Mudik Lewat Mana, Tol Darurat Berdebu atau Jalur Pantura? - Kompas.com

Mudik Lewat Mana, Tol Darurat Berdebu atau Jalur Pantura?

Dani Prabowo
Kompas.com - 13/06/2017, 20:21 WIB
KOMPAS.com / DANI PRABOWO Ruas Tol Batang-Semarang di exit toll Gringsing, Senin (24/5/2017).

JAKARTA, KompasProperti - Pemerintah memastikan ruas Tol Trans-Jawa dibuka secara darurat pada H-10 Lebaran 2017.

Itu artinya, sekarang masyarakat memiliki dua pilihan bila ingin mengakses wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur lewat jalur darat.

Selain Tol Trans-Jawa, jalan nasional Pantai Utara atau Pantura juga masih menjadi salah jalur utama untuk diakses pemudik. Baik itu pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kedua pilihan jalur memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tol Trans-Jawa

Tol ini memiliki panjang 337 kilometer, di mana 110 kilometer di antaranya terbentang dari Brebes Timur hingga Weleri, dan sisanya dari Semarang hingga Surabaya. Pemerintah meyakini dengan membuka ruas tol ini, dapat mengurangi kemacetan.

Seperti kemacetan horor yang terjadi pada tahun lalu. Akibat sedikitnya gardu tol yang dibuka di Gerbang Tol (GT) Brebes Timur, antrean kendaraan mengular lebih dari 18 kilometer. Belasan orang pun menjadi korban.

"Diperkirakan 40 persen (kendaraan) masuk ke tol," ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono di Gerbang Tol Salatiga, Jawa Tengah, Minggu (11/6/2017).

Kompasproperti/Slamet Priyatin Jalan Pantura Cepiring Kendal Jawa Tengah, yang ada pasar tumpahnya. Kompas. Property/ Slamet Priyatin
Namun, keberadaan tol ini masih menyisakan persoalan, seperti jalan bergelombang, debu beterbangan, hingga kurangnya fasilitas tempat istirahat.

Kondisi jalan bergelombang disebabkan lantaran jalan yang belum diaspal. Hanya di beberapa ruas yang telah rigid, sisanya masih dilapisi sekadar lean concrete atau beton tipis, setebal 10 sentimeter.

Lebar lapisan lean concrete itu hanya tujuh meter. Di samping kanan dan kirinya masih terdapat tanah, yang apabila dilalui kendaraan maka kondisinya akan sangat berdebu. Sehingga, pandangan masyarakat berpotensi terganggu.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR saat ini tengah berupaya untuk meminimalisasi debu yang beterbangan.

"Kami lakukan langkah antisipasi dengan menurunkan kompresor. Sekarang kompresor sedang melakukan penyiraman periodik di beberapa titik," kata Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna kepada KompasProperti, Senin (12/6/2017).

Untuk ruas Brebes Timur-Weleri, jalan tol ini akan dilengkapi dengan delapan pintu keluar daruat. Kedelapan pintu itu terletak di Tegal (Ujung Rusi, Karangjati dan Warureja), Pemalang (Sewaka dan Beji), Pekalonga (Bojong), Batang (Kandeman) dan Weleri (Gringsing).

Selain itu, sebelas tempat istirahat sementara (TIS) atau rest area juga akan disediakan. Di tempat tersebut terdapat pula berbagai fasilitas mulai dari mushola, toilet, tempat parkir, dan warung kecil untuk makan minum.

Nazar Nurdin/Kompas.com Fasilitas pendukung yang saat ini tengah dibangun ialah tempat peristirahatan atau rest area di STA 49+400 atau di KM 36+700.
Rencananya, jalan tol ini difungsikan selama 24 jam. Namun, lantaran fasilitas pelengkap seperti rambu petunjuk, marka jalan, lampu reflektor, hingga lampu penerangan yang masih minim, pemudik diimbau tidak terlalu memacu kendaraan. Terutama pada malam hari. Pasalnya, kondisi jalan dikhawatirkan gelap dan berdebu.

Sementara, untuk ruas Semarang-Surabaya, rencana fungsional 24 jam masih dikaji. Jalan tol ini memiliki beberapa ruas seperti Semarang-Solo yang akan dibuka fungsional pada ruas Bawen-Salatiga sepanjang 17,6 kilometer.

Kemudian Jalan Tol Solo-Ngawi, yang terbagi ke dalam 1 junction dan 2 seksi sepanjang 90,42 kilometer yang seluruhnya fungsional.

Ruas Ngawi-Kertosono dengan panjang 86,9 kilometer. Ruas ini terbagi atas 3 seksi, di mana dua di antaranya fungsional yaitu Seksi 1 Ngawi IC-Madiun IC, dan Seksi III Caruban IC-Nganjuk IC.

Berikutnya, Tol Kertosono-Mojokerto yang terdiri atas 5 seksi. Tiga di antaranya akan dibuka fungsional yaitu Seksi 2 Jombang-Mojokerto Barat, Seksi 3 Jembatan Brantas-Pendekat, dan Seksi 5 Bandar-Batas Barat.

Untuk Tol Mojokerto-Surabaya, juga ada tiga seksi yang akan difungsionalkan yaitu Seksi IB Sepanjang-WRR, Seksi II WRR-Driyorejo, dan Seksi III Driyorejo-Kriyan.

Terakhir, Tol Gempol-Pasuruan, hanya Seksi 1 Paket A1 Gempol Bangil yang akan difungsikan. Tol sepanjang 34,15 kilometer ini akan memiliki empat seksi. Namun, baru Seksi 1 Paket A2 Bangil-Rembang yang kini telah beroperasi.

Jalur Pantura

Lintas utama Pantura di Jawa Tengah meliputi batas wilayah Jawa Barat di Losari dan Pejagan. Kemudian masuk ke wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Weleri, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang dan Tuban di perbatasan Jawa Timur.

KOMPAS.com / DANI PRABOWO Sebuah truk yang mengalami kecelakaan dievakuasi dengan menggunakan mobil crane di ruas Jalan Raya Malangbong, Minggu (28/5/2017). Jalur tersebut menghubungkan wilayah Tasikmalaya-Garut di Jawa Barat.
Pada musim mudik Lebaran tahun ini, Kementerian Perhubungan telah memprediksi volume kendaraan meningkat, 5 persen untuk roda empat dan 10 persen untuk roda dua.

Peningkatan tersebut dipastikan akan mempengaruhi tingkat kepadatan di jalur utama tersebut. Belum lagi adanya perbaikan jalan di beberapa titik Pantura, yang sudah menjadi pekerjaan tahunan.

Selain pekerjaan jalan, hal lain yang juga harus diwaspadai yaitu keberadaan pasar tumpah. Sudah menjadi rahasia umum pasar tumpah menjadi penyumbang kemacetan.

Di sepanjang jalur Brebes hingga Kudus, tercatat tak kurang dari 33 pasar tumpah yang berpotensi menimbulkan kemacetan.

Mulai dari Pasar Losari di Brebes, Swalayan Rita Mall dan Pasar Pagi di Tegal, serta Pasar Kramat, Pasar Warurejo Pasar Sidodadi dan Pasar Adiwerna di Tegal.

Kemudian, Pasar Taman, Pasar Comal dan Pasar Petarukan di Pemalang, Pasar Wiradesa, Pasar Groglan dan Pasar Sentono di Pekalongan, serta Pasar Batang, Pasar Tulis, Pasar Subah, dan Pasar Gringsing di Batang.

Kompas.com/Syahrul Munir Seorang petugas tengah mengatur lalu lintas di depan Pasar Suruh, Kabupaten Semarang, Rabu (1/6/2016). Pasar ini akan menjadi salah satu titik rawan kemacetan pada arus mudik 2017.
Setelah itu, Pasar Kendal, Pasar Weleri, Pasar Cepiring, dan Pasar Kaliwungu di Kendal, Pasar Mangkang, Pasa Karangayu, Pasar Bulu, Pasar Genuk, Pasar Peterongan dan Pasar Jatingaleh di Semarang, Pasar Sayung, Pasar Buyaran, Pasar Gajah dan Pasar Katanganyar di Demak, serta Pasar Bitingan dan Pasar Kliwon di Kudus.

Bila jalur tersebut mengalami kepadatan, tak ada salahnya jika Anda mencari jalur alternatif. Khusus bagi Anda yang ingin menuju ke wilayah selatan Pulau Jawa, setidaknya ada tiga jalur alternatif yang dapat Anda lalu.

Ruas pertama memiliki panjang 373,1 kilometer, terbentang melewati Batas Jabar/Bantarsari-Ketanggungan-Slawi-Randudongkal-Bantarbolang-Kebonagung-Wonotunggal-Bawang-Sukorejo-Boja-Ungarang-Semarang/Solo.

Ruas kedua adalah Semarang-Gubug-Godong-Purwodadi-Kunduran-Blora yang memiliki panjang 108,76 kilometer.

Kemudian ruas ketiga yaitu Rembang-Blora-Cepu-Padangan/Batas Jatim dengan panjang 70,14 kilometer.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisDani Prabowo
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X