Sabtu, 20 Desember 2014
Inilah 6 Kota di Dunia Peraih "Green Building City Policy"
Penulis : Natalia Ririh | Rabu, 14 Desember 2011 | 18:14 WIB
|
Share:
shutterstock
Ilustrasi: Hingga 2011, dengan berbagai kebijakan hijau dan insentif yang dikeluarkan BCA, sudah 800 bangunan di seluruh Singapura berhak mendapat Green Mark dengan berbagai peringkatnya.

KOMPAS.com — Enam kota mendapatkan pengakuan sebagai kota dengan kebijakan terbaik untuk pelaksanaan green building, serta pengurangan emisi karbon dari bangunan dengan konsep green. Keenam kota itu ditetapkan dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa  di Durban, Afrika Selatan, 5 Desember 2011.

Gerakan menuju kesadaran tinggi terhadap green building  di kota-kota besar dunia memang terus digalakkan oleh World Green Building Council (WorldGBC). 

"Bangunan bisa menghadirkan potensi berbeda dalam fungsinya mengurangi efek rumah kaca. Untuk itu, kebijakan pemerintah dalam mengelola kebijakan bangunan yang ramah lingkungan punya peran penting untuk menggarap potensi ini," ujar Jane Henley, CEO dari WorldGBC, beberapa waktu lalu.

Kota-kota yang memenangi penghargaan ini, lanjut Jane, telah berhasil mengimplementasikan prioritas pada reduksi emisi, dan mendapatkan manfaat penghematan, serta menghasilkan energi jauh lebih aman.

"Kesehatan dan tingkat hunian yang cukup pun bisa tercapai sehingga bisa membantu pertumbuhan perekonomian. Kami sangat bangga untuk mempersembahkan penghargaan inovatif ini kepada kota-kota tersebut," ujarnya.

Dalam ajang ini, penjurian dilakukan oleh para ahli terpilih yang berasal dari ICLEI-International, UN-HABITAT, dan WorldGBC. Enam kota pemenang penghargaan tersebut adalah:

- San Fransisco, Amerika Serikat, khususnya untuk San Fransisco Green Building Ordinance  berhasil mendapatkan Best Green Building Policy. Penghargaan ini mencakup kebijakan pembangunan  ramah lingkungan untuk bangunan komersial, residensial, dan pembangunan konstruksi, sesuai dengan LEED green building standards (standar "green" untuk Amerika Serikat).  Dampaknya, 105.000 ton karbon dan keuntungan sebesar 1 miliar dollar AS untuk estimasi 10 tahun bisa diraih. Kota ini juga memiliki skema pembiayaan finansial untuk menggapai target proyek individual.

- Mexico City, Meksiko, meraih Climate Action Leadership Award, untuk program Climate Action Plan-nya. Program ini berhasil mengurangi emisi dari bangunan komersial dan residensial secara lokal. Meksiko City sendiri telah setuju untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 7 juta ton hingga 2012 ini.

- Birmingham, Inggris, untuk Birmingham City Council's Energy Savers Program, yang mendapatkan Urban Retrofit Award. Program ini  berusaha untuk mencapai 1,5 miliar poundsterling keuntungan  dari green retrofit, untuk pekerjaan pembangunan 200.000 bangunan di Birmingham hingga West Midlands. Pembangunan ini direncanakan hingga 15 tahun mendatang.

- Singapura, yang berhak mendapatkan Regional Leadership Award untuk Green Building Masterplan-nya. Sebuah rencana ambisius yang akan "menghijaukan" 80 persen bangunan di Singapura hingga tahun 2030. Bangunan ini akan diproyeksikan mencapai standar Green Mark Building Certification, suatu standar "green" untuk bangunan di Singapura. Proyek ini diharapkan bisa menghasilkan penghematan 780 juta dollar AS setiap tahunnya.

- New York City, Amerika Serikat, yang meraih Industry Transformation Awards untuk Greener, Greater Bussiness Plan-nya. Ini adalah bagian dari kebijakan pemerintah New York yang mensyaratkan setiap bangunan harus menyampaikan secara publik penggunaan energinya tiap tahun. Program ini diharapkan bisa mengurangi emisi karbon di New York hingga 5,3 persen dibanding tahun 2009. Program ini juga berhasil menghemat energi hingga 700 juta dollar AS per tahun hingga tahun 2030 dan mencakup 17.800 pekerjaan konstruksi baru di kurun 10 tahun.

- Tokyo, Jepang, meraih Most Groundbreaking Policy Award, untuk Tokyo Cap-and-Trade Program-nya. Program pertama di dunia yang mengatur cap-and-trade program  yang menghijaukan 1.300 area komersial dan bangunan publik. Program ini diharapkan bisa mengurangi 13 juta ton CO2 hingga 2019. (Alois Wisnuhardana & Indra Zaka Permana )


Sumber :
iDEA
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary