Jumat, 1 Agustus 2014
PERUMAHAN NASIONAL
Harga Rumah "Gila-gilaan" Belum Picu "Bubble"?
Senin, 13 Mei 2013 | 12:15 WIB
|
Share:
www.shutterstock.com
Harga rumah tapak dalam kurun tiga tahun terakhir mengalami kenaikan hampir 100 persen. Pada triwulan I-2013, harga rumah tapak rata-rata naik 25,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gejala harga yang terus melambung diingatkan pengamat ekonomi A Tony Prasetiantono berpeluang menimbulkan masalah dalam kredit perumahan (subprime mortgage). Hal ini seperti yang pernah dialami Amerika Serikat pada 2008 lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya (Ngeri... Harga Rumah Mulai Tak Terkendali!), bahwa harga perumahan, baik apartemen maupun rumah tapak, di sejumlah kota besar di Indonesia mulai tak terkendali. Hal itu dikhawatirkan memicu gelembung properti dan tersendatnya pemenuhan kebutuhan rumah bagi rakyat kebanyakan.

Berdasarkan data Konsultan Properti Cushman & Wakefield Indonesia, rumah tapak dalam kurun tiga tahun terakhir mengalami kenaikan hampir 100 persen. Pada triwulan I-2013, harga rumah tapak rata-rata naik 25,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Harga perumahan, baik apartemen maupun rumah tapak, di sejumlah kota besar di Indonesia mulai tak terkendali. Tahun lalu, harga rumah tapak tercatat meningkat 27,8 persen jika dibandingkan dengan tahun 2011. Pada 2011, kenaikan harga rumah tapak mencapai 27,7 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Namun demikian, Presiden Komisaris Grup Paramount Elizabeth Sindoro (56) berpendapat, harga rumah yang saat ini dinilai "gila-gilaan" belum memicu gelembung.

"Perekonomian Indonesia saat ini bagus. Kelas menengah terus tumbuh. Mereka membutuhkan rumah baru. Tiga puluh persen pembeli rumah di Paramount Serpong berasal dari luar Jabodetabek. Mereka menjadikan rumah di sini sebagai rumah kedua," kata Elizabeth.

Harga rumah di Paramount Serpong saat ini minimal Rp 2 miliar untuk luas tanah 126 meter persegi. Meski demikian, 40 persen membeli dengan cara tunai keras dan tunai berjangka, selebihnya 60 persen melalui kredit pemilikan rumah (KPR). Para pembeli rumah dari luar Jabodetabek berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Elizabeth menilai, pertumbuhan ekonomi di daerah juga sangat pesat. Begitu pula penjualan perumahannya.

Ciputra, sebagai salah satu pengembang properti terkemuka nasional, membuat penjualan rumah mewah di Makassar, Sulawesi Selatan, laris manis. Sebanyak 1.800 unit rumah di Citraland Celebes dan Citra Garden habis terjual selama empat tahun terakhir.

Komisaris Utama Grup Galesong Jacky Purnama mengemukakan, Citraland Celebes mulai dipasarkan empat tahun lalu dengan harga termurah Rp 800 juta hingga Rp 2,4 miliar. Sekitar 800 rumah yang dibangun pada sembilan kluster habis terjual dalam waktu dua tahun. Saat ini harga jual rumah di Citraland Celebes naik 10-15 persen per tahun.

"Kenaikannya bisa melejit hingga 30-40 persen per tahun saat pengembangan Citraland Celebes selesai tahun 2016," ujar Jacky.

Itu sebabnya, cukup banyak pembeli dari Jayapura, Manado, Kendari, dan Palu, yang sekadar berinvestasi. Bukan hanya rumah, apartemen juga laku keras.

Berdasarkan data Konsultan Properti Colliers International Indonesia, proyek apartemen yang tuntas dibangun pada umumnya terserap pasar hingga 80-90 persen. Adapun proyek apartemen yang masih dalam tahap pembangunan rata-rata diklaim sudah terserap 60 persen.

Saat ini Indonesia diprediksi masih akan menjadi tujuan investasi properti karena suku bunga kredit perumahan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, dan bertumbuhnya kelas menengah. Namun, tingginya permintaan mengakibatkan kenaikan harga sulit terbendung. (ART/RAY/BRO/ABK/ RIZ/KSP/LKT/NDY)

Sumber :
Kompas Cetak

Editor :
Latief