Kamis, 30 Oktober 2014
TREN PROPERTI
Orang Indonesia "Kuasai" Properti Pinggiran Singapura
Penulis : Hilda B Alexander | Jumat, 3 Mei 2013 | 18:28 WIB
|
Share:
Shutterstock
Preferensi orang asing, terutama asal Indonesia, mengalami perubahan seiring diberlakukannya pengenaan tambahan biaya meterai untuk transaksi properti. Mereka tidak lagi memburu properti di kawasan CBD SIngapura, melainkan di kawasan pinggiran dengan ekspektasi keuntungan lebih tinggi.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Setelah China, orang Indonesia tercatat sebagai pembeli properti terbanyak di Singapura. Investor asal kedua negara ini menempati peringkat pertama orang asing yang memborong rumah. Mereka tak hanya "menguasai" properti di pusat kota (kawasan CBD) juga kawasan pinggiran Negeri Singa ini.

Menurut laporan Straits Times, orang asing asal china dan Indonesia menempati posisi teratas pembeli properti terbanyak di kawasan pinggiran Singapura. Jumlah mereka terus bertumbuh signifikan dalam enam bulan terakhir. Jika dua tahun lalu investor-investor ini memburu properti di pusat kota (CBD), kali ini justru di luar CBD. Hal tersebut bisa terjadi akibat imbas pengenaan tambahan biaya stempel (Additional Buyre's Stamp Duty/ABSD) kepada pembeli properti. Pemerintah setempat memberlakukan peraturan ini sejak dua tahun lalu.

Dengan berubahnya preferensi mereka ini, untuk sementara, menghilangkan kebiasaan mencari properti kelas atas yang harganya sudah selangit.

Apa yang mereka cari sebetulnya? Tentu saja potensi gain yang lebih tinggi. Mereka berekspektasi pada pengembalian investasi dengan pertumbuhan harga yang melebihi tawaran properti di CBD.

Data dari Otoritas Perumahan Singapura menunjukkan bahwa orang asing membeli 10,7 persen dari total 4.884 rumah yang terjual selama kuartal I 2013. Jumlah ini meningkat dibanding periode yang sama pada 2012, di mana orang asing membeli 3,3% dari total 7.918 unit yang terserap pasar.

Sementara Urban Redevelopment Authority (URA) mengungkapkan pembelian rumah pertama baik oleh orang asing maupun permanent resident ini mendorong laju pertumbuhan pasar properti ke arah lebih positif selama kuartal I 2013. Sejumlah 2.793 unit rumah terjual sejak pemerintah Singapura memberlakukan langkah-langkah "pendinginan" (cooling measures). Prestasi ini merupakan kali pertama yang mampu dicapai sejak 2009 lalu, di mana hanya 2.772 unit hunian yang terjual.

Sumber :
Straits Times

Editor :
Hilda B Alexander