Tetanggaku, Tetanggamu - Kompas.com

Tetanggaku, Tetanggamu

Bernardus Djonoputro
Kompas.com - 16/05/2017, 09:18 WIB
www.shutterstock.com Ilustrasi rumah tinggal

TETANGGA itu adalah sebuah kata yang penuh arti. Dalam sebuah lingkungan kota, dia berstatus tetangga saya. Predikat saya pun sama, tetangga dia.

Tilik pengalaman saya bertetangga.

Ketika tetangga sebelah saya selama bertahun-tahun meninggalkan konstruksi rumah setengah jadi tepat menempel di pagar rumah saya, apa yang harus saya lakukan sebagai tetangga?

Tetanggaku sulit dihubungi karena entah di mana. Lalu, siapa yang harus membabat rumput liar yang mulai menjadi sarang nyamuk itu?

Ketika ada kulit-kulit kering bersisik bertebaran tanda ada kehidupan ular di situ, siapa yang paling panik? Dan ketika angin meniup puing-puing sebelah bertebaran ke rumah lain, apa yang harus saya lakukan sebagai tetangga?

Kehidupan bertetangga mungkin adalah salah satu fitur kehidupan perkotaan yang paling melekat pada manusia. Sebagai makhluk sosial, tetangga adalah keniscayaan.

Maka dalam konteks cerita di rumah saya di atas, sayalah yang harus membersihkan ular, memotong sarang nyamuk, menjaga keamanannya. Apakah saya rela, atau pamrih? Perlu bertanya pada rumput yang bergoyang.... seperti kata Ebiet.

Dalam konteks Nusantara, tetangga pun memiliki fungsi hakiki dan strategis di setiap warga negara.

Banyak perihal kemanusiaan terjadi dalam level tetangga (neighborhood). Dari mulai interaksi remaja yang menghasilkan persemaian cinta monyet, sampai berjodoh membangun keluarga.

Dari perkelahian antarlorong, petualangan malam di lokasi layar tancap misbar (gerimis bubar), sampai perselingkuhan di taman sebelah yang lebih hijau rumputnya.

Ruang-ruang privat pun kadang bercampur dengan ruang publik. Penyerobotan ruang pribadi kerap menjadi biang keladi ketidakrukunan.

Pada saat bersamaan, banyak pula potensi kebersamaan terjalin kuat, menghadapi tantangan keamanan, keteraturan, dan siskamling alias begadang bersama tetangga sebelah.

Maka, ruang-ruang kota kita pun niscaya akan nyaman dan berskala manusia, ketika kehidupan bertetangga menjadi basis jalinan interaksi publik.

Lalu, apa masalah kita sehingga akhir-akhir ini banyak di antara kita, baik "laskar" ibu-ibu, anak bau kencur, bapak-bapak pimpinan agama, menjadi baper (bawa perasaan) menghadapi pemilihan kepala daerah sebuah kota?

Mungkin karena kita suudzon atau berburuk sangka, dan selalu melihat rumput tetangga terlalu hijau bagi standar kita. Atau ketidakrelaan melihat kemajuan sepihak di sebelah.

Atau, mungkin juga semata-mata hanya ketidaktahuan akan apa nawaitu atau niat tetangga sebelah dalam berbuat.

Kenapa? Karena tidak kenal. Atau tidak mau kenal?

Maka, sebenarnya fenomena baper di ruang-ruang politik yang sedang kita alami saat ini, seharusnya nya tidak perlu ada. Hanya kekhilafan, karena kurang mau mengenal tetangganya.

Permasalahan terbesar bangsa kita ini adalah karena kita dibesarkan dalam nilai-nilai di mana berlaku sopan lebih penting daripada berbuat benar.

Mempertahankan tentang sesuatu hal baik, dianggap kasar. Dan kita bersembunyi di balik keagamaan untuk membangun identitas diri, daripada mengamalkannya.

Kekhilafan bisa menjadi kedunguan yang merobek-robek esensi bermasyarakat. Seperti tulalit bunyi telepon yang tidak tersambung, "Hello. ... anybody home? Ting tong. Ting tong. .."

Apa kabar tetangga?

EditorAmir Sodikin

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM