Keberagaman yang Anarkis - Kompas.com

Keberagaman yang Anarkis

Bernardus Djonoputro
Kompas.com - 03/04/2017, 17:03 WIB
Kompas.com/Ika Fitriana Pengelola membersihkan lingkungan sekitar Candi Borobudur, Magelang, dalam rangka hari Peduli Sampah Nasional, Jumat (24/2/2017).

Beperjalanan dari Yogyakarta menuju Muntilan dan Magelang, seperti melangkah di atas mesin waktu yang melintasi ruang-ruang budaya dan tradisi.

Kita seolah ditarik masuk dalam roda kehidupan masyarakat Jawa yang dikelilingi oleh lansekap penuh mistis.

Perjalanan 43 kilometer menuju dataran Kedu dalam sistem daerah aliran sungai (DAS) Kali Progo,  dikelilingi gunung-gunung magis Merbabu, Merapi, Sundoro dan Sumbing.

Sudut mata kita tak pelak terpaku pada puncak-puncak yang menjulang, menyiratkan kisah tentang alam yang begitu perkasa.

Kekuatan spiritual koridor dataran ini semakin mencengkeram dengan begitu kokohnya, ketika pemandangan terpapar candi-candi Borobudur,  Pawon,  Mendut,  Asu dan Pandem,  Lumbung,  Canggal,  dan Selogriyo. 

Struktur-struktur ruang hidup ribuan tahun silam itu, seolah menjadi ikatan sejarah masyarakat Jawa yang pluralis.

Bagaimana masyarakat Jawa melintas ruang waktu membangun ruang tempatnya hidup?

Tatanan kehidupan warga dan pola ruang hidup tentu tak lepas dari budaya masyarakatnya. Tengok Magelang,  tempat asal kupat tahu Slamet yang maknyus di dekat alun-alun kota.

Kota ini berasal dari dukuh kembar Mantyasih dan Glanggang pada zaman Raja Balitung sebagai raja Mataram, yang pada perjalanannya menjadi Magelang.

Pada abad ke-18, Inggris menguasai kota ini, dan menunjuk Mas Ngabehi Danukromo sebagai bupati pertama. Ia membangun alun-alun,  masjid, dan rumah residen. Pada 1818, Magelang pun menjadi ibu kota keresidenan Kedu.

Magelang kemudian berkembang menjadi kota pusat ekonomi. Pertandanya, tahun 1918 Belanda membangun Menara Air sebagai utilitas publik.

Untuk pertama kali, listrik masuk Magelang tahun 1927.  Magelang pun tumbuh menjadi kota yang asri, cantik, dengan dominasi rancang kota bagian dari akademi militer.

Di tengahnya, menjelang bukit Tidar dengan ketinggian 520 meter, pesona mistik dan spiritual kota semakin menguat.

Magelang yang berpenduduk 130.000 jiwa, tidak bisa lepas dari hikayat gunung Tidar sebagai pakunya Jawa.

Hikayat ini menjadi pijakan tradisi masyarakat Jawa yang percaya akan keagungan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sangat memengaruhi suburnya budaya Jawa yang pluralis dan menghargai keberagaman sebagai keniscayaan.

Saya bermalam minggu sambil menonton lakon wayang kulit atas undangan Yayasan Tidar. Kisahnya untuk mengenang turunnya berkah dan roh suci Yang Maha Kuasa pada Romo Resi Brotonirmoyo di Gunung Tidar, dan merayakan keberagaman.

Lakon ini merupakan sebuah pergelaran wayang luar biasa karena diawaki oleh pesinden mancanegara Hiromi Kano dari Jepang, Dora Hyorfi dari Hungaria, dan pesinden asal Amerika Serikat Agnes Feroso.

Tentu saja, pergelaran itu membantu saya tertarik mendalami pesona kota yang dibalut nilai-nilai budaya yang kuat ini. Pesona yang layak untuk dijadikan modal bagi Indonesia untuk mengembangkan pariwisata spiritual, sambil terus mengembangkan nilai luhur pluralisme yang kian mahal.

Paradoks Keseragaman

Sebenarnya Magelang bisa menjadi contoh bagaimana kota Jawa tumbuh dan berkembang sampai saat ini.

Berangkat dari filosofi pemilikan hak atas tanah hila hila atau tanah suci dalam masyarakat hukum.

Ruang kota Jawa tidak lepas dari adat Jawa yang mengenal istilah “sedumuk batuk senyari bumi tan lakoni pecahing dodo lutahing ludiro”.

Saya coba memahami sebagai cara memandang tanah sebagai hal yang sangat sakral. Sakral bagaikan pembelaan kehormatan seorang istri oleh suaminya, sampai perlu mempertaruhkan tumpahnya darah dan regangnya nyawa.

Filosofi ini mendasari perilaku menjaga kawasan adat dari kerusakan, yang bisa mengancam keberlanjutan eksistensi dalam kehidupan masyarakat hukum adat.

Namun struktur ruang ribuan tahun ini tidak bisa menolak perkembangan peradaban dan kemajuan zaman. Dataran Kedu terus bertumbuh dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan metropolitan Yogyakarta.

Sepanjang 43 kilometer saya berjalan, kiri kanan adalah tutupan ruko, yang diikuti ruko selanjutnya. Keseragaman sepanjang 43 kilometer.

Begitu luar biasanya pembangunan sepanjang pita jalan nasional, kita bisa menebak setelah mini market, pasti ada ATM, dan kantor Pegadaian, masjid, kemudian bank BUMN.

Dan 2 kilometer kemudian, kembali setelah mini market, tak sulit memastikan bahwa tak jauh akan ada ATM, kantor Pegadaian,  masjid, bank BUMN, dan begitu seterusnya hingga perjalanan habis. Terus berulang seragam, sepanjang 43 kilometer. Bahkan, batas masuk kota pun sudah tidak lagi tampak.

Maka, ketika kita bertanya, ada apa di balik jajaran ruko sepanjang 43 kilometer itu?

Jangan heran, kalau Anda jumpai ketimpangan, kemiskinan dan kerusakan bentang alam akibat ekstensifikasi perambahan untuk bertahan hidup.

Ini seperti paradoks yang sedang kita alami akhir-akhir ini. Suasana usaha penyeragaman koridor keyakinan dan asal-usul,  terasa menghimpit hak hila-hila.

Di balik gugusan pongahnya keseragaman,  ada ketimpangan dan luka pada nilai-nilai luhur kita.

Hari ini saya belajar. Kita harus keluar dari jaring anarkisme ini, dan terus beri pupuk kesuburan nilai-nilai suci keberagaman.

EditorHilda B Alexander

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM