Tetanggaku, Tetanggamu - Kompas.com

Tetanggaku, Tetanggamu

Bernardus Djonoputro
Kompas.com - 14/05/2017, 10:07 WIB
KOMPAS.com/Andri Donnal Putera Sejumlah pemuda bermain bola voli di lapangan terbuka yang ada di dalam kompleks rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Marunda, Jakarta Utara, Jumat (21/8/2015). Rusunawa ini baru diramaikan warga menjelang sore hari.

Tetangga itu adalah sebuah kata yang penuh arti. Dalam sebuah lingkungan kota, dia berstatus tetangga saya. Predikat saya pun sama, tetangga dia.

Tilik pengalaman saya bertetangga.

Ketika tetangga sebelah saya selama bertahun-tahun meninggalkan konstruksi rumah setengah jadi tepat menempel di pagar rumah saya, apa yang harus saya lakukan sebagai tetangga?

Tetanggaku sulit dihubungi karena entah di mana. Lalu, siapa yang harus membabat rumput liar yang mulai menjadi sarang nyamuk itu?

Ketika ada kulit-kulit kering bersisik bertebaran tanda ada kehidupan ular di situ, siapa yang paling panik?

Dan, ketika angin meniup puing-puing sebelah bertebaran ke rumah kita, apa yang harus saya lakukan sebagai tetangga?

Kehidupan bertetangga mungkin adalah salah satu fitur kehidupan perkotaan yang paling melekat pada manusia. Sebagai makhluk sosial, bertetangga adalah keniscayaan.

Maka, dalam konteks cerita di rumah saya di atas, saya lah yang harus membersihkan ular, meniadakan sarang nyamuk, menjaga keamanannya.

Apakah saya rela, atau pamrih? Perlu bertanya pada rumput yang bergoyang.... seperti kata Ebiet G Ade.

Dalam konteks Nusantara,  tetangga pun memiliki fungsi hakiki dan strategis di setiap warga negara.

Banyak perihal kemanusiaan terjadi dalam level tetangga (neighborhood). Dari mulai interaksi remaja yang menghasilkan persemaian cinta monyet sampai berjodoh membangun keluarga. Dari perkelahian antarlorong, petualangan malam di lokasi layar tancap misbar (gerimis bubar), sampai perselingkuhan di taman sebelah yang lebih hijau rumputnya.

Ruang-ruang privat pun kadang bercampur dengan ruang publik. Penyerobotan ruang pribadi kerap menjadi biang keladi ketidakrukunan.

Pada saat bersamaan, banyak pula potensi kebersamaan terjalin kuat, menghadapi tantangan keamanan, keteraturan, dan siskamling alias begadang bersama tetangga sebelah.

Maka, ruang-ruang kota kita pun niscaya akan nyaman dan berskala manusia, ketika kehidupan bertetangga menjadi basis jalinan interaksi publik.

Lantas, apa masalah kita sehingga akhir-akhir ini banyak di antara kita, baik laskar ibu-ibu, anak bau kencur, bapak-bapak pimpinan agama menjadi "baper" (bawa perasaan) menghadapi pilkada sebuah kota?

Mungkin karena kita suuzan dan selalu melihat rumput tetangga terlalu hijau bagi standar kita. Atau, ketidakrelaan melihat kemajuan sepihak di sebelah. Atau, mungkin juga semata-mata hanya ketidaktahuan akan apa nawaitu tetangga sebelah dalam berbuat.

Kenapa? Karena tidak kenal. Atau, tidak mau kenal?

Maka, sebenarnya fenomena "baper" di ruang-ruang politik yang sedang kita alami saat ini, seharusnya tidak perlu ada. Hanya kekhilafan, karena kurang mau mengenal tetangganya.

Permasalahan terbesar bangsa kita ini adalah karena kita dibesarkan dalam nilai-nilai di mana berlaku sopan lebih penting daripada berbuat benar. Mempertahankan tentang sesuatu hal baik, dianggap kasar. Dan, kita bersembunyi di balik keagamaan untuk membangun identitas diri daripada mengamalkannya.

Kekhilafan bisa menjadi kedunguan yang merobek-robek esensi bermasyarakat. Seperti tulalit bunyi telepon yang tidak tersambung, "Hello. ... anybody home? Ting-tong... Ting-tong..."

Apa kabar tetangga?

EditorLaksono Hari Wiwoho

Komentar
Close Ads X