Rabu, 1 Oktober 2014
Kondisi Hulu Ciliwung Semakin Memburuk
Selasa, 15 November 2011 | 04:51 WIB
|
Share:

BOGOR, KOMPAS - Kondisi hulu Sungai Ciliwung di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, semakin memburuk dalam 10 tahun terakhir akibat pertumbuhan permukiman yang pesat. Hal ini berpotensi menyebabkan banjir lebih besar walaupun kondisi curah hujan serupa dengan banjir tahun 2002 atau 2007.

Hal itu disampaikan Ketua Program Studi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Institut Pertanian Bogor, Suryadarma Tarigan di Kota Bogor, Senin (14/11).

Menurut dia, dalam kajian yang dilakukan pihaknya tahun ini, diketahui permukiman di daerah hulu Ciliwung yang meliputi Megamendung, Cisarua, dan Ciawi (Kabupaten Bogor) serta sebagian kecil Kecamatan Bogor Timur dan Selatan (Kota Bogor) naik dari 1.521 hektar tahun 2001 menjadi 2.170 hektar.

”Kalau luasan permukiman di kawasan hulu meningkat seperti itu, dengan curah hujan sama saja, dengan saat banjir besar, dampaknya bisa lebih besar karena tanah tidak menyerap air karena sudah berubah jadi permukiman,” tuturnya.

Kepala Seksi Program pada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung Nurhasni di Bogor menambahkan, debit aliran air di DAS Ciliwung relatif berbanding lurus dengan curah hujan. Karena itu, walaupun curah hujan di DAS Ciliwung masih normal, makin luasnya areal terbangun menurunkan kapasitas resapan air sehingga meningkatkan laju aliran air permukaan yang bisa menaikkan debit banjir.

”Ini terlihat dari perbandingan debit antara musim kemarau dan hujan yang bisa ratusan kali. Padahal, idealnya kurang dari 50 kali,” tutur Nurhasni.

Debit Sungai Ciliwung maksimal di Katulampa tahun 2000- 2006 bisa 908 persen, atau terendah 179,6 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan debit rata- rata. Tahun 2000, misalnya, debit air tertinggi di Bendung Katulampa 43,1 meter kubik per detik, atau 908 persen lebih tinggi ketimbang debit rata-rata 4,28 meter kubik per detik.

Namun, ia juga mengingatkan, dari hasil kajian BPDAS Citarum- Ciliwung, tidak sepenuhnya laju air permukaan Sungai Ciliwung dari hulu. Dalam kajian itu disebutkan, limpasan air permukaan dari daerah hulu sekitar 3,3 juta meter kubik atau 14,9 persen, sedangkan di tengah 6,11 juta meter kubik (27,54 persen), dan daerah hilir justru terbesar, 12,7 juta meter kubik (57,56 persen).

Keluarga siaga bencana

Sementara itu, untuk mengantisipasi banjir dan longsor, Dinas Sosial Provinsi Banten menggagas terbentuknya keluarga siaga bencana. Melalui program ini, diharapkan pemahaman kebencanaan akan lebih merata hingga tingkat keluarga.

”Nantinya setiap keluarga harus siaga bencana,” kata Kepala Dinas Sosial Provinsi Banten Nandy Mulya seusai rapat koordinasi menghadapi bencana banjir dan gerakan tanah/longsor di pendapa gubernuran.

Sosialisasi penanggulangan bencana dan peralatan evakuasi sudah diberikan kepada 154 kecamatan di seluruh Banten.

”Helm dan alas kaki juga harus tersedia untuk melindungi kepala dan kaki dari reruntuhan dan pecahan saat bencana. Dokumen-dokumen penting keluarga juga disatukan di satu tempat sehingga mudah dibawa waktu bencana datang,” kata Nandy Mulya. (GAL/CAS)