Selasa, 28 Maret 2017

Properti

Rumah Amfibi, Solusi Hunian Anti-banjir

Wijanarka Arka Model pondasi apung dengan turbin milik Wijanraka Arka.

JAKARTA, KompasProperti - Banjir merupakan masalah beberapa kota besar di Indonesia dan kerap menimbulkan kerusakan.

Area terdampak banjir sering kali merupakan lahan basah atau bantaran sungai yang memang tidak diperuntukkan sebagai kawasan permukiman.

Oleh sebab itu, arsitek sekaligus dosen jurusan arsitektur Universitas Palangkaraya Wijanarka Arka melakukan riset pembangunan rumah amfibi.

Menurut Arka, apabila lahan basah dan bantaran sungai tetap menjadi pilihan sebagai kawasan permukiman, alangkah baiknya bila permukiman yang diciptakan tersebut bersahabat dengan air.

"Alternatif arsitektur anti-banjir ini dapat diwujudkan melalui konsep rumah amfibi," tutur Arka, kepada KompasProperti, Kamis (2/3/2017).

Konsep rumah amfibi ini dibangun di atas tanah, tetapi yang membedakannya adalah apabila terkena banjir rumah ini dapat mengapung.

Di dalam risetnya, Arka menyebutkan, rumah amfibi cocok untuk dibangun di lingkungan yang rawan terkena banjir dengan ketinggian minimal satu meter.

Yang menjadi fondasi pengapung pada rumah amfibi ini adalah drum-drum plastik. Material ini paling efisien digunakan sebagai bahan apung untuk rumah amfibi.

"Selain itu, drum plastik bisa dibeli dalam bentuk bekasnya yang tentunya lebih murah daripada harga barunya," kata dia.

Ketika terjadi banjir dan sekeliling bangunan terendam, konstruksi apung yang dipegang oleh dua hingga empat tiang atau lebih akan mengangkat bangunan untuk bisa mengapung.

"Agar tidak terlalu membebani konstruksi apung, bahan bangunan yang dipilih adalah bahan-bahan yang ringan dan ramah lingkungan," tambah Arka.

Penulis: Ridwan Aji Pitoko
Editor : Hilda B Alexander
TAG:

TERPOPULER