Rabu, 1 Oktober 2014
PASAR PROPERTI
Faisal Basri: Indonesia Jauh dari "Bubble" Properti
Penulis : Natalia Ririh | Jumat, 30 Maret 2012 | 18:15 WIB
|
Share:
shutterstock
Penggelembungan properti terjadi jika ada orang membeli rumah lewat perbankan dan bank menjadikan surat hutang sebagai agunan sehingga bertingkat di banyak subsektor.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Universitas Indonesia (UI) yang juga calon Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen, Faisal Basri, mengatakan kondisi pasar properti Indonesia jauh dari kondisi bubble atau gelembung ekonomi. Hal ini karena sistem pembiayaan properti Indonesia berbeda dengan negara-negara lainnya.

Kalau di Indonesia tinggal satu putaran saja. Bagaimana bisa bubble, yang belum punya rumah saja 13,6 juta.
-- Faisal Basri

"Bubble itu tidak mungkin terjadi di sini, karena konsep pembiayaan properti beda dengan negara lain. Sektor properti nyambung ke sektor keuangan," katanya di Jakarta, Jumat (30/3/2012).

Faisal menjelaskan, penggelembungan properti itu terjadi bila ada orang membeli rumah lewat perbankan. Pihak bank kemudian menjadikan surat hutang sebagai agunan sehingga bertingkat di banyak subsektor.

"Kalau di Indonesia tinggal satu putaran saja. Bagaimana bisa bubble, yang belum punya rumah saja 13,6 juta," tanyanya.

Pernyataan ini diungkapkan Faisal untuk menanggapi aturan loan to value dari Bank Indonesia (BI) tentang kenaikan uang muka 30% bagi konsumen perumahan. Bank Indonesia mengeluarkan peraturan ini untuk mengurangi pengeluaran konsumtif kredit pemilikan rumah (KPR). Pertimbangan lain adalah agar pemberian kredit tidak dilakukan tanpa down payment yang jelas.

"Aturan ini bisa kalau untuk kegiatan pembelian bersifat spekulatif. Misalnya, sekali beli langsung borong unit apartemen," ujarnya.


Editor :
Latief