Sabtu, 30 Agustus 2014
HOTEL
Kota-kota Ketiga Indonesia Semakin Dilirik
Penulis : Hilda B Alexander | Selasa, 7 Mei 2013 | 18:49 WIB
|
Share:
KOMPAS.COM/FELICITAS HARMANDINI
Kegiatan pembatik di Pusat Batik Cina Peranakan Liem Ping Wie di kawasan Kedung Wuni, Pekalongan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kota-kota ketiga (third-tier) di Indonesia mulai memperlihatkan kemajuan. Berbagai fasilitas dibangun guna memenuhi kebutuhan publik, mulai pergudangan, kawasan industri, hotel, pusat belanja dan lain-lain. Apa yang menyebabkan kota ketiga macam Cirebon, Cimahi, Pekalongan, Purwokerto, Madiun, dan lain-lain ini mampu menarik minat investor?

Andreas Kartawinata, praktisi properti yang menggagas akuisisi Tristar Land atas Cirebon Super Blok, kota-kota ketiga di Indonesia memiliki daya tarik dan keunggulan komparatif yang khas dengan kota kedua bahkan ibukota provinsi.

"Cirebon dan Sampit, di mana Tristar Land mengembangkan proyek multifungsi unggul dalam potensi pariwisata dan industri pendukung seperti home industry," ujar Andreas.

Potensi-potensi tersebut, lanjut dia, harus dieksplorasi dan dipromosikan secara maksimal melalui wahana yang tepat. Sementara dukungan pengembang bisa dilakukan dengan cara mengakomodasi hasil industri rumah tangga dalam ruang-ruang ritel modern menarik.

Seperti saat ini, Metropolitan Golden Management (MGM) tertarik menggarap pasar di kota-kota ketiga, seperti Purwokerto dan Pekalongan, karena pesona industri batik rumahan. Menurut Corporate PR MGM Indira Ratu Patimasang, industri batik rumahan merupakan strength point yang terlalu kuat untuk diabaikan.

"Hotel terbaru kami, Horison Pekalongan berada dekat dengan sentra kerajinan batik ini agar wisatawan yang bermalam di sini dapat langsung menikmati proses membatik, bahkan memborong hasil kerajinan masyarakat kota ini," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (7/5/2013).

Selain Tristar Land dan MGM, pemain properti lain yang mulai menggali potensi kota ketiga di Indonesia adalah kelompok Ciputra dan Lippo. 


Editor :
Latief