Sabtu, 25 Oktober 2014
GREEN ARCHITECTURE
Bambu, "Teman" Alternatif Pengganti Kayu
Penulis : Natalia Ririh | Kamis, 9 Juni 2011 | 15:40 WIB
|
Share:
Green School
Salah satu bangunan bambu di Green School.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kayu mutlak dibutuhkan dalam pembangunan rumah sehingga bisa dilihat eksplorasi luar biasa, seperti penebangan pohon di hutan-hutan Kalimantan. Prihatin dengan penebangan pohon dan penggundulan hutan, arsitek Effan Adhiwira mengatakan harus ada pilihan lain untuk menyelamatkan kayu.

"Kita tahu bahwa material kayu sangat disukai, sangat laku, bahkan hutan Kalimantan sudah selesai dirambah dan akan ganti merambah hutan Papua. Ini karena ada permintaan pasar yang tinggi terhadap kayu," kata Effan dalam diskusi yang digelar oleh komunitas Green Architecture di Jakarta, akhir pekan lalu.

Effan mengatakan, pasar membutuhkan pilihan lain yang tidak kalah dengan material kayu untuk membangun rumah. Pilihan ini juga ramah lingkungan, tetapi utamanya memberikan pilihan agar dapat mengurangi produksi kayu.

"Kami mencoba menawarkan bambu sebagai alternatif pilihan material pembangun rumah," ujarnya.

Bambu memang sudah lama didengungkan sebagai material alternatif karena produksinya lebih murah. Struktur bambu juga  kuat. Namun, kurangnya sosialisasi dan bukti-bukti bahwa rumah berbahan bambu itu kuat menjadikan peminatnya  sedikit. 

Hal itu dibuktikan oleh John Hardy dengan mendirikan Green School dan hunian Green Village di Bali. Green School merupakan sekolah yang bangunannya terbuat dari bambu. Di sini, para peserta didik diajarkan cara mengenal dan menyayangi lingkungan.

Sementara Green Village adalah hunian bagi orangtua siswa tinggal di dekat sekolah. Sekolah yang sudah berdiri sejak 2008 ini memprioritaskan material alam di sekitar lingkungan sekolah menjadi bahan utamanya.

"Di sana diajarkan bahwa di alam ini tidak ada yang berwujud kotak sempurna, karenanya bangunan mengikuti dan beradaptasi terhadap apa yang sudah diberikan alam. Bangunan di Green School tidak memaksakan atau memotong pohon yang sudah ada," kata Effan.

Hasilnya, bangunan yang tercipta terlihat menakjubkan meskipun berbahan bambu. Begitu juga dengan teknik-teknik perencanaan bangunan yang dibuat secara matang dan mengutamakan unsur keselamatan komunitas di dalamnya.

"Desainnya dibuat secara bijaksana, yakni menggunakan material yang tersedia di alam, tetapi tetap berpikir kreatif untuk memaksimalkan karakteristik material itu," katanya.

Meskipun demikian, penggunaan bambu untuk membangun rumah patut memperhitungkan pemrosesan yang tepat. Sebutlah, misalnya, proses pengeringan yang sangat lama agar kekuatan bambu tahan lama dan antihama.

Kelak, dalam pemakaiannya, bambu juga tak boleh bersentuhan langsung dengan tanah. Agar semakin kuat dan memerhatikan aspek keselamatan, lanjut Effan, pemakaian bambu bisa dipadukan dengan penggunaan beton sebagai fondasi. Namun, lepas dari berbagai kekurangannya, pendekatan penggunaan bambu sebagai alternatif pendamping kayu akan mengajak masyarakat memikirkan isu-isu lokalitas.

"Material apa pun dapat dikembangkan. Proses ini sebagai salah satu pendekatan untuk membangun dunia yang berkelanjutan," katanya.


Editor :
Latief