Sabtu, 22 November 2014
METROPOLITAN
Depok yang Macet dan Gersang....
Penulis : Latief | Sabtu, 21 September 2013 | 11:21 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/M. LATIEF
RTH di Depok saat ini hanya 13 yang mencakup publik dan pribadi, sehingga perlu diatur ulang.
DEPOK, KOMPAS.com — Pembenahan tata ruang, termasuk pembenahan infrastruktur mau tak mau harus segera dilakukan Pemerintah Kota Depok. Wajah kota ini semakin dihantui kemacetan, panas gersang, dan tanpa ciri khas di tengah meningkatnya pembangunan yang seolah tanpa konsep yang jelas. 

Sebagai kawasan yang dianggap pusat pembangunan, Margonda Raya selalu macet saat peak hours. Bahkan, tiap akhir pekan, kawasan Juanda sebagai jalan alternatif yang baru dibangun sebagai pendukung Margonda, juga macet.

Sebagai kawasan bergengsi kota ini, Margonda juga sangat gersang. Pepohonan di sepanjang ruas jalan ini benar-benar "bersih". 

"Rencana pembangunan (RT\RW) di Depok tidak terarah, sepertinya tak punya konsep yang jelas. Semua pembangunan hanya pada satu titik saja, terpusat di Margonda," tutur P Anggoro (37), warga Depok.

Menurut dia, sudah saatnya izin trayek angkutan kota ditinjau ulang agar tidak terlalu mudah diberikan tanpa memperhatikan kondisi jalan serta volume kendaraan yang melintas. Seperti bisa dilihat, lanjut Anggoro, ada beberapa "terminal bayangan" di beberapa titik jalan, sementara sarana dan prasarana bagi pejalan kaki tidak maksimal karena kadung diserobot pedagang dan pemilik usaha di sepanjang jalan sejak gerbang utama Margonda.

"Tanpa trotoar memadai dan jembatan penyeberangan, ini yang menyebabkan macet sepanjang hari. Pelebaran jalan yang dua tahun lalu dilakukan, ternyata hasilnya tidak bisa dinikmati, karena pemilik kafe dan pedagang malah menyerobotnya," ujarnya.

Anggoro bilang, dengan hanya memusatkan pembangunan di Margonda, Depok benar-benar tidak punya konsep pembangunan yang jelas. Padahal, lanjut dia, Depok yang diharapkan sebagai kota penyangga bagi Jakarta berfungsi sebagai daerah resepan air dan daerah konservasi.

"Yang ada sekarang malah menjadi kota jasa perdagangan. Itu tentu bagus, cuma tidak dibarengi pembenahan infrastruktur, seperti jalan. Pasti, selamanya akan macet terus," katanya.

Warga lainnya, Ahmad Rizali, mengatakan, Depok seharusnya mudah diatur karena relatif homogen. Hanya, ia menyayangkan sikap pemerintah Kota Depok yang terkesan tidak peduli dengan tata kelola lingkungan hidup sehingga menebang habis pohon di kawasan Margonda.

"Depok terlihat tumbuh tanpa ciri kota, menggelinding begitu saja. Sebagai warga Depok, saya kecewa. Harusnya Depok bisa cantik. Pada malam hari Margonda itu bisa menjadi kawasan kuliner yang tertata rapi," ujar pengamat pendidikan ini.

Rizali mengatakan, Depok kini semakin menjadi kota suburban DKI Jakarta yang tidak teratur dan macet. Pada jam-jam sibuk, kemacetan sudah pasti tidak bisa dihindari. 

Menanggapi hal itu, pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, sangat menyayangkan kondisi tersebut. Menurut dia, Depok secara komersial berkembang pesat, khususnya hanya di Margonda.

"Namun untuk perumahan relatif belum terlalu meningkat signifikan. Terkait aksesibilitas, itulah dampak kota yang berkembang tanpa disertai kesiapan tata ruang. Pembenahan tata ruang, termasuk pembenahan infrastruktur, mau tak mau harus segera dilakukan pemerintah kotanya," ujar Ali.

Sebelumnya, kepada Kompas.com, Jumat (13/9/2013) pekan lalu, pengamat perkotaan, Marco Kusumawijaya, pernah mengatakan bahwa Depok dalam tataran realitas telah mengalami diskoneksi (keterputusan) dengan sumber-sumber daya yang dimilikinya. Kota ini terlalu berorientasi pada Jakarta, tetapi abai mengelola potensi yang justru bisa dijadikan nilai tambahnya (Baca: Depok dalam Angka, Potret Ketidakcerdasan Pengelola Kota).

Salah satu potensi tersebut tergambar pada pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2012 IPM kota dengan 11 kecamatan ini sebesar 79,49. Angka ini merupakan IPM tertinggi di Jawa Barat dan urutan ke-3 di tingkat nasional.

"Siapa tidak kenal Universitas Indonesia (UI). Perguruan tinggi terbesar dan paling populer di negara ini, menyimpan periset-periset dan dosen andal. UI harusnya bisa menghasilkan lebih dari sekadar periset, melainkan pekerja-pekerja kreatif. Merekalah yang seharusnya berkontribusi menyumbangkan gagasan, pemikiran, sekaligus produk yang ramah industri dan kapital sehingga bernilai ekonomis bagi depok," papar Marco.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Geliat Pembangunan Depok