Rencana Proyek Terowongan di Bawah Stonehenge Picu Kontroversi - Kompas.com

Rencana Proyek Terowongan di Bawah Stonehenge Picu Kontroversi

Ridwan Aji Pitoko
Kompas.com - 18/01/2017, 20:30 WIB
Batu-batu Stonehenge di Inggris.

LONDON, KOMPAS.com - Salah satu objek arkeologi paling terkenal di Inggris diprediksi bisa segera memiliki terowongan di bawahnya.

Pemerintah Inggris telah membocorkan rencana pembangunan terowongan sepanjang 2,89 kilometer di bawah Stonehenge sebagai bagian dari investasi infrastruktur senilai 2,4 miliar dollar Amerika Serikat (AS).

Infrastruktur ini diharapkan bisa memangkas kepadatan lalu lintas daerah di sekitarnya.

Namun, tidak semua orang di Negeri Ratu Elizabeth itu senang dengan rencana pemerintah tersebut.

Pasalnya, para ahli menganggap terowongan itu bisa menghancurkan artefak yang belum ditemukan.

Menurut Departemen Transportasi Inggris, upaya pembangunan dilakukan untuk membuat jalan nasional A303 mendapat peningkatan kualitas menjadi lebih nyaman.

Selain itu juga akan menampilkan performa rute kelas tinggi melalui peningkatan kapasitas perjalanan jutaan orang.

Salah satu yang masuk dalam rencana itu adalah pembangunan terowongan di bawah situs bersejarah Stonehenge.

Pemerintah mengatakan, terowongan itu akan menghilangkan kemacetan dan meningkatkan perekonomian lokal.

Di sisi lain, English Heritage, sebuah badan amal pengelola lebih dari 400 situs bersejarah di Inggris mendukung pembangunan terowongan.

Sementara UNESCO yang pada 1986 menunjuk Stonehenge sebagai Situs Warisan Dunia mengatakan bisa mengerti maksud di balik tujuan tersebut, tetapi belum melihat rencana akhirnya seperti apa.

Sedangkan sejarawan Tom Holland mengkhawatirkan nantinya terowongan tersebut mampu menghancurkan lokasi kunci situs sejarah.

"Penelitian menunjukkan bahwa Stonehenge merupakan tempat kelahiran Inggris dan asal usulnya permukiman kembali ke sana setelah Zaman Es," ujarnya.

Lebih lanjut Tom mengatakan, hal yang tak bisa diterima kemudian adalah pembangunan terowongan yang mungkin hanya akan bertahan 100 tahun dan mengorbankan lanskap yang terbentuk selama ribuan tahun.

Ketua Museum Amnesbury Andy Rhind-Tutt juga menjadi pihak yang resisten terhadap rencana terowongan tersebut.

Menurutnya, terowongan tidak akan benar-benar mampu menghilangkan kemacetan dan sebaliknya seperti seolah menanam bom waktu untuk kehancuran permanen salah satu lanskap arkeologis terbesar di dunia.

Pemerintah Inggris sendiri bukannya tertutup dengan saran publik. Buktinya, mereka membuka kesempatan bagi masyarakatnya untuk mengomentari rencana pembangunan terowongan hingga 5 Maret 2017.

Pemerintah juga berencana mengumumkan rute yang lebih disukai pada bulan-bulan berikutnya.

Menurut Juru Bicara Dinas Bina Marga setempat, jika sesuai rencana maka konstruksi bisa dimulai pada 2020 dan diselesaikan dalam kurun waktu empat tahun mendatang.

PenulisRidwan Aji Pitoko
EditorHilda B Alexander
SumberInhabitat,
Komentar
Close Ads X