello Monte Vibiano Vecchio, yang mengklaim satu-satunya pembuat wine dan olive oil dengan karbon netral.

Campuran kompleksitas anggur Sangiovese, Cabarnet, Syrah, Sagrantino dan Merlot dari vintage 2008, membuat wine full bodied ini begitu misterius namun nyaman di minum. Wewangian di ujung rasa buah dengan sentuhan kayu manis dan coklat.

Anggur ini mengingatkan saya akan konsistensi wine kelas atas dari kawasan-kawasan klasik. Tak salah kalau pemeringkatan panutan Gamberro Rosso di Italia mengganjar L'Andrea 2008 dengan nilai tertinggi.

Dalam bayangan egois saya, mudah-mudahan usaha peningkatan kinerja Garuda tidak menganggu pilihan wine sebagai standar layanan global, dan pengetahuan minimal cabin crew tentang produk yang semakin baik.

Seperti anggur, konsistensi dan perencanaan itu perlu kerja keras. Semakin lama, semakin berkarakter, namun tetap menyesuaikan dengan cita rasa segmen konsumennya masing masing. Salute!

EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM