Berubah Tiap Tahun, Tren Keramik Sudah seperti Gawai - Kompas.com

Berubah Tiap Tahun, Tren Keramik Sudah seperti Gawai

Arimbi Ramadhiani
Kompas.com - 08/03/2017, 20:00 WIB
rubbletile.com Lantai heksagonal

JAKARTA, KompasProperti - Keramik merupakan bagian interior yang fungsinya terhitung signifikan, dan dibutuhkan.

Di rumah-rumah sederhana, keramik kini juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan, baik itu digunakan sebagai pelapis lantai, maupun untuk kloset.

Meski demikian, fungsi keramik sudah jauh melebihi itu. Saat ini, desain interior juga melibatkan peran keramik sebagai estetika.

"Dulu (keramik) hanya untuk lapisan lantai, sekarang bagian dari desain. Banyak pemilik rumah bahkan melakukan renovasi mengganti keramik untuk mengikuti tren," ujar Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga saat jumpa pers Keramika 2017, di Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Pada Keramika 2017 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), 16-19 Maret 2017, masyarakat dapat melihat berbagai jenis keramik dari segi motif desain atau pembuatannya.

Bagi orang-orang yang berkecimpung di industri keramik, pameran Keramika 2017 membuka kesempatan untuk melihat teknologi baru.

"Pengguna bisa melihat luasnya motif dan jenis yang sekarang dihasilkan dari industri keramik. Dulu kan keramik ukurannya baku, hanya 30x30 sentimeter, 40x40 sentimeter, atau 50x50 sentimeter," sebut Elisa.

Perkembangan teknologi, tambah dia, dapat mengikuti imajinasi manusia sehingga ukuran yang dihasilkan tidak baku.

Elisa mencontohkan, keramik dengan ukuran tidak biasa seperti 37x97 sentimeter, bisa dibuat sesuai kebutuhan dengan teknologi cutting.

"Bentuk heksagonal juga ada. Sistem joint (sambungan) sudah bagus, interlock-nya," tutur Elisa.

Hal ini, lanjut dia, membuat pilihan konsumen lebih beragam. Perkembangn ini pula yang membuat banyak pemilik rumah yang setiap 2-3 tahun mengganti keramiknya.

Padahal, dulu keramik cenderung dipasang sekali dalam seumur hidup dan tidak pernah ganti selama penghuni tinggal di satu rumah.

Elisa mengibaratkan hal ini seperti mengikuti perkembangan teknologi gawai yang tidak ada habisnya.

Kini, pengguna juga seringkali mengganti ponsel pintar dalam kurun waktu 2-3 tahun, meski ponsel lamanya masih berfungsi normal.

"Keramik juga perlu tiap tahun dikenali. Mungkin perkembangannya bisa berubah dan (konsumen) mengganti keramik 2-3 tahun, bagi yang mampu," ucap Elisa.

PenulisArimbi Ramadhiani
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X