Jumat, 24 Oktober 2014
TREN PROPERTI
Di Depok, Rumah Murah Semakin Minggir....
Penulis : M.Latief | Kamis, 17 November 2011 | 15:27 WIB
|
Share:
IST
Apartemen Park View Depok Town Square adalah satu dari sekian bangunan vertikal yang mulai merambah di Depok.

DEPOK, KOMPAS.com - Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kota Depok, Wing Iskandar, mengatakan, sulit untuk membangun rumah sederhana karena terkendala harga tanah yang tinggi. Depok pun mulai diserbu apartemen.

Sekarang rumah murah banyak dibangun di daerah perbatasan Depok dengan Bogor, seperti Citayam, Bojonggede dan Cilebut.
-- Wing Iskandar

Wing mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini harga tanah terus melonjak, sehingga menyulitkan pembangun rumah murah. Saat ini, lanjut dia, harga rumah di Depok dengan ukuran standar 36/72 sudah mencapai angka di atas Rp 200 juta.

"Sekarang rumah murah banyak dibangun di daerah perbatasan Depok dengan Bogor, seperti Citayam, Bojonggede dan Cilebut," katanya di Depok, Rabu (16/11/2011) kemarin.

Di ketiga daerah tersebut, katanya, harga tanah masih relatif murah. Alhasil, masih dimungkinkan membangun rumah murah yang harganya terjangkau masyarakat umum.

"Saat ini yang booming adalah rumah dengan harga di bawah Rp 100 juta," ujarnya.

Sebaliknya, kata Wing, untuk rumah di atas harga Rp 200 juta sangat sulit. Tahun ini, rata-rata dalam sebulan hanya terjual dua hingga tiga unit, padahal tahun sebelumnya bisa mencapai 10 unit per bulan. Lebih lanjut Wing mengatakan, perkembangan properti di Kota Depok saat ini mengarah ke pembangunan apartemen atau pun rusunawa.

"Ini untuk menyiasati harga tanah yang mahal," ujarnya.

Ia mengakui, harga rumah di Kota Depok sangat tinggi dibandingkan harga rumah di daerah Bekasi atau pun Tangerang. Hal itu disebabkan karena udaranya masih lebih sejuk dan kondisi airnya masih sangat bagus. Untuk itu ia berharap, agar bisnis properti di Kota Depok terus bergairah, pemerintah mestinya menurunkan suku bunga KPR yang saat ini rata-rata 13,5 persen.

"Idealnya memang di bawan 10 persen," harapnya.

Izin perumahan

Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Depok Sri Utomo mengakui, perizinan untuk perumahan di wilayah-wilayah perbatasan dengan DKI Jakarta tersebut sangat tinggi.

"Kita tidak bisa menghentikan perizinan perumahan baik itu jenis town house atau lainnya," katanya.

Menurut dia, selama perizinan tersebut sesuai dengan rencana tata ruang dan wilayah, pihaknya tidak bisa menolak. Saat ini, perkembangan yang pesat perumahan di Kota Depok ada di wilayah Sawangan, Bojongsari, Tapos, serta Kalimulya.

Dia mengatakan, bisnis properti di Depok saat ini telah merambah ke pasar apartemen. Sejumlah apartemen saat ini sedang dalam tahap pembangunan, terutama di kawasan strategis Margonda Raya yang rata-rata dengan ketinggian 20 lantai.

Sumber :
ANT

Editor :
Latief