Kamis, 23 Oktober 2014
Jakarta Rindu Pecel
Jumat, 22 Februari 2013 | 08:42 WIB
|
Share:
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Ida (berkerudung putih) melayani pembeli dibantu pekerjanya di warung makan Pecel Pincuk Bu Ida di Jalan Raya Alternatif, Cibubur, Bogor, Jawa Barat.

PECEL menjadi makanan rakyat sejak zaman Sunan Kalijaga sampai hari ini. Menyantap satu pincuk pecel bisa membawa penikmatnya mengenang kampung halaman. Mungkin lantaran itulah mengapa banyak warung pecel di Jakarta.

Pesatnya perkembangan warung pecel Ibu Ida menjadi contoh nyata tingginya minat terhadap pecel. Didirikan dua tahun lalu, warung pecel ini sudah memiliki dua cabang di Cibubur dan di Bintaro. Sebentar lagi, cabang baru juga akan dibuka di Kelapa Gading.

Jakarta benar-benar haus pecel. Warung baru dibuka saja sudah diserbu pelanggan.
-- Dina Martini

Setiap hari, Hidayati (64), yang akrab dipanggil Ibu Ida, memproduksi lebih 1,5 kuintal sambal pecel untuk memenuhi kebutuhan konsumen. ”Jakarta benar-benar haus pecel. Warung baru dibuka saja sudah diserbu pelanggan,” kata anak dari Ida, Dina Martini (35).

Warung pecel Ibu Ida di Jalan Alternatif Cibubur, Kota Wisata Cibubur, dan Pasar Modern Bintaro memang tak pernah sepi pelanggan. Warung yang hanya tutup pada hari Senin ini terutama akan penuh sesak pada akhir pekan.

Ketika pertama kali berjualan di sebuah rumah toko di Jalan Alternatif Cibubur pada Juni 2000, Ida terkaget-kaget. Pecel dagangannya ludes terjual dalam waktu dua jam sejak warung dibuka. Pembeli pertamanya adalah para penggowes yang berolahraga pada Minggu pagi.

Pincuk

Menu pecel Ida memang layak diburu. Pecel disajikan di atas pincuk, atau tempat makan dari daun pisang. Seperti itulah pecel di kampung, di desa dulu disajikan. Pincuk itu diberi alas anyaman bambu sebagai wadah. Itu merupakan salah satu daya tarik dalam hal penyajian.

Begitu sambal pecel disiram di atas sayuran, aroma khas kencur dan jeruk purut langsung menguar.

Konsumen bisa memilih sambal pecel dengan tiga tingkatan rasa, yaitu pedas, sedang, dan manis. Begitu disiram air panas, tekstur sambal pecel menjadi mengambang dihiasi merah dan kuning bulir cabai serta hijau daun jeruk.

Sambal pecel Ibu Ida semakin unik karena hanya dibuat dari kacang lokal. Ia pernah hanya menggunakan kacang dari Tuban, tetapi kacang dari Tuban yang kulitnya berwarna putih ini kini makin sulit didapat di pasaran.

Rebusan sayuran yang sudah di-pecel-pecel (dipotong-potong) juga bisa menggugah selera. Sayuran segar seperti bayam, kenikir, kecambah, dan kembang turi segera disajikan setelah direbus. Rebusan ini dipersegar dengan taburan daun kemangi, irisan timun, dan lamtoro.

Pecel pincuk bisa disantap dengan nasi atau lontong dengan taburan rempeyek kacang dan teri yang renyah. Lauk-pauk seperti telur asin disajikan dalam keadaan masih hangat pada pagi hari. Demikian pula dengan tempe kemul yang dihidangkan panas-panas.

Sebagai penutup, disajikan minuman tradisional, seperti kunyit asam dan beras kencur. Kunyit asam di warung Ibu Ida dibubuhi dengan daun pandan wangi sedangkan beras kencurnya ditambahi sedikit laos dan jahe.

Suasana ”ndeso”

Saking ndeso-nya jenis makanan yang disajikan, Ida harus berburu bahan baku dari kampung halaman. Beberapa bahan, seperti petis, keluak, dan asam sengaja diambil langsung dari Malang, Jawa Timur. ”Ibu kangen pulang kampung, tetapi alasannya bahan baku habis,” kata Dina sambil menggoda ibunya.

Tiap kali balik ke Jakarta dari Malang, Ida dan suaminya bisa membawa masing-masing sepuluh kardus berisi bahan baku pecel. ”Kalau dikirim takut ada yang rusak,” tambah Ida.

Ketika pertama kali membuka warung di Jakarta, Ida membawa peranti pembuat pecel, termasuk deplokan untuk mengulek sambal pecel. Tiga dari empat anaknya telah menetap di Jakarta.

Demi memperoleh bahan baku, seperti kembang turi, Ida juga sampai harus menanam sendiri pohon turi. Kembang turi memang tergolong langka di pasar Jakarta. Pot-pot kembang turi lantas ditanam di lahan kosong dekat warung, halaman kontrakan karyawan, hingga di taman Kota Wisata Cibubur. Pohon turi akan berbunga tiga bulan setelah ditanam.

Untuk menciptakan atmosfer khas pedesaan, warung pecel Ibu Ida dilengkapi dengan atap rumbai alang-alang di bagian muka ruko. Dinding warung dilapisi dengan anyaman bambu sehingga memunculkan kesegaran khas pedesaan.

Nostalgia makan pecel di kampung halaman pula yang memunculkan ide di benak Dina untuk membuka usaha warung pecel. Dina yang kala itu masih bekerja di sebuah bank swasta lantas menyewa sebuah ruko dan meminta ibunya untuk datang ke Jakarta demi merintis warung pecel.

Dina sudah sejak lama bermimpi membuka warung pecel. Ia sempat mengungkapkan mimpinya itu kepada rekan-rekan kerjanya di bank sehingga dijuluki Mbok Dina. ”Sudah niat banting stir jualan pecel. Makanan tradisional yang mau saya bikin go international,” kata Dina.

Berbeda dengan Dina, Ida sama sekali tak pernah membayangkan bakal merintis warung pecel. Sejak sebelum suaminya pensiun dari Perhutani, Ida tidak punya pengalaman berjualan. ”Setelah dijalani ternyata senang. Jadi betah tinggal dengan anak-anak di Jakarta,” tambah Ida.

Dengan resep warisan keluarga, Ida meramu bumbu sambal pecel yang sudah disesuaikan dengan selera orang Jakarta. Jika dulu ia harus repot mengulek sambal pecel seorang diri, kini ia cukup memantau kerja dari sepuluh karyawan yang bertugas di dapur. (Mawar Kusuma)

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

Sumber :
Kompas Cetak

Editor :
I Made Asdhiana