Rabu, 17 September 2014
HOTEL
Balik Modal Hotel Bujet 7 Tahun
Penulis : Hilda B Alexander | Kamis, 9 Mei 2013 | 16:16 WIB
|
Share:
www.houzz.com
Ilustrasi; Dana untuk membangun hotel murah kurang dari Rp 100 miliar. Namun, masa pengembalian investasi terhitung cepat. Itulah mengapa, beberapa pengembang besar menggarap pasar menengah bawah ini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mudah dimafhumi, jika sekarang ini hotel bujet (ekonomis) bertebaran di seantero Nusantara. Mulai dari kota besar, kota menengah hingga kota setingkat kecamatan, kedatangan hotel-hotel murah. Mereka ini tidak saja dikembangkan oleh pemain yang bergelut di industri hospitalitas atau properti. Semua orang, siapa pun yang memiliki fulus cukup, bisa membangunnya.

Saat ini kami tengah menggarap pembangunan CitraDream di sejumlah kota di Indonesia. CitraDream merupakan brand hotel bujet yang kami bangun dan kelola sendiri di bawah PT Ciputra Hospitality.
-- Artadinata Djangkar

Bagaimana tidak menjadi fenomena jika dengan kalkulasi paling sederhana saja, sebuah hotel bujet dapat dibangun hanya berbekal dana senilai kurang dari Rp 100 miliar. Angka ini sudah termasuk investasi tanah di lokasi premium. Jumlah lebih rendah bisa kita hitung jika lahannya berlokasi di jalur kolektor (bukan jalan utama) dan telah dimiliki beberapa tahun sebelumnya. Sebut saja @HOM Premium Yogyakarta.

Direktur Utama PT Nirwana Kandara, pengembang @HOM Premium Yogyakarta, Yuda Widjaja mengakui hanya menggelontorkan dana Rp 10 miliar. Kebetulan, lahannya sudah mereka miliki lima tahun sebelumnya. Mereka hanya mengalokasikan dana investasi untuk biaya konstruksi.

Belum lagi kinerja berupa tingkat okupansi yang menunjukkan kurva positif. Selama 2012 hingga kuartal I 2013, menurut Jones Lang LaSalle, tingkat huniannya selalu di atas 70 persen. Dengan tarif sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000, pemilik hotel akan mendapat keuntungan hanya pada tingkat hunian 60%. Lebih dari itu, pundi bakal semakin membengkak.

Menurut Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar, pihaknya menganggarkan dana sekitar Rp 40 miliar-Rp 50 miliar untuk mengembangkan satu hotel ekonomis. Lokasinya berada di pusat kota, strategis dan memiliki aksesibilitas memadai. Dengan tarif per malam Rp 350.000-Rp 450.000, Arta mengasumsikan dapat mencapai pengembalian modal (break even point/BEP) dalam waktu 6 hingga 8 tahun ke depan.

"Saat ini kami tengah menggarap pembangunan CitraDream di sejumlah kota di Indonesia. CitraDream merupakan brand hotel bujet yang kami bangun dan kelola sendiri di bawah PT Ciputra Hospitality," tutur Artadinata kepada KOMPAS.com di Jakarta, Rabu (8/5/2013). CitraDream akan hadir di Cirebon, Semarang, Banjarmasin, Bengkulu, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Asumsi Arta diamini Direktur Pelaksana Metropolitan Golden Management (MGM) Basari Bachri. Menurutnya, return on investment hotel kelas menengah, baik budget, bintang dua maupun tiga, lazimnya 7 tahun.

"Kami mengelola brand Horison, @HOM Premium, Aziza dan lain-lain yang kami kalkulasikan dapat mencapai pengembalian investasi kurang dari sepuluh tahun," ujar Basari.

 


Editor :
Hilda B Alexander