Sabtu, 25 Oktober 2014
TREN PROPERTI
Negeri Kiwi Diguncang "Booming" Properti
Penulis : M Latief | Jumat, 10 Mei 2013 | 15:12 WIB
|
Share:
www.shutterstock.com
Kota Wellington, Selandia Baru.

WELLINGTON, KOMPAS.com - Ledakan atau booming perumahan di kota-kota terbesar Selandia Baru mulai mengancam stabilitas sistem keuangan negara. Bank sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBZ) sejak Rabu (7/5/2013) lalu memperingatkan, suku bunga rendah dan membaiknya sentimen di pasar keuangan global mengakibatkan kenaikan kredit rumah tangga selama enam bulan terakhir dan memicu gelembung pasar properti.

Masalah perumahan, berdasarkan analisa bank, kini menjadi masalah terburuk di kota terbesar Selandia Baru, Auckland, dan di Christchurch yang tengah membangun kembali pascagempa 2011. Harga rumah di kedua kota itu saat ini mendekati rekor 33,6 miliar dolar AS atau setara Rp 321 triliun.

Reserve Bank of New Zealand mengatakan, Selandia Baru sejauh ini berusaha menghindari kejatuhan pasar properti yang telah mempengaruhi negara-negara lain. Namun demikian, kenaikan harga lebih lanjut akan meningkatkan kerentanan sektor keuangan, dengan dampak potensial terhadap perekonomian secara keseluruhan.

"Jika koreksi harga rumah dipicu oleh peristiwa eksternal seperti karena guncangan keuangan dan ekonomi yang besar di mitra dagang utama, mengurangi permintaan ekspor yang akan menambah tekanan naik pada pengangguran," tulis Reserve Bank of New Zealand.

Bank mengatakan, pihaknya meningkatkan jumlah modal bank yang harus dipertahankan untuk mendukung ekuitas hipotik yang rendah, menciptakan penyangga (buffer) yang lebih besar terhadap guncangan sistem keuangan.

"Ini akan memperkuat kapasitas sistem perbankan untuk menghadapi penurunan sektor perumahan, dan juga akan mendorong bank-bank untuk meninjau pinjaman berisiko mereka," katanya.

Adapun suku bunga resmi Selandia Baru tetap dipertahankan di 2,5 persen sejak Maret 2011 dan bank sentral pada bulan lalu mengatakan pihaknya tidak mungkin bergerak (menaikkan suku bunga) tahun ini.

Sumber :

Editor :
Latief