Sabtu, 30 Agustus 2014
RUSUNAMI
Pengembang Kibarkan "Bendera Putih"
Penulis : Natalia Ririh | Rabu, 4 April 2012 | 15:19 WIB
|
Share:
shutterstock
Ilustrasi.

MANADO, KOMPAS.com - Pengembang mengaku bergairah menggarap pasar apartemen dengan harga jual Rp 200 juta - Rp 300 juta. Pengembang menilai, dibalik mandeknya program 1.000 tower rumah sejahtera susun atau yang sebelumnya disebut rumah susun sederhana milik (rusunami), pasar kelas menengah ini potensial digarap.

Kalau masalah rumah sejahtera susun ibaratnya pengembang sudah angkat bendera putih atau menyerah.
-- Setyo Maharso

"Kalau masalah rumah sejahtera susun ibaratnya pengembang sudah angkat bendera putih atau menyerah. Kalau harga usulan pengembang diterima maka bisa berjalan lagi," kata Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI), Setyo Maharso, kepada wartawan dalam acara peringatan HUT REI ke-40 di Menado, Sulawesi Utara, Sabtu (31/3/2012) pekan lalu.

REI mengusulkan kepada pemerintah harga rumah sejahtera susun berada di angka Rp 205 juta per unit. Angka ini lebih tinggi dari rencana kenaikan harga rumah sejahtera susun yang diusulkan pemerintah, yakni Rp 190 juta per unit dari sebelumnya Rp 144 juta per unit.

"Apabila disetujui, maka akan tercipta pasar yang besar di harga Rp 200 juta - Rp 300 juta. Tentunya, ini akan membangkitkan gairah untuk membangun," kata Setyo.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah membuat pengembang kebingungan. Hal itu karena program rumah sejahtera susun yang tadinya diperuntukkan untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), kini malah membidik pangsa pasar kelas menengah.

Melihat lemahnya daya beli MBR, lanjut Ali, pemerintah sebaiknya mengantisipasi kondisi tidak terbelinya rumah sejahtera susun oleh MBR. Agar MBR yang sebagian besar kaum komuter ini semakin mampu meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas hidup, perlu pembangunan rumah sejahtera susun sewa.

"Mereka mungkin tidak bisa membeli, tapi bisa menyewa sehingga lebih produktif tinggal dan bekerja di perkotaan," ujarnya.


Editor :
Latief