Senin, 24 November 2014
BISNIS
Bisnis Desain Interior yang Makin "Ciamik"
Jumat, 24 Februari 2012 | 17:30 WIB
|
Share:
shutterstock
Seorang desainer interior memang dituntut kreatif. Ia harus mampu menjawab keinginan klien dan menerjemahkannya dalam bentuk desain gambar menjadi ilustrasi dari tampilan nyata yang akan dikerjakannya.

KOMPAS.com - Menggeliatnya sektor properti turut membawa berkah bagi para penyedia jasa interior. Sejak maraknya pembangunan properti, mereka terus kebanjiran order.

Tapi kalau mau dirata-rata, ya tiap bulan sekitar lima proyek yang digarap.
-- Mirza Nafiana

Selain jasa desain, mereka juga menyediakan isi perabotan. Omzet dari usaha ini bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.

Tampaknya, pertumbuhan bisnis properti tidak saja membawa berkah para pengembang dan perusahaan konstruksi. Pertumbuhan tersebut juga mendatangkan peluang bisnis yang mengkilap bagi usaha desain interior. Terbukti, permintaan jasa dan layanan desain interior ini semakin tinggi dan bisa mendatangkan omzet hingga ratusan juta bagi para pemainnya.

Salah satu penyedia jasa desain interior ini adalah Hery Adrian, pemilik Goldsilver Dezine di Cinere, Depok, misalnya. Terjun ke bisnis desain interior sejak 2009 lalu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 100 jutaan per bulan.

"Laba bersih saya sekitar 15%-30%," katanya.

Kendati tingkat persaingannya ketat, kata Hery, potensi pasar bisnis jasa desain interior cukup besar. Hal itu tidak terlepas dari gencarnya pembangunan sektor properti, terutama di kota-kota besar. Ia mengatakan, modal utama menggeluti bisnis ini adalah kreativitas dan inovasi.

"Dari situ kami bisa menjaga kepuasan klien," ujarnya.

Seorang desainer interior memang dituntut kreatif. Ia harus mampu menjawab keinginan klien dan mampu menerjemahkannya dalam bentuk desain gambar yang menjadi ilustrasi dari tampilan nyata yang akan dikerjakan nantinya.

"Kreatif bukan hanya menciptakan desain bagus, tapi juga yang diinginkan klien," tuturnya.

Agar bisa memuaskan konsumen, seorang desainer interior tidak cukup hanya memanfaatkan ruang yang ada. Ia juga harus bisa memaksimalkan ruang yang tersedia agar terlihat cantik dan menawan.

"Itu filosofi bisnis ini," tuturnya.

Maka itu, seorang desainer harus memiliki pengetahuan dan referensi mengenai perkembangan bisnis interior. Berbekal kreativitas itulah, pelanggan Hery dari waktu ke waktu terus bertambah. Jika sebelumnya hanya mendapat order dari konsumen individu, kini pelanggannya banyak pengembang properti, pengelola perkantoran, dan apartemen.

Desain plus perabot

Dalam hal jasa desain, biasanya Hery kerap mengilustrasikan dalam bentuk gambar 3D dan soft drawing. Dalam menekuni usaha ini, ia juga tidak hanya membuatkan desain dan ilustrasi gambar. Hery juga menyediakan isi perabotan sesuai karakteristik ruangan atau keinginan klien.

"Untuk itu, kami wajib melakukan wawancara dengan klien sebelum bekerja," ungkapnya.

Soal tarif, Hery membanderol Rp 80 juta. Angka itu sudah termasuk desain dan isi perabotan. Namun, untuk proyek besar, ia bisa mengutip tarif hingga Rp 800 juta.

"Itu juga termasuk design and build, jasa desain kami jadikan bagian dari service," tandasnya.

Selama ini, para pengguna jasanya banyak berasal dari Jakarta dan Bandung. Ia sengaja membatasi pasar karena keterbatasan tenaga kerja. Selain itu, masa pengerjaan satu proyek bisa memakan waktu hingga dua bulan.

Sukses berbisnis desain interior juga dirasakan Mirza Nafiana, pemilik studio Mirza Nafiana Architecture di Serpong, Tangerang. Terjun di bisnis ini sejak tiga tahun lalu, ia mempekerjakan tiga tenaga desain interior dan 20 tenaga produksi.

"Saya memulai usaha ini sejak akhir tahun 2008 lalu," ujarnya.

Sama halnya Hery, Mirza juga menyediakan jasa desain sekaligus isi perabotan. Bahkan, ia juga menerima order pembangunan properti, khususnya rumah. Konsumen yang berminat tinggal memilih saja desain yang diinginkan.

Khusus di bidang desain interior, ia pernah menangani sejumlah restoran, vila, dan rumah pribadi. Lokasinya tersebar di berbagai daerah, mulai dari Tangerang, Jakarta, Bandung, hingga Bali. Dari beberapa sektor properti tersebut, ia mengaku lebih senang menggarap proyek desain dan pembangunan rumah pribadi. Karena bisa langsung bersentuhan dengan klien, sehingga bisa mengetahui minat dan keinginan konsumen.

"Kalau kantor atau restoran itu konsepnya sudah baku, jadi tinggal melaksanakan saja. Kadang saya merasa kurang dapat feel-nya begitu," imbuhnya.

Sebagai penyedia jasa, ia mengaku selalu terbuka dengan berbagai tema dan gaya desain interior. Mulai gaya modern, klasik, mediteranian, victorian, european, american, dan tradisional.

Terkait omzet, Mirza mengaku tidak bisa menghitung secara pasti setiap bulannya. Hal itu, menurutnya, sangat tergantung kepada jumlah proyek yang diterima. Ada kalanya dalam satu bulan menerima 10-20 proyek, tapi ada kalanya nihil.

"Tapi kalau mau dirata-rata, ya tiap bulan sekitar lima proyek yang digarap," ujarnya.

Nilai setiap proyek bervariasi mulai Rp 10 juta hingga Rp 4 miliar. Laba bersihnya 10%-15% dari nilai proyek. (Fahriyadi, Eka Saputra)

 

Sumber :
KONTAN
Editor :
Latief