Dampak Krisis Freeport, Okupansi Hotel di Timika Anjlok 30 Persen - Kompas.com

Dampak Krisis Freeport, Okupansi Hotel di Timika Anjlok 30 Persen

Kompas.com - 20/03/2017, 10:19 WIB
shutterstock ilustrasi hotel

TIMIKA, KompasProperti - Para pelaku usaha jasa perhotelan di Timika, Kabupaten Mimika, Papua, mulai merasakan dampak krisis yang menimpa PT Freeport Indonesia.

Manajer Hotel Noken Timika Wisnu Aji mengatakan tingkat hunian hotel-hotel di Kota Timika kini menurun drastis hingga 30 persen.

Jika krisis yang menimpa PT Freeport Indonesia terus berlanjut, dapat dipastikan sebagian usaha perhotelan di Timika gulung tikar.

"Tingkat hunian di Hotel Noken Timika biasanya 60 persen sampai 70 persen. Tapi mulai pertengahan Februari, menurun jauh sampai 30 persen. Gonjang-ganjing yang terjadi di PT Freeport sangat mempengaruhi usaha perhotelan," kata Wisnu, seperti dikutip Antara, Senin (20/3/2017).

Wisnu menuturkan, tamu yang menginap di Hotel Noken Timika sebagian besar merupakan karyawan PT Freeport Indonesia maupun karyawan perusahaan-perusahaan sub-kontraktornya.

Pengelola hotel yang beralamat di Jalan Cenderawasih Timika itu memberikan potongan harga khusus bagi karyawan-karyawan yang bekerja di sana.

Kondisi seperti ini, aku Wisnu, bukan hanya menimpa Hotel Noken, melainkan hotel-hotel lainnya di Timika.

ThinkStock ILUSTRASI - Kamar hotel
Dia menjelaskan, periode Desember-awal Januari biasanya tamu hotel berkurang karena karyawan-karyawan tersebut pulang liburan ke daerah asal.

"Nanti agak ramai lagi mulai pertengahan Januari. Tapi begitu masuk Februari terjadi gejolak di Freeport dimana imbasnya sangat berat buat kami," kata Wisnu.

Hotel Noken Timika menyediakan 58 kamar, terdiri atas dua kamar deluxe room, delapan kamar superior room dan sisanya kamar standar. Tarif menginap di Hotel Noken Timika bervariasi mulai dari Rp 400.000 per malam.

Dukungan Pemkab Mimika

Wisnu menyoroti kurangnya peran serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika maupun organisasi PHRI serta ASITA yang masih sangat lemah guna mendorong pertumbuhan bisnis perhotelan.

Menurut dia, pelaku usaha perhotelan terkesan jalan sendiri, tanpa pernah ada dukungan riil dari para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan.

Wisnu mengisahkan, selama delapan tahun membuka usaha perhotelan di Timika, belum pernah ada kegiatan pembinaan dari Pemkab Mimika.

"Selama ini kami jalan sendiri-sendiri alias cari hidup masing-masing. Kalau mau jujur, Pemkab Mimika hanya berkepentingan dengan perhotelan saat menarik pajak saja, di luar itu sama sekali tidak ada," ungkap Wisnu.

ILUSTRASI - Kamar hotel dengan twin bed
Karena itu, pebisnis perhotelan mengharapkan Pemkab Mimika membuka seluas-luasnya akses dan informasi tentang potensi pariwisata di Kabupaten Mimika.

Hal ini mengingat ada banyak potensi alam di wilayah itu yang bisa dijual untuk menarik arus kunjungan wisatawan.

Timika itu, tambah Wisnu, tidak hanya soal PT Freeport Indonesia dengan pertambangannya yang sudah dikenal sampai ke mancanegara.

Masih banyak potensi wisata andalan Mimika seperti Puncak Cartensz, Taman Nasional Lorentz yang kaya vegetasi hutan bakau dan berbagai macam satwa langkanya.

"Belum lagi wisata bahari di sepanjang pesisir Mimika dengan keindahan pasir putihnya yang tidak kalah dengan daerah lain serta seni budaya masyarakat Amungme dan Kamoro yang unik," papar Wisnu.

Dia pun berharap Pemkab Mimika dapat membuat paket-paket promosi ke lokasi-lokasi wisata andalan itu untuk dijual, sekaligus menata potensi-potensi wisata melalui kerja sama dengan semua pihak, termasuk perhotelan.

EditorHilda B Alexander
SumberANTARA
Komentar
Close Ads X