Jumat, 24 Oktober 2014
ARSITEK
Kontroversi Gereja Warna-warni
Penulis : Tabita Diela | Selasa, 12 Februari 2013 | 15:01 WIB
|
Share:
designboom.com
Bagi Hense, sang arsitek, pekerjaan yang ia sanggupi tersebut tidak hanya berarti mewarnai gedung sesuka hati. Proyek tersebut merupakan langkah awal dalam menumbuhkan potensi seni yang ada di daerah tersebut.

KOMPAS.com - Tahun lalu, Alex Brewer, yang lebih dikenal dengan nama Hense diberikan wewenang cukup berat. Bukan sekedar menciptakan instalasi seni publik, ia diminta mengubah sebuah gereja yang ditinggalkan menjadi instalasi seni.

Bangunan "bekas" gereja ini berada tepat di seberang lokasi museum seluas 1.858 meter persegi, yang rencananya akan dibangun untuk menampung koleksi seni The Rubell, serta sebuah hotel. Pada awalnya, gereja beralamat di 700 Delaware, Washington DC, Amerika Serikat, ini tampak usang dan tertinggalkan. Kesan angker, kaku, dan "gelap" menyelimuti gedung yang pernah menjadi rumah ibadah ini. Bukan hanya fisik gedung yang tampak usang, area di sekitar gereja juga tampak tidak terawat dan sampah tampak berserakan.

"Proyek yang ada di Washington DC ini menyenangkan. Area tempat gereja tersebut berada adalah bagian kota yang memiliki banyak potensi untuk menjadi distrik seni berikutnya," kata Hense www.designboom.com.

Bagi Hense, pekerjaan yang ia sanggupi tersebut tidak hanya berarti mewarnai gedung sesuka hati. Proyek tersebut merupakan langkah awal dalam menumbuhkan potensi seni yang ada di daerah tersebut.

"Proyek ini adalah langkah pertama membawa kehidupan dan warna ke area tersebut. Berkarya pada gedung yang sudah ada, seperti gereja tersebut, dan mengecat seluruh eksteriornya merupakan rekontekstualisasi. Hal ini membuatnya menjadi objek seni. Kami benar-benar ingin membuat gereja tersebut menjadi karya seni tiga dimensi," ujarnya. 

Dalam wawancara tersebut, Hense mengatakan, bahwa inspirasi desain, penataan bentuk, dan warna yang ia berikan pada gereja itu justeru berasal dari gereja itu sendiri. Dalam prosesnya, ide tersebut terus berkembang dan tidak kaku. Meski ia bebas menggambar sesuai dengan inspirasinya, ia tetap membuat konsep awal.

"Saya membuat beberapa gambar konsep gereja tersebut untuk dipresentasikan kepada pemiliknya sebagai ide kasar. Bagaimana arah estetika dan agar pemiliknya mengetahui ide tersebut secara visual. Saya ingin hasil karya saya berbeda drastis dari sebelumnya. Saya juga ingin menggunakan warna-warna sangat terang untuk menarik perhatian orang yang melihatnya dari jauh," katanya.

Teknik yang digunakan oleh Hense tidak sesederhana untuk menyapukan warna pada dinding. Ia membuat beberapa layer atau lapisan sehingga dalam satu bentuk siapapun akan melihat beberapa warna sekaligus.

"Kebanyakan karya saya dilakukan dalam lapisan-lapisan dan saya tidak pernah takut untuk mengganti gambar. Langkah pertama adalah memberikan cat dan warna di setiap sisi serta permukaan dari gedung tersebut. Ketika mulai membuat bentuk-bentuk besar, baru membutuhkan berhari-hari untuk mengecat. Keseluruhan proses membutuhkan beberapa minggu untuk membuat lapisan dan bekerja," kata Hense.

"Kebanyakan peralatan yang saya gunakan di dalam mural dan lukisan saya adalah peralatan yang sama dengan peralatan yang saya gunakan di jalan selama tahun-tahun awal saya berkarya. Saya gunakan roller, kuas, cat semprot, tinta, akrilik, pel, enamel, semprotan cat, dan peralatan lainnya. Skala selalu menjadi komponen penting dalam karya saya dan saya terus melanjutkan hal tersebut untuk proyek baru saya. Hampir semua karya yang saya kerjakan benar-benar spontan dan jarang dikonsepkan sebelumnya. Baru-baru ini saya tengah bereksperimen dalam memperlakukan pekerjaan eksterior sama seperti lukisan saya yang spontan," tambahnya.

Namun, pekerjaan Hense bukan tanpa perlawanan. Memberikan "warna" baru, baik metaforis maupun literal, pada gedung gereja menimbulkan reaksi yang berbeda-beda dari masyarakat.

"Reaksi yang saya dapatkan umumnya positif dari orang-orang di Washington DC. Mereka datang untuk melihat proses pengerjaannnya. Ada beberapa orang yang merasa pengecatan ini menodai gereja. Meski sudah dijelaskan bahwa proses ini masih berjalan, dan ada maksud baik di balik tindakan, warna, dan tanda ini, umumnya mereka mengerti. Menciptakan karya seni punlik berarti Anda berhadapan dengan banyak perasaan dan opini berbeda atas karya seni dan bisa sangat subjektif," katanya. 

Sumber :

Editor :
Latief