Selasa, 2 September 2014
TREN PROPERTI
Negeri Sakura "Serbu" Indonesia (Bagian IV)
Penulis : Hilda B Alexander | Sabtu, 13 April 2013 | 13:05 WIB
|
Share:
www.jakartagardencity.com
Kepercayaan konsumen menguat dan meningkatnya permintaan adalah alasan kuat investor asing melirik Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com – Invasi investasi Jepang terbukti telah mengubah wajah sektor properti Indonesia. Kehadiran mereka mampu memotivasi pengembang lokal guna meningkatkan kapasitas dan daya saing.

Sayangnya, pesta pora tersebut harus diakhiri lebih cepat. Krisis moneter 1998 memaksa pengembang asing untuk "cash out" karena ketidakpastian kondisi perekonomian dan politik.
-- Fakky Ismail Hidayat

Kesadaran itu mulai tumbuh dalam rentang waktu 1980 hingga akhir abad 20. Tendensi pengembangan pun mengarah kepada proyek-proyek berkualitas internasional. Beberapa proyek unggulan karya pengembang lokal yang dimotori Grup Ciputra, Lippo, Summarecon, Agung Podomoro tak kalah penting dalam perubahan konstelasi sektor ini.

Walhasil, pasar properti Indonesia pun mencapai masa puncak pada saat itu. Proyek berskala miniblok dan superblok bertebaran di hampir semua kota besar di Indonesia. Baik yang dikembangkan oleh investor Jepang maupun pemain lokal. Tingkat penjualan meningkat, permintaan menguat dan produksi properti, khususnya perumahan dan perkantoran komersial juga melesat ke level yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Jelas, berbagai indikator positif itu “memaksa” investor non Jepang ikut memanfaatkan peluang. Data Leads Property Indonesia menunjukkan, pada era itu terdapat nama-nama Semb Corporation dan Keppel Land (Singapura), Hong Kong Land (Hong Kong) dan Limitless (Timur Tengah).

Keppel Land adalah pengembang Wisma BCA (kini International Financial Center), Pasadenia, Jakarta Garden City dan BG Junction (Surabaya). Sedangkan Hong Kong Land menjalin kerjasama dengan Central Cipta Murdaya dalam payung Jakarta Land. Properti mereka adalah Wisma Metropolitan dan World Trade Center Jakarta.

“Sayangnya, pesta pora tersebut harus diakhiri lebih cepat. Krisis moneter 1998 memaksa pengembang asing untuk “cash out” karena ketidakpastian kondisi perekonomian dan politik,” ungkap Head of Capital Market and Investment Knight and Frank Fakky Ismail Hidayat kepada KOMPAS.com, Jumat (12/4/2103).

Namun, setelah sektor ini bangkit dan pulih dari keterpurukannya arus investasi asing, terutama Jepang, kembali deras mengalir. Seperti yang telah disinggung pada Bagian I tulisan ini, AEON Co. Ltd merupakan pemain Jepang terakhir yang merealisasikan investasinya di Indonesia tahun 2013 senilai 150 juta dollar AS-200 juta dollar AS (Rp 1,45 triliun-Rp 1,9 triliun. 


Editor :
Hilda B Alexander