Kamis, 28 Agustus 2014
RUMAH
"Rumah Keong" dan Ketenangan Batin Dokter Boyke
Penulis : Natalia Ririh | Sabtu, 6 Agustus 2011 | 16:57 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/BANAR FIL ARDHI
Setelah dibangun sekitar dua tahun lamanya, "rumah keong" ini malah menjadi rumah ketenangan batin bagi pria yang akrab disama Dokter Boyke ini.

KOMPAS.com - Awalnya, ide "rumah keong" di bilangan Sentul City, Bogor, milik pakar seksologi kenamaan, dokter Boyke Dian Nugraha, ini merupakan kado 25 tahun pernikahannya. Setelah dibangun sekitar dua tahun lamanya, tempat ini malah menjadi rumah ketenangan batin bagi pria yang akrab dipanggil Dokter Boyke itu.

"Inilah tempat saya untuk menarik diri sesaat dari padatnya rutinitas dan aktivitas. Manusia itu bisa saja bosan dan lelah, jiwa juga bisa lelah, maka menarik diri itu penting. Di sini saya merasa begitu dekat dengan Tuhan dan alam ketika berusaha menyeimbangkan diri," ujarnya kepada Kompas.com, akhir Juni lalu.

Merasa berdekatan dengan alam, Boyke selalu melakukan meditasi di "rumah keong" tersebut, terutama di ruang bagian paling atas yang tanpa batas dinding. Ruangan itu hanya berbatas langit dan berhiaskan awan.

"Saya, kalau pas ada di sini, pagi-pagi buta sudah naik ke bagian atas rumah, lalu bermeditasi. Rasanya, saya langsung berhubungan dengan Tuhan, lurus ke atas. Lama saya duduk diam di situ, seolah bersatu dengan alam," papar ayah tiga anak ini.

Menarik diri sejenak untuk menyeimbangkan lahir dan batin, serta dunia akhirat, Boyke mengaku terinspirasi kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah menyepi di Gua Hira.

"Jangankan kita, junjungan kita Rasulullah saja menuju ke Gua Hira ketika hendak menenangkan diri. Jadi, menurut saya ketenangan batin sangatlah penting. Ketenangan batin juga bisa didapat dengan berzikir atau meditasi sesaat," katanya.

Kado pernikahan

Mempertahankan usia pernikahan sampai usia "pernikahan perak", bagi Boyke, merupakan anugerah tak terkira. Memiliki seorang istri yang selalu mendukung profesi dan pilihan-pilihan hidupnya, tiga anak yang membanggakan, serta pilihan karir di bidang seksologi yang menjanjikan, baginya adalah berkah.

"Saya ingin memberi kado untuk perjalanan panjang ini. Bukan cuma untuk istri, tapi juga untuk anak-anak saya. Lalu, kepikiran menghadiahi rumah peristirahatan, namun dengan bentuk yang unik," kata Boyke, bertutur tentang ide awal membangun "rumah keong" ini pada 2008 silam.

Niatan itu disampaikan kepada istri dan anak-anaknya. Begitu disetujui, Boyke ditemani sang istri, lantas melakukan survei lokasi bakal hunian unik mereka. Mereka lalu berkeliling sampai ke kawasan Puncak, Bogor, Sukabumi, dan Sentul.

Di Sentul City, keduanya jatuh cinta pada klaster Northridge yang memiliki panorama indah Gunung Pancar. Akhirnya, ia membeli lahan klaster seluas 665 meter persegi itu.

Pada kesempatan lain, saat Boyke dan keluarganya tengah berjalan-jalan ke Singapura, ia terpesona dengan seekor keong bercangkang dengan sekat-sekat sebagai caranya bergerak.

"Keong jenis pomphilus notilus itu (namanya) memikat saya. Bagaimana kalau rumah saya di Sentul dibuat dengan sekat-sekat seperti rumah keong ini?" kisah Boyke.

Pada praktiknya, ide brilian "rumah keong" tersebut ternyata tidak mudah direalisasikan. Ia menuturkan, baru pada arsitek kedelapan yang dikenalnya itulah yang sanggup mengerjakan konsep "aneh" miliknya itu.

Idenya cemerlang. Tampilan fasad rumah harus melingkar seperti cangkang keong. Desain interiornya juga berkonsep futuristik, dengan warna keseluruhan didominasi hitam, putih, dan abu-abu.

"Kendalanya banyak sekali, mulai tiang pancang yang saya tidak mau berada di tengah-tengah, kendala dengan keongnya di atas rumah, sampai furnitur dan interior di dalamnya. Namun syukurlah, sebulan sebelum 25 tahun ulang tahun pernikahan, tepatnya pada 14 Desember 2010, rumah ini selesai. Inilah rumah kecintaan saya," ujarnya.


Editor :
Latief