Jumat, 31 Oktober 2014
SIMPOSIUM NASIONAL
Yuk..., Mengupas Kembali Proyek Jembatan Selat Sunda!
Penulis : M Latief | Kamis, 18 Juli 2013 | 19:51 WIB
|
Share:
LTF
Simposium Nasional yang membahasa peran arsitek dalam proyek Jembatan Selat Sunda akan digelar pada 5 September 2013 mendatang di Bidakara, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com -
Produk konstruksi seperti jembatan tetap memerlukan sentuhan seorang arsitek agar kesan kaku akan tereliminasi secara maksimal dengan tidak mengurangi kondisi strukturalnya. Pada pembangunan mega proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) misalnya, paradigma berpikir masyarakat perlu lebih terbuka, bahwa arsitek juga terlibat dalam desain dan perencanaan JSS sebagai sebuah produk konstruksi.

"Selama ini publik lebih terpaku pada megahnya proyek ini dan rencana pembangunannya, tetapi lupa bahwa banyak efek turunan dari sisi sosial dan budaya dari pembangunan JSS. Di sinilah arsitek perlu berperan," ujar Ahmad Arifin Lubis, Ketua Pelaksana Simposium Nasional "Arsitektur Jembatan Selat Sunda" dalam rangka 30 tahun jurusan arsitektur ISTN Jakarta, Kamis (18/7/2013), di Jakarta.

Lubis mengatakan, pembangunan mega proyek yang kerap disebut Kawasan Strategis Industri Selat Sunda (KSISS) ini dapat menjadi pemicu bagi perkembangan potensi kawasan daerah yang dilalui oleh proyek ini. Selain berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi Nasional, tidak tertutup juga kemungkinan berdampak negatif.

"Peran arsitek nanti bukan hanya memberikan output dari sisi desain dan lain-lainnya terkait jembatan ini, tapi juga efek sosial budayanya. Ini akan kami bahas di simposium bersama rekan-rekan dari disiplin ilmu lainnya," kata Lubis.

Ketua Ikatan Alumni Arsitektur (INIArs) ISTN, Ir Jane Kathrina, mengungkapkan bahwa keinginan merealisasikan mega proyek JSS hingga saat ini masih menjadi harapan bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di Pulai Sumatera dan Jawa. Dengan demikian, peran arsitek perlu dikuatkan untuk menjadikan JSS sebagai salah satu karya arsitektur yang memiliki kekhasan dalam hal bentuk dan fungsi, dis amping perpaduan seni dan teknologi.

"Sehingga bentuk maupun desain jembatan menjadi lebih estetis, fungsional dan memiliki kekuatan maksimal dari sisi struktur dan konstruksinya tanpa melupakan estetikanya," ucap Jane.

Simposium Nasional ini akan digelar pada 5 September 2013 mendatang di Bidakara, Jakarta. Hadir sebagai pembicara antara lain Dr Ir Wiratman Wangsadinata dan Ir Tatang K Djajasudarman, Prof Dipl Ing Soewondo B Soetedjo, serta Ir Ben Sugami, dan beberapa lainnya. Dalam simposium ini akan dipaparkan pelaksanaan konstruksi bawah laut sebagai sumbang saran bagi pemerintah terkait pembangunan JSS.

"Akan dibahas bagaimana teknologi konstruksinya, kualitas bahan materialnya, metode pekerjaan dengan manajemen konstruksi standar internasional yang tentu sangat bermanfaat bagi para arsitek maupun insinyur pelaku industri konstruksi di Indonesia," ujar Jane.

 
 
 

Editor :
Hilda B Alexander