Teror, Kalangan Elite, dan Kota Layak Huni - Kompas.com

Teror, Kalangan Elite, dan Kota Layak Huni

Bernardus Djonoputro
Kompas.com - 29/05/2017, 18:00 WIB
ABC Gedung parlemen negara bagian Victoria, Australia, di pusat kota Melbourne.

Memasuki hari pertama musim dingin, Melbourne menampakkan dirinya sebagai kota Australia yang elok dan dinamis di belahan bumi selatan khatulistiwa.

Tanpa mengurangi kecepatan pergerakan kota, langkah-langkah warga yang kian kosmopolitan terus melenggang dengan koleksi lama pakaian musim dingin, atau model-model baru. Maklum, ini ibu kota busana-nya benua Kanguru.

Saya ditemani secangkir latte di café European, persis di depan gedung parlemen Negara bagian Victoria. Rasanya lain dari biasa.

Tempat yang melegenda sarat lobi politik, para pengacara top, konglomerat dan politisi mampir untuk sekadar secangkir flat white atau anggur ini terasa begitu bergairah.

Itulah sekelumit potret kota yang sepanjang satu dekade terakhir selalu masuk dalam daftar "Kota Paling Layak Huni" yang dikeluarkan hampir semua indeks yang ada di muka bumi.

Namun ada yang lain hari ini. Angin sejuk terasa mengiris ketika saya mengikuti bincang kopi dengan teman.

Pekan lalu, Melbourne terasa beku. Ini karena Manchester yang ribuan kilometer jauhnya, negeri asal kebanyakan warga Melbourne diguncang teror. Teror terjadi saat Ariana Grande menggelar konser.

Dua hari setelahnya, teror serupa meledak di Kampung Melayu. Tak kurang lima orang meneninggal, menyisakan potongan tubuh bergelimpangan.

AP Photo/Rui Vieira Seorang perempuan muda melihat bunga-bunga yang diletakkan di lapangan Santa Anna, Manchester, Inggris, 25 Mei 2017, untuk mengenang para korban ledakan seusai konser bintang pop AS, Ariana Grande.
Rasa sedih, geram, sakit dan bergejolak, mendominasi ruang-ruang interaksi warga saat itu. Kota Manchester, Jakarta, Melbourne seolah menjadi satu, tanpa batas, nyata, dan menggelorakan solidaritas warga yang begitu instan dan egaliter.

Kota-kota kita semakin terbuka dan instan. Egalitarian menjadi menu utama, karena dominasi informasi tidak lagi di tangan kalangan elite.

Anak-anak ingusan, ibu-ibu arisan RT, pedagang kaki lima, setara dengan para konglomerat dan anggota dewan, mendapatkan dan merasakan informasi yang sama pada saat yang sama.

Lalu, bagaimana kota kita bisa relevan bagi warganya, kalau ketakutan dan teror terus hadir kapan saja di depan kita? Bagaimana kita menciptakan kota tempat tinggal kita yang nyaman dan layak huni?

Pasca Piagam Athena yang digagas Le Corbusier dan kawan-kawan tahun 1933, kota di dunia menjadi seragam sebagai hutan beton dibalut jalur hijau, yang semakin mengotak-kotakan warga dalam ruang kaku. Elite menguasai ruang publik.

Kini kota utama dunia seperti Melbourne sudah semakin menyadari perlunya paradigma baru dalam penciptaan kota yang manusiawi.

Dimensi ruang berskala manusia menjadi menu utama para perencana. Bahkan aturan pengembangan kota terus berevolusi untuk menciptakan kota kompak yang layak huni.

Peremajaan kota dan bangunan yang ketat, penciptaan ruang publik berkualitas dan sarana prasarana pro-warga yang nyata.

KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Sisa-sisa ledakan bom yang masih berbekas di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (25/5/2017). Ledakan dari bom terjadi dua kali di sana saat Rabu (24/5/2017) malam.
Sore menjelang, saya bergeser bersama puluhan ribu warga menuju stadion utama, Melbourne Cricket Ground yang megah.

Tak kurang sejumlah 85.000 orang tertib mendukung dua tim bertetangga, Richmond Tiger dan Essendon Bombers.

Warga pun riang gembira, bar di seantero stadion terus melayani bir dan anggur bagi para dewasa tanpa drama. Anak-anak riang gembira dengan seragam dan atribut tim masing-masing.

Dan bayangan di benak pun berseliweran, membayangkan pertandingan klasik jagoan kotaku Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya. 

Di antara keriangan, tak bisa dipungkiri ada rasa kecut di pojok hati. Membayangkan apa yang akan terjadi, bila insiden Manchester dan Kampung Melayu terjadi malam ini?

Pertanyaan bergelut. Harus seperti apakah kota layak huni? Bagaimana kita melepaskan diri dari cengkeraman rasa takut, dan terhindar dari cengkeraman kekuatan kapital yang berselingkuh dengan elite?

Mahzab Kota Layak Huni Indonesia

Perdebatan moral di kalangan perencana kota dunia terus mewarnai mahzab perencanaan kota layak huni.

KOMPAS.COM/Alek Kurniawan Bazaar di Taman Kalijodo yang menjual berbagai makanan, minuman dan pakaian. Bazaar ini tak selalu ada setiap hari, hanya hari-hari tertentu misalnya akhir pekan dan libur panjang.
Sudah saatnya para wali kota dan pemerintah pusat pemangku kepentingan Agenda Baru Perkotaan Indonesia tampil dan berdiri tegak.

Saat ini sedang disusun State of Indonesian Cities, rangkaian telaahan dan potret diri kota-kota Indonesia.

Para perencana diminta untuk terbuka, jujur, dan inovatif dalam melakukan evaluasi filosofis, maupun menyiapkan fatwa mazhab kota layak huni Indonesia ke depan.

Selain itu, perlu suatu gerakan warga untuk peduli dan terlibat dalam menciptakan kotanya yang aman, nyaman dan berkelanjutan.

Gerakan "Kota Indonesia Layak Huni" perlu dibudayakan di kalangan warga dan para milenial pemilik masa depan.

KOMPAS.com/DENDI RAMDHANI Suasana pada salah satu taman di Kota Bandung.
Pertengahan tahun ini Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) akan menyelenggarakan survei 2 tahunan, Indonesia Most Livable City Index untuk ke-4 kalinya.

Ini merupakan kesempatan emas bagi kolaborasi warga dan teknokrat dalam penciptaan kota kota yang lebih layak huni.

Angan dan asa kita pun tak perlu terlalu jauh berandai-andai untuk melakukan redefinisi kota layak huni.

Melbourne, Manchester dan Kampung Melayu, kini menjadi satu. Satu nilai, nilai usaha warga untuk terus mencari ruang hidup yang layak, nyaman dan berkelanjutan.

Bagaimana para wali kota dan para perencana? Siapkah?

EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM