Selasa, 22 Juli 2014
Kurang Lahan, Pengembang Manfaatkan "Recurring Income"
Penulis : Natalia Ririh | Sabtu, 7 April 2012 | 06:20 WIB
|
Share:
Dok Agung Podomoro Land
Central Park Mall Podomoro City, Jakarta, salah satu superblock yang dibangun Agung Podomoro.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika lahan semakin menipis untuk pembangunan proyek baru, pengembang seperti tak kehabisan akal untuk mereguk keuntungan.

Tak ada lahan, mereka memanfaatkan pendapatan berkelanjutan dari produk properti atau disebut recurring income.

Indra Wijaya, Wakil Direktur PT Agung Podomoro Land, Tbk (APLN) mengatakan dengan menerapkan recurring income, pihaknya mendapat keuntungan sekaligus meyakinkan para investor.

"Land bank kami tidak banyak dan proyek terus habis. Kalau penjualan habis terus, investor bisa tidak yakin," ujarnya ketika menyampaikan paparan kinerja APLN di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan investor memiliki tipe beragam yang perlu diyakinkan. Misalnya, bila sedang krisis ekonomi maka investor perlu yakin asal pendapatan.

"Aset kami pusat perbelanjaan atau hotel. Penjualannya berhenti, tapi recurring income dari mal bisa terus berjalan," jelasnya.

APLN sendiri untuk lima tahun ke depan menargetkan 30 persen pendapatan yang berasal dari recurring income. PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSD City) membukukan laba bersih tahun 2011 sebesar Rp 840,78 miliar.

Jumlah ini naik 113 persen dibandingkan tahun 2010, yang mencapai Rp 394,40 miliar. Pendapatan perseroan BSD tahun 2011 mencapai angka Rp 2,80 triliun atau naik sekitar Rp 330 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,47 triliun.

Penyebab melonjaknya keuntungan anak usaha Sinarmas Land ini karena besarnya minat konsumen terhadap rumah-rumah elite di kawasan BSD.

Pendapatan berkelanjutan (recurring income) dari sektor sewa juga besar, tapi tak sebesar pendapatan dari penjualan produk residensial. Pada masa mendatang, BSD CIty punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan recurring income untuk menjamin struktur pendapatan perseroan.


Editor :
Tri Wahono